Kisah Aisah Bangun Bisnis Jajanan Betawi

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 22 Mei 2026 13:25 WIB 6
Kisah Aisah Bangun Bisnis Jajanan Betawi

Aisah, mantan karyawan pabrik, berhasil mengubah usaha sampingan menjadi bisnis jajanan khas Betawi yang kini menghasilkan omzet jutaan rupiah per bulan. Perjalanan itu dimulai dari kebutuhan menambah penghasilan, lalu berkembang menjadi merek dagang bernama Betawi Punya Gaye atau BPG. Kisah ini menunjukkan bagaimana keberanian beradaptasi, ketekunan, dan dukungan pembinaan UMKM dapat membuka peluang baru.

Mulai berjualan pada 2018 saat masih bekerja di pabrik, Aisah awalnya menawarkan keripik pedas kepada teman kerja dan menitipkannya di warung sekitar. Saat pandemi COVID-19 membuat penjualan merosot, ia memilih beralih ke jajanan jadul khas Betawi seperti kembang goyang, biji ketapang, dan kacang bawang. Keputusan itu menjadi titik balik yang mengantar usahanya naik kelas.

Bisnis Betawi Punya Gaye

Aisah memulai usaha dari kebutuhan sederhana, yakni mencari tambahan pemasukan di luar gaji pabrik. Ia lalu membawa camilan buatannya ke tempat kerja untuk ditawarkan kepada rekan-rekan sesama karyawan. Cara tersebut membuatnya mulai mengenal pasar dan memahami selera pembeli.

Pada awal usaha, ia mampu meraup penghasilan sekitar Rp1 juta hingga Rp2 juta per bulan. Namun, kondisi berubah ketika banyak warung tutup dan penjualan keripik pedas tidak lagi stabil. Situasi itu memaksanya mencari model usaha yang lebih tahan terhadap perubahan pasar.

Alih-alih berhenti, Aisah memilih menata ulang arah bisnisnya dengan fokus pada produk yang lebih dekat dengan identitas Betawi. Ia melihat jajanan tradisional masih punya tempat di hati konsumen, terutama karena rasa nostalgia yang kuat. Dari situ, lahirlah ide untuk menjadikan camilan lokal sebagai produk utama.

Keputusan itu kemudian membentuk karakter usaha yang berbeda dari bisnis awalnya. Produk-produk seperti kembang goyang, biji ketapang, dan kacang bawang menjadi andalan penjualan. Dalam prosesnya, Aisah tidak hanya menjual makanan, tetapi juga mengangkat nilai budaya yang melekat pada produknya.

Berhenti Pabrik Demi Usaha

Setelah hampir 20 tahun bekerja di pabrik, Aisah akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri. Ia menilai fokus penuh pada usaha sendiri menjadi pilihan yang lebih realistis untuk jangka panjang. Keputusan itu diambil setelah ia merasa bisnisnya memiliki prospek yang lebih besar.

Aisah mengaku telah bekerja sejak era pemerintahan sebelum Gus Dur, sehingga masa kerjanya terbilang panjang. Pengalaman panjang di lingkungan industri memberinya disiplin dan ketekunan dalam mengelola usaha. Bekal itu kemudian ia bawa saat menekuni wirausaha secara serius.

Langkah berani tersebut juga memperlihatkan perubahan pola pikir dari pekerja menjadi pemilik usaha. Ia tidak lagi melihat camilan sebagai pekerjaan sambilan semata, melainkan sebagai sumber penghidupan utama. Dari sana, ia mulai menyusun strategi produksi dan pemasaran yang lebih terarah.

Meski meninggalkan pekerjaan tetap, Aisah tidak tampak ragu dengan pilihannya. Ia percaya usaha yang dijalankan dengan konsisten akan memberi hasil lebih baik dibanding bertahan dalam ketidakpastian. Kepercayaan itu kemudian terbukti lewat perkembangan penjualan yang terus membaik.

HAKI dan Nama Usaha

Pada 2020, Aisah mulai lebih serius menekuni usaha dengan bergabung ke program Jakpreneur. Ia juga memanfaatkan waktu luang untuk mengikuti bimbingan teknis pembuatan Hak Kekayaan Intelektual atau HAKI dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Langkah ini menjadi bagian penting untuk memperkuat identitas usaha.

Awalnya, merek yang digunakan adalah Camilan 19. Namun, nama tersebut dinilai terlalu umum dan pasaran, sehingga Aisah diarahkan mencari identitas baru. Dari proses itu, lahirlah nama Betawi Punya Gaye yang kini menjadi merek dagangnya.

Pemilihan nama baru bukan hanya soal branding, tetapi juga penegasan karakter produk. Nama tersebut memberi kesan khas, lokal, dan mudah diingat oleh konsumen. Dengan identitas yang lebih kuat, usahanya tampil lebih profesional di mata pasar.

Pengurusan HAKI juga memberi perlindungan bagi merek yang dibangun dengan susah payah. Dalam dunia usaha, langkah ini penting agar produk tidak mudah ditiru dan memiliki nilai jual lebih tinggi. Bagi Aisah, legalitas menjadi bagian dari proses naik kelas sebagai pelaku UMKM.

Jajanan Betawi Naik Kelas

Setelah mendapatkan nama merek yang tepat, Aisah fokus mengembangkan produk berbasis jajanan tradisional Betawi. Ia memproduksi kembang goyang, biji ketapang, hingga kacang bawang dengan resep yang ia racik sendiri. Proses itu dijalani secara autodidak sampai rasa produknya dianggap pas.

Aisah mengaku memiliki dasar membuat kue sejak kecil karena sering membantu orang tua di dapur. Pengalaman itu menjadi modal awal dalam mengolah bahan, mengatur rasa, dan menjaga kualitas produk. Dari kebiasaan sederhana tersebut, ia mampu membangun usaha yang memiliki daya saing.

Perjalanan bisnisnya juga memperlihatkan pentingnya ketekunan dalam menghadapi perubahan pasar. Saat satu produk melemah, ia cepat beradaptasi dan mencari peluang lain yang lebih sesuai dengan kondisi. Sikap adaptif itulah yang membuat usahanya terus bertahan.

Di tengah dukungan pembinaan dari Rumah BUMN BRI, Aisah kini berada di jalur yang lebih matang sebagai pelaku usaha. Usaha yang bermula dari kerja sampingan kini berkembang menjadi produk khas yang punya cerita dan identitas kuat. Kisahnya menjadi contoh bahwa usaha kecil dapat tumbuh besar bila dikelola dengan konsisten, kreatif, dan berani berubah.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!