Kainnesia Tembus Pasar Malaysia, Tenun UMKM Naik Kelas

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 25 Mei 2026 09:17 WIB 4
Kainnesia Tembus Pasar Malaysia, Tenun UMKM Naik Kelas

Produk UMKM Indonesia kembali menunjukkan daya saingnya di pasar global setelah Kainnesia, pemenang Pertapreneur Aggregator 2024, menerima pesanan sarung tenun dari Malaysia senilai US$ 50 ribu atau sekitar Rp 800 juta. Capaian ini menjadi bukti bahwa produk berbasis warisan budaya dapat bersaing di luar negeri, sekaligus memberi dampak langsung bagi para penenun dan pelaku UMKM binaan.

Keberhasilan tersebut tidak lepas dari program Pertapreneur Aggregator yang dijalankan sejak 2022 dan melibatkan ratusan UMKM di berbagai daerah. Melalui dukungan teknis, manajerial, hingga akses pasar, Kainnesia mampu memperluas jangkauan bisnisnya dan membawa tenun nusantara menembus pasar internasional.

Kainnesia Dorong Tenun Go Global

Pendiri sekaligus Chief Executive Officer Kainnesia, Nur Salam, menyampaikan bahwa pertumbuhan usaha yang diraih tidak hanya dirasakan perusahaan. Dampaknya juga mengalir ke 37 UMKM mitra yang kini menggerakkan lebih dari 400 tenaga kerja. Kondisi ini menunjukkan bahwa model agregator dapat memperkuat rantai ekonomi di tingkat lokal.

Nur menjelaskan bahwa program Pertapreneur Aggregator membantu pelaku usaha binaan berkembang secara berkelanjutan. Menurut dia, peningkatan kapasitas produksi dan perluasan pasar menjadi kunci agar UMKM tidak berhenti pada pasar domestik. Dengan begitu, pertumbuhan usaha dapat menjangkau lebih banyak keluarga pekerja.

“Semua ini menjadi bukti nyata bahwa program Pertapreneur Aggregator berhasil mendorong pertumbuhan yang menyeluruh dan berkelanjutan,” ujar Nur dalam kunjungan Sustainability Implementation & Monitoring Pertapreneur Aggregator di Yogyakarta, Senin, 15 September. Ia menegaskan bahwa Kainnesia ingin menjadi penghubung antara pengrajin, pasar, dan konsumen global. Langkah itu dinilai penting agar tenun tetap punya nilai ekonomi yang kuat.

Menurut Nur, tenun bukan sekadar kain, melainkan warisan budaya yang harus terus dikembangkan agar relevan dengan zaman. Karena itu, Kainnesia mendorong anak muda melihat tenun sebagai produk yang modern dan bernilai jual tinggi. Pendekatan tersebut diyakini dapat menjaga keberlanjutan industri tenun di masa depan.

Pesanan Malaysia Jadi Pintu Baru

Pesanan sarung tenun dari Malaysia menjadi salah satu pencapaian paling menonjol bagi Kainnesia. Nilainya mencapai US$ 50 ribu atau sekitar Rp 800 juta, yang menunjukkan tingginya minat pasar luar negeri terhadap produk UMKM Indonesia. Transaksi ini juga membuka peluang kerja sama lanjutan dengan buyer internasional.

Produk Kainnesia sebelumnya telah tampil di sejumlah ajang bergengsi, termasuk Osaka World Expo Japan 2025, Korea Import Fair di Seoul, Jogja Fashion Week 2025, dan Inacraft 2025. Dari rangkaian pameran itu, Kainnesia berkesempatan bertemu calon pembeli dari Jepang, Australia, hingga Malaysia. Keterlibatan dalam event internasional menjadi strategi penting untuk memperluas jejaring bisnis.

Partisipasi dalam pameran tersebut juga memperkuat citra tenun Indonesia sebagai produk kreatif yang memiliki nilai budaya dan ekonomi. Di sisi lain, kehadiran di panggung global membantu UMKM memahami standar pasar ekspor. Hal ini menjadi modal penting untuk menjaga konsistensi kualitas produk.

Dengan semakin banyaknya permintaan dari luar negeri, Kainnesia memiliki peluang memperbesar skala produksi bersama mitra binaannya. Dampaknya bukan hanya peningkatan pendapatan, tetapi juga penyerapan tenaga kerja di daerah. Situasi ini memperlihatkan bahwa ekspor dapat menjadi motor penggerak ekonomi berbasis komunitas.

Pertapreneur Perkuat UMKM Binaan

Vice President CSR & SMEPP Pertamina, Rudi Ariffianto, menilai kehadiran Kainnesia merupakan contoh nyata tujuan program Pertapreneur Aggregator. Menurut dia, pendekatan agregator membuat UMKM kecil memiliki akses yang lebih baik ke pasar dan pendampingan usaha. Skema ini juga membantu pelaku usaha naik kelas secara bertahap.

Rudi menyebut, semakin banyak UMKM aggregator, semakin besar pula jumlah UMKM yang dapat berkembang, membuka lapangan kerja, dan menggerakkan ekonomi lokal. Ia menilai dampak seperti ini penting karena pertumbuhan usaha tidak berhenti pada satu perusahaan saja. Efek berantai terhadap komunitas menjadi nilai tambah utama dari program tersebut.

“Kami berharap UMKM binaan Kainnesia dapat menjadi tentakel ekonomi yang menciptakan value lebih besar,” kata Rudi. Ia menegaskan bahwa program ini dirancang agar pelaku usaha tidak hanya bertahan, tetapi juga tumbuh lebih kompetitif. Dengan dukungan yang tepat, UMKM dapat menjadi penggerak ekonomi daerah.

Rudi juga menyoroti bahwa keberhasilan binaan Pertapreneur dapat menjadi inspirasi bagi UMKM lain di berbagai sektor. Model kolaborasi antara perusahaan, komunitas, dan pasar dinilai efektif untuk memperluas manfaat ekonomi. Karena itu, kesinambungan pendampingan menjadi faktor penting agar hasilnya tidak berhenti pada pencapaian sesaat.

Dampak Ekonomi Lokal Menguat

Program Pertapreneur Aggregator telah melibatkan ratusan UMKM sejak diluncurkan pada 2022. Melalui program ini, peserta memperoleh dukungan teknis, manajerial, dan akses pasar yang lebih luas. Pendekatan tersebut membantu UMKM meningkatkan kapasitas bisnis secara lebih terukur.

Keterlibatan 37 UMKM mitra Kainnesia dengan lebih dari 400 tenaga kerja menunjukkan dampak langsung pada ekonomi daerah. Aktivitas produksi yang meningkat berarti peluang pendapatan bagi penenun, perajin, dan pekerja pendukung lainnya. Di saat yang sama, rantai pasok lokal ikut bergerak lebih aktif.

Keberhasilan menembus pasar Malaysia juga memperlihatkan bahwa produk tradisional bisa memiliki posisi kuat di pasar modern. Dengan pengemasan, kualitas, dan strategi pemasaran yang tepat, tenun dapat bersaing di tingkat internasional. Kondisi ini membuka ruang lebih besar bagi UMKM untuk menjangkau pembeli baru.

Ke depan, kolaborasi antara pendampingan usaha dan perluasan pasar akan menjadi kunci agar UMKM terus naik kelas. Kainnesia menjadi contoh bahwa warisan budaya dapat diolah menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan. Dari tenun, tumbuh harapan baru bagi ekonomi lokal dan daya saing Indonesia di pasar global.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!