Ubi Ungu Jadi Pilihan Sehat di Tengah Tren Olahan Viral

Lifestyle Clara Monica 31 Mei 2026 00:55 WIB 3
Ubi Ungu Jadi Pilihan Sehat di Tengah Tren Olahan Viral

Olahan ubi kembali mencuri perhatian di media sosial, mulai dari ubi panggang hingga ubi dengan kreasi cream cheese dan aneka topping kekinian. Di tengah tren tersebut, dokter gizi menyarankan masyarakat untuk lebih cermat memilih jenis ubi, dengan ubi ungu sebagai salah satu opsi yang dinilai paling bermanfaat bagi kesehatan.

Dokter spesialis gizi klinik dr Tjandraningrum, SpGK, menyebut ubi ungu memiliki kandungan antosianin yang cukup tinggi. Zat warna alami ini memberi warna ungu pada ubi, sekaligus dikenal memiliki aktivitas antioksidan dan anti-inflamasi.

Ubi Ungu dan Kandungan Gizi

Menurut dr Tjandra, ubi ungu menjadi jenis ubi yang direkomendasikan karena kandungan antosianinnya lebih menonjol dibanding sejumlah varietas lain. Antosianin merupakan pigmen alami yang juga banyak ditemukan pada buah seperti blueberry dan anggur ungu. Senyawa ini termasuk kelompok flavonoid dan polifenol yang memiliki potensi mendukung kesehatan tubuh.

Dalam penjelasan yang disampaikan kepada detikcom pada Kamis, 14 Mei 2026, antosianin disebut memiliki sifat anti-peradangan. Kandungan tersebut membuat ubi ungu dipandang lebih bernilai sebagai bahan pangan fungsional. Selain memberi warna menarik, ubi ungu juga membawa manfaat gizi yang tidak dimiliki semua jenis olahan manis lainnya.

Ubi ungu dapat menjadi pilihan yang tepat bagi masyarakat yang ingin menikmati camilan sehat tanpa meninggalkan cita rasa. Pengolahannya pun relatif fleksibel, sehingga bisa disajikan dengan cara sederhana maupun dipadukan dalam menu modern. Namun, nilai gizinya tetap bergantung pada cara penyajian dan bahan tambahan yang digunakan.

Antosianin dan Manfaat Kesehatan

Sejumlah studi menunjukkan kandungan antosianin pada ubi ungu dapat mencapai sekitar 218 hingga 244 mg per 100 gram, bergantung pada varietas dan metode pengolahan. Temuan itu tercantum dalam ulasan yang dipublikasikan di jurnal Molecules pada 2019. Angka tersebut memperkuat posisi ubi ungu sebagai sumber antosianin yang cukup potensial.

Antosianin juga dikaitkan dengan aktivitas antioksidan yang membantu melawan stres oksidatif di dalam tubuh. Selain itu, senyawa ini memiliki keterkaitan dengan efek anti-peradangan yang dinilai penting untuk menjaga kesehatan jangka panjang. Karena itu, ubi ungu kerap dianggap lebih unggul dibanding olahan umbi lain yang minim senyawa bioaktif.

Manfaat tersebut membuat ubi ungu menarik bagi masyarakat yang ingin menjaga pola makan lebih seimbang. Pemilihan bahan pangan dengan kandungan antioksidan dapat menjadi bagian dari upaya pencegahan berbagai masalah kesehatan. Meski demikian, konsumsi tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi tubuh masing-masing.

Relevan bagi Risiko Penyakit

Dr Tjandra menjelaskan, kandungan antosianin dalam ubi ungu dapat bermanfaat bagi orang yang berisiko mengalami penyakit tidak menular. Kelompok tersebut mencakup penderita atau kelompok rentan diabetes, hipertensi, dan gangguan metabolik lain. Dengan demikian, ubi ungu dapat menjadi opsi yang lebih bijak dalam menu harian.

Meski begitu, ia menekankan bahwa manfaat tersebut bukan berarti ubi ungu dapat menjadi pengganti pengobatan. Pola makan sehat tetap harus diiringi gaya hidup seimbang, termasuk aktivitas fisik yang cukup. Pilihan pangan yang baik akan memberikan hasil lebih optimal bila didukung kebiasaan hidup yang tepat.

Ubi ungu juga memiliki keunggulan karena mudah diolah menjadi berbagai menu tanpa perlu proses rumit. Hal ini membuatnya relevan untuk dikonsumsi oleh keluarga maupun individu yang ingin mengatur pola makan lebih sehat. Namun, pengolahan sederhana tetap menjadi pilihan yang paling disarankan agar kandungan gizinya tidak banyak berubah.

Waspadai Topping Berlebihan

Di balik popularitasnya, manfaat ubi ungu bisa menurun jika ditambah topping tinggi gula dan lemak jenuh secara berlebihan. Krim manis, keju olahan, saus kental, atau taburan gula berlebih dapat mengubah camilan sehat menjadi sajian tinggi kalori. Karena itu, cara penyajian perlu diperhatikan sebelum mengonsumsinya secara rutin.

Dr Tjandra mengingatkan masyarakat untuk tetap bijak dalam memilih tambahan topping maupun porsi. Ia menilai, olahan ubi yang viral tetap dapat dinikmati selama tidak berlebihan. Prinsip utamanya adalah menyeimbangkan rasa, porsi, dan kandungan gizi dalam satu sajian.

Jika ingin mendapatkan manfaat maksimal, ubi ungu sebaiknya disajikan secara sederhana atau dengan tambahan yang lebih sehat. Pilihan seperti sedikit yogurt, kacang, atau bahan alami lain dapat menjadi alternatif yang lebih baik. Dengan cara itu, ubi ungu tetap nikmat sekaligus lebih mendukung kesehatan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!