Kisah Hikma Bangkit Lewat Salad Umma dan KUR BRI

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 30 Mei 2026 04:21 WIB 2
Kisah Hikma Bangkit Lewat Salad Umma dan KUR BRI

Hikma Nurul Audhliya, perempuan 38 tahun, membuktikan bahwa kegagalan tidak selalu menjadi akhir dari perjalanan usaha. Setelah kehilangan pekerjaan sebagai makeup artist akibat pandemi, ia bangkit dengan merintis Salad Umma, usaha kuliner sehat yang kini berkembang berkat pembiayaan Kredit Usaha Rakyat dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI.

Kisahnya berawal dari keputusan sulit saat seluruh jadwal pernikahan dibatalkan dan ia harus menutup kerugian hingga menjual sejumlah aset. Dari kondisi serba terbatas itu, Hikma justru menemukan peluang baru melalui pelatihan usaha, Kartu Prakerja, dan keberanian memulai dari dapur rumah.

Awal Bangkit dari Pandemi

Hikma sebelumnya menekuni profesi sebagai perias wajah dan menggantungkan pendapatan dari berbagai pesanan acara pernikahan. Ketika pandemi datang, seluruh agenda wedding mendadak dibatalkan dan penghasilannya terhenti. Kondisi itu membuatnya harus menjual mobil, busana, dan perlengkapan makeup untuk menutup kewajiban kepada vendor. Ia mengaku sempat pasrah karena semua pesanan hilang dalam waktu singkat.

Tekanan ekonomi pada akhir 2020 membuatnya mencari jalan keluar yang realistis. Hikma kemudian mencoba program Kartu Prakerja dan sempat gagal pada gelombang pertama. Setelah lolos di kesempatan berikutnya, ia memperoleh voucher pelatihan usaha senilai Rp1 juta. Kesempatan itu menjadi titik awal untuk memikirkan usaha baru yang bisa dijalankan dari rumah.

Awalnya, Hikma memilih kelas makeup karena berharap industri hiburan dan pernikahan segera pulih. Namun, situasi belum membaik sehingga ia beralih pada kelas usaha yang lebih praktis. Pilihannya jatuh pada salad sayur karena tidak membutuhkan kompor, minyak, maupun gas. Menurutnya, usaha tersebut sesuai dengan tren masyarakat yang mulai mencari makanan sehat.

Keputusan itu mengubah arah hidupnya secara perlahan namun pasti. Hikma mulai menyusun konsep usaha yang sederhana, hemat, dan mudah dijalankan di rumah. Ia melihat peluang dari kebutuhan pasar di sekitar tempat tinggalnya. Dari sanalah nama Salad Umma mulai dikenal sebagai produk rumahan yang segar dan praktis.

Modal Kecil dari Rumah

Hikma memulai usahanya dari dapur rumah dengan modal yang sangat terbatas. Dana yang ia terima dari Kartu Prakerja dimanfaatkan secara bertahap untuk membeli bahan baku dan peralatan dasar. Ia mengalokasikan anggaran itu untuk chopper, blender, kemasan, hingga showcase. Seluruh kebutuhan dibeli sesuai prioritas agar usaha bisa langsung berjalan.

Selain modal, lokasi usaha juga membantu penjualan Salad Umma. Tempat tinggal Hikma berada dekat kawasan indekost karyawan dan karyawati yang menjadi pasar potensial. Ia kemudian menawarkan salad sayur sebagai menu utama untuk konsumen yang ingin makan sehat dan cepat. Strategi itu membuat produknya mulai mendapat perhatian dari lingkungan sekitar.

Perkembangan usaha makin terlihat ketika ia menerima pesanan untuk acara ulang tahun pada 2022. Dari situ, Hikma menambah variasi produk dengan menghadirkan salad buah. Inovasi tersebut membuat pilihan menu semakin beragam dan menarik konsumen baru. Usaha yang semula sangat kecil mulai memiliki identitas yang lebih kuat di pasar lokal.

Meski begitu, perjalanan Salad Umma tidak selalu mulus karena penjualan sempat naik turun. Hikma tetap menjalankan promosi melalui pesanan online dan media sosial, namun hasilnya belum stabil. Ada hari ketika pendapatannya hanya Rp15 ribu, tetapi pada hari lain bisa mencapai Rp100 ribu. Pada momen tertentu, ia bahkan tidak menerima pesanan sama sekali.

Dorongan Pelatihan dan Bazar

Titik balik usaha mulai terasa ketika produk Salad Umma memperoleh sertifikasi halal. Pengakuan itu meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap kualitas produk yang dijual. Hikma juga aktif mengikuti kegiatan bazar yang difasilitasi Jakpreneur. Dari kegiatan tersebut, jejaring usahanya mulai terbentuk lebih luas.

Melalui bazar, Hikma mendapat kesempatan menjangkau pembeli baru dari berbagai kalangan. Pesanan yang masuk tidak lagi hanya dari lingkungan sekitar tempat tinggalnya. Ia mulai menerima permintaan untuk kebutuhan rapat kementerian dan pemerintah daerah. Kondisi itu menandai perubahan besar dari usaha rumahan menjadi pemasok skala yang lebih teratur.

Pendapatan hariannya pun ikut meningkat setelah jaringan pemesanan makin stabil. Dalam kondisi tertentu, omzet Salad Umma dapat mencapai Rp1 juta per hari. Angka tersebut jauh berbeda dibanding masa awal yang serba tidak pasti. Bagi Hikma, pencapaian itu menjadi bukti bahwa usaha kecil bisa berkembang jika dikelola dengan konsisten.

Pendampingan usaha juga memberi dampak penting pada cara Hikma membangun bisnis. Ia belajar bahwa pelatihan, sertifikasi, dan jejaring pasar sama pentingnya dengan modal. Setiap langkah itu saling menguatkan untuk menjaga keberlangsungan usaha. Salad Umma pun tumbuh menjadi contoh usaha kuliner sehat yang lahir dari situasi sulit.

KUR BRI Bantu Naik Kelas

Perkembangan Salad Umma tidak lepas dari dukungan pembiayaan Kredit Usaha Rakyat dari BRI. Skema pembiayaan itu membantu pelaku usaha seperti Hikma memperoleh akses modal yang lebih terjangkau. Dengan tambahan dukungan finansial, ia bisa menjaga arus produksi dan memenuhi permintaan yang meningkat. Langkah tersebut membuat usahanya lebih siap naik kelas.

Kehadiran KUR BRI juga memberi ruang bagi Hikma untuk menata usaha dengan lebih baik. Ia tidak hanya bertahan dari tekanan ekonomi, tetapi juga membangun sistem kerja yang lebih rapi. Pengelolaan bahan baku, kemasan, dan kapasitas produksi menjadi lebih terukur. Hal itu penting agar pesanan besar bisa dipenuhi tanpa mengganggu kualitas.

Di sisi lain, kisah Hikma menunjukkan bahwa akses pembiayaan perlu diiringi kesiapan belajar. Ia memanfaatkan setiap pelatihan dan kesempatan jejaring untuk memperkuat usaha. Dari gagal di gelombang awal Kartu Prakerja, ia justru menemukan jalur baru yang lebih sesuai. Proses itu memperlihatkan bahwa ketekunan sering kali menjadi modal utama dalam wirausaha.

Perjalanan Salad Umma menjadi gambaran nyata bagaimana UMKM dapat bangkit setelah terpukul pandemi. Dari kehilangan pekerjaan, menjual aset, hingga membangun usaha kuliner sehat, Hikma terus bergerak maju. Dukungan pembiayaan, pelatihan, dan sertifikasi menjadi kombinasi yang membantunya bertahan. Kini, Salad Umma tumbuh sebagai usaha rumahan yang memiliki peluang lebih besar di masa depan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!