Keripik Singkong Difabel Sukabumi Tembus Pasar Brunei

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 21 Mei 2026 17:11 WIB 7
Keripik Singkong Difabel Sukabumi Tembus Pasar Brunei

Keripik singkong buatan tangan dari Sukabumi kini resmi menembus pasar luar negeri setelah produk Yammy Babeh milik PT Gemilang Agro Inovasi melakukan ekspor perdana ke Brunei Darussalam. Pengiriman senilai USD 18.000 atau sekitar Rp 288 juta itu menjadi tonggak penting bagi usaha mikro yang dibangun oleh Ade Soelistyowati, penyandang disabilitas tuna rungu.

Ekspor perdana satu kontainer berukuran 20 kaki tersebut dilepas secara simbolis di Gedung Juang 45 Sukabumi, Jawa Barat, pada hari ini. Acara itu dihadiri Menteri UMKM RI Maman Abdurrahman, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi, serta Bupati Sukabumi Ayep Zaki.

Ekspor perdana ke Brunei

PT Gemilang Agro Inovasi mengirimkan produk Cassava Crackers Yammy Babeh sebagai komoditas utama dalam ekspor perdana tersebut. Produk olahan singkong lokal ini diposisikan sebagai camilan berkualitas yang sudah disesuaikan dengan standar pasar global.

Nilai ekspor mencapai USD 18.000 untuk satu kontainer 20 kaki. Transaksi ini menandai langkah awal kerja sama berkelanjutan dengan perusahaan asal Brunei, SP Setia SDN BHD.

Pelepasan ekspor dilakukan di Sukabumi dengan dukungan sejumlah pejabat pusat dan daerah. Kehadiran para undangan menunjukkan perhatian pemerintah terhadap penguatan UMKM berbasis produk lokal.

Keberhasilan ini menjadi sinyal bahwa produk pangan rumahan pun dapat bersaing di pasar internasional. Dengan pengemasan modern dan proses higienis, Yammy Babeh dinilai siap mengikuti kebutuhan konsumen luar negeri.

Usaha dari keterbatasan

Usaha ini didirikan oleh Ade Soelistyowati, seorang penyandang disabilitas tuna rungu yang terus membangun bisnis bersama keluarganya. Di tengah keterbatasan, ia tetap menjaga kualitas produksi dan memperluas jaringan pemasaran.

Ade menjalankan usaha bersama suaminya yang tengah berjuang melawan sakit stroke. Kondisi tersebut tidak menghentikan keduanya untuk mempertahankan usaha dan membuka peluang kerja bagi warga sekitar.

Saat ini, PT Gemilang Agro Inovasi mempekerjakan 10 karyawan tetap. Selain itu, perusahaan juga menampung 25 siswa magang dari SMA Hassina Sukabumi.

Model usaha yang dijalankan menunjukkan bahwa UMKM dapat tumbuh melalui ketekunan dan pemberdayaan. Dari skala lokal, perusahaan ini perlahan membangun reputasi sebagai produsen camilan yang berdaya saing.

Dukungan pemerintah dan mitra

Menteri UMKM Maman Abdurrahman mengapresiasi capaian ekspor perdana tersebut. Ia menilai keberhasilan Ade membuktikan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, BUMN, dan sektor swasta.

Menurut Maman, kolaborasi lintas pihak menjadi kunci untuk memperkuat daya saing pelaku usaha mikro. Pemerintah, kata dia, perlu hadir agar UMKM mampu naik kelas dan memasuki pasar global.

Maman juga menegaskan bahwa pemerintah akan memberi perhatian lebih kepada pelaku usaha disabilitas. Atas arahan Presiden Prabowo, kelompok ini akan diprioritaskan dalam pembinaan, pelatihan, dan penguatan kapasitas.

Langkah tersebut diharapkan membuat pelaku usaha disabilitas semakin berdaya saing. Dalam jangka panjang, kebijakan itu juga membuka lebih banyak ruang bagi UMKM inklusif di berbagai daerah.

Jejak ekspor berkelanjutan

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Fadjar Djoko Santoso, menilai ekspor Yammy Babeh sejalan dengan dorongan agar wirausaha lokal menembus pasar dunia. Menurut dia, capaian ini memperlihatkan bahwa inovasi dan keberlanjutan bisa berjalan bersama.

Pertamina menilai setiap individu memiliki potensi besar untuk berkontribusi pada ekonomi bangsa. Karena itu, keberhasilan UMKM binaan seperti PT Gemilang Agro Inovasi dianggap penting dalam mendorong semangat inklusivitas.

Fadjar menyebut hingga Oktober 2025 sudah ada delapan UMKM yang berhasil menembus pasar ekspor secara berkelanjutan. Sejak awal tahun 2025, Pertamina juga telah mengantarkan delapan UMKM binaan melakukan ekspor ke berbagai negara.

Dukungan berkelanjutan itu diharapkan memberi nilai tambah bagi produk lokal sekaligus menciptakan dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat. Bagi Yammy Babeh, ekspor ke Brunei menjadi pintu awal untuk memperluas jangkauan ke pasar internasional lainnya.

Potensi produk lokal

Keberhasilan Yammy Babeh memperlihatkan bahwa produk berbasis singkong lokal dapat bersaing jika dikelola dengan standar yang tepat. Pengolahan higienis, kemasan modern, dan konsistensi kualitas menjadi modal penting dalam penetrasi pasar luar negeri.

Selain keripik singkong, Ade juga mengembangkan produk turunan mangrove seperti kapsul, teh, dan bubuk. Produk tersebut kini mulai dipasarkan ke Korea Selatan, menandakan diversifikasi usaha yang terus berkembang.

Langkah ekspor ini memberi contoh bahwa UMKM tidak hanya bergantung pada pasar domestik. Dengan pendampingan yang tepat, pelaku usaha kecil dapat menjangkau konsumen lintas negara dan memperkuat brand produk Indonesia.

Momentum ini sekaligus menegaskan pentingnya ekosistem pembinaan yang inklusif dan berkelanjutan. Dari Sukabumi, kisah Yammy Babeh menjadi bukti bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berprestasi.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!