Kebutuhan Energi BTS Berbeda Tiap Wilayah

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 29 Mei 2026 06:22 WIB 4
Kebutuhan Energi BTS Berbeda Tiap Wilayah

Kebutuhan energi Base Transceiver Station atau BTS di Indonesia tidak bisa disamaratakan, karena tiap wilayah memiliki karakteristik jaringan, kontur, dan kebutuhan layanan yang berbeda. Peneliti Ahli Muda Kelompok Riset Communication and Signal Processing BRIN, Dr Moch Mardi Marta Dinata, menjelaskan hal itu dalam webinar bertema kajian kebutuhan energi jaringan telekomunikasi seluler di Indonesia, Rabu (20/5/2026).

Menurut dia, perbedaan pemasangan BTS di Pulau Jawa dan daerah lain sangat dipengaruhi oleh target cakupan, tipe site, serta kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat. Dalam penelitiannya, Dr Mardi menemukan konsumsi energi BTS terus meningkat seiring dominasi jaringan 4G, sementara implementasi 5G masih terbatas di banyak wilayah.

Kebutuhan Energi BTS

Dr Mardi menjelaskan bahwa operator telekomunikasi harus menyesuaikan desain BTS dengan kebutuhan coverage di tiap daerah. Penyesuaian itu penting karena kontur wilayah, kepadatan penduduk, dan pola penggunaan layanan tidak selalu sama. Jika pendekatan yang digunakan seragam, konsumsi energi dapat menjadi jauh lebih tinggi dari yang semestinya.

Ia mencontohkan, kebutuhan energi operasional Telkomsel pada 2023 hampir mencapai 90 persen dari total konsumsi tahunan perusahaan. Kondisi itu menunjukkan bahwa BTS menjadi salah satu sumber beban energi terbesar dalam operasi jaringan seluler. Tren ini juga diperkirakan terus berlanjut selama jaringan 4G masih mendominasi layanan di Indonesia.

Dalam paparannya, Dr Mardi menegaskan bahwa karakter wilayah ikut menentukan jumlah dan jenis BTS yang dipasang. Operator harus memperhitungkan apakah suatu area membutuhkan Pico, Mikro, Indoor Base Station, Makro, atau Makro Hub. Setiap pilihan memiliki konsekuensi berbeda terhadap kebutuhan daya listrik dan efisiensi jaringan.

Ia menilai, ketidaktepatan penyesuaian jaringan dapat membuat konsumsi energi membengkak tanpa menghasilkan peningkatan layanan yang sepadan. Karena itu, analisis kebutuhan BTS perlu dilakukan sejak tahap perencanaan, bukan hanya saat pengembangan jaringan berjalan. Menurut dia, efisiensi energi menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan industri telekomunikasi.

Data Site Penelitian

Penelitian Dr Mardi menggunakan data dari salah satu operator telekomunikasi di Indonesia. Data itu mencakup sekitar 8.500 BTS sites yang tersebar di 20 kabupaten dan kota di tiga provinsi, yakni Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. Dari sampel tersebut, hampir 78 persen di antaranya merupakan site makro.

Komposisi itu menunjukkan bahwa kebutuhan jaringan di wilayah padat penduduk cenderung lebih besar dan kompleks. Site makro umumnya dipakai untuk melayani area cakupan yang luas dengan beban trafik tinggi. Karena itu, proporsi tipe BTS menjadi variabel penting dalam penghitungan kebutuhan energi.

Dr Mardi menyampaikan bahwa data lapangan semacam ini sangat membantu dalam memetakan pola konsumsi energi jaringan seluler. Dengan memahami struktur BTS di tiap wilayah, operator dapat membuat model yang lebih akurat dan efisien. Hasilnya diharapkan tidak hanya menekan biaya, tetapi juga meningkatkan ketepatan perencanaan infrastruktur.

Ia menambahkan, profil masyarakat di satu daerah tidak bisa disamakan dengan daerah lain. Sebagai contoh, karakter pengguna di Kalimantan dan Papua berbeda dengan Jakarta, baik dari sisi kepadatan maupun kebutuhan layanan digital. Perbedaan itu harus tercermin dalam desain dan pengoperasian BTS.

Faktor Sosioekonomi

Dalam risetnya, Dr Mardi juga memasukkan faktor sosioekonomi sebagai variabel penting. Ada tiga indikator yang dipakai, yaitu population density, development index, dan digital society index. Ketiga indikator tersebut digunakan untuk memvalidasi model kebutuhan energi BTS di lapangan.

Menurut dia, pendekatan tersebut diperlukan agar pemodelan benar-benar mencerminkan kondisi nyata di Indonesia. Jika faktor sosial ekonomi diabaikan, hasil analisis berisiko tidak akurat dan sulit diterapkan dalam perencanaan jaringan. Hal ini terutama penting untuk wilayah dengan karakter penduduk dan tingkat adopsi digital yang berbeda-beda.

Ia menegaskan bahwa kebutuhan BTS di daerah padat penduduk tentu tidak sama dengan wilayah yang lebih renggang. Pulau Jawa, misalnya, memiliki tuntutan cakupan dan kapasitas yang jauh lebih besar dibandingkan banyak daerah lain. Karena itu, perhitungan energi harus mengikuti kebutuhan nyata di masing-masing wilayah.

Dengan menyesuaikan variabel sosial ekonomi, operator dapat menyusun strategi jaringan yang lebih efisien dan berkelanjutan. Pendekatan ini juga membantu mengurangi pemborosan energi pada site yang tidak memerlukan kapasitas berlebih. Dalam jangka panjang, efisiensi tersebut dapat mendukung kualitas layanan sekaligus penghematan biaya operasional.

Implikasi Untuk Operator

Temuan BRIN memberi sinyal bahwa perencanaan BTS perlu dilakukan secara lebih spesifik per wilayah. Operator tidak cukup hanya menambah site, tetapi juga harus menghitung beban energi, kepadatan trafik, dan karakter geografis. Dengan begitu, pembangunan jaringan dapat berjalan lebih tepat sasaran.

Pemisahan kebutuhan antara daerah perkotaan dan wilayah lain menjadi kunci dalam optimalisasi jaringan seluler. Kota besar seperti Jakarta membutuhkan pendekatan berbeda dibandingkan daerah dengan sebaran penduduk rendah. Perbedaan ini berdampak langsung pada jumlah BTS, jenis site, dan konsumsi energi.

Di sisi lain, kebutuhan listrik yang besar juga menuntut operator untuk mencari solusi efisiensi yang lebih inovatif. Pengelolaan daya pada BTS, pemilihan tipe site, serta penyesuaian kapasitas jaringan menjadi langkah yang semakin penting. Tanpa strategi yang tepat, biaya operasional dapat terus meningkat seiring pertumbuhan trafik data.

Penjelasan Dr Mardi menegaskan bahwa pengembangan jaringan telekomunikasi di Indonesia harus mempertimbangkan kondisi lokal secara menyeluruh. Faktor teknis, geografis, dan sosial ekonomi saling terkait dalam menentukan kebutuhan energi BTS. Karena itu, pendekatan satu rumus untuk semua wilayah dinilai tidak lagi relevan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!