Kainnesia Dorong Tenun UMKM Tembus Pasar Internasional

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 02 Juni 2026 05:14 WIB 3
Kainnesia Dorong Tenun UMKM Tembus Pasar Internasional

Produk UMKM Indonesia kembali menunjukkan daya saing di pasar luar negeri setelah sarung tenun karya Kainnesia, pemenang Pertapreneur Aggregator 2024, dipesan oleh buyer asal Malaysia senilai US$ 50 ribu atau sekitar Rp 800 juta. Keberhasilan ini menegaskan bahwa produk berbasis budaya lokal dapat tumbuh menjadi komoditas ekspor yang bernilai tinggi.

Kainnesia, atau Kain Tenun Indonesia, berhasil menggandeng ratusan penenun dari berbagai daerah dan membawa tenun nusantara masuk ke pasar internasional. Pertumbuhan usaha ini juga mengalir ke UMKM binaan lain, seiring dukungan program Pertapreneur Aggregator yang memperluas akses pasar, kapasitas produksi, dan serapan tenaga kerja.

UMKM Tenun Menembus Pasar

Pendiri sekaligus Chief Executive Officer Kainnesia, Nur Salam, menyebut capaian tersebut sebagai bukti bahwa produk UMKM lokal memiliki peluang besar di pasar global. Pesanan dari Malaysia menjadi salah satu indikator bahwa tenun Indonesia tidak hanya bernilai budaya, tetapi juga kompetitif secara bisnis.

Menurut Nur Salam, Kainnesia memanfaatkan momentum dari berbagai pameran dan ajang dagang internasional untuk memperluas jejaring pembeli. Sejumlah kegiatan seperti Osaka World Expo Japan 2025, Korea Import Fair di Seoul, Jogja Fashion Week 2025, dan Inacraft 2025 menjadi pintu masuk bagi pertemuan dengan buyer dari Jepang, Australia, hingga Malaysia.

Ia menegaskan bahwa tenun bukan sekadar kain, melainkan warisan budaya yang perlu terus dikembangkan agar tetap relevan dengan zaman. Karena itu, Kainnesia berupaya membuat generasi muda melihat tenun sebagai produk yang memiliki nilai ekonomi, identitas, dan masa depan.

Dampak Nyata bagi Penenun

Melalui program Pertapreneur Aggregator, pertumbuhan Kainnesia tidak hanya dirasakan oleh perusahaan, tetapi juga oleh para mitra binaan yang terlibat di dalam ekosistemnya. Saat ini, total tenaga kerja dari 37 UMKM mitra telah mencapai lebih dari 400 orang.

Nur Salam menyampaikan bahwa capaian tersebut menunjukkan model pengembangan usaha yang berkelanjutan dapat menciptakan efek berantai bagi ekonomi lokal. Setiap kenaikan kapasitas produksi ikut membuka peluang kerja baru dan memperluas kontribusi UMKM terhadap pendapatan masyarakat.

Ia menilai dukungan akses pasar, pendampingan teknis, dan penguatan manajerial menjadi faktor penting dalam mendorong UMKM naik kelas. Dengan pendekatan tersebut, mitra binaan tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu berkembang mengikuti permintaan pasar yang semakin kompetitif.

Pertamina Perkuat Ekosistem

Vice President CSR & SMEPP Pertamina, Rudi Ariffianto, menilai kehadiran Kainnesia menjadi contoh nyata tujuan program Pertapreneur Aggregator. Program itu dirancang untuk membantu UMKM tumbuh lebih terstruktur, terhubung, dan memiliki daya saing yang lebih kuat.

Rudi menjelaskan bahwa semakin banyak UMKM aggregator, semakin besar pula peluang UMKM lain untuk naik kelas. Menurut dia, model ini dapat membuka lapangan kerja, memperkuat rantai pasok lokal, dan mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah.

Pertamina berharap UMKM binaan Kainnesia mampu menjadi penggerak ekonomi yang menciptakan nilai tambah lebih besar. Dengan demikian, manfaat program tidak hanya berhenti pada peningkatan penjualan, tetapi juga pada penguatan struktur ekonomi masyarakat.

Program Dorong Akses Pasar

Program Pertapreneur Aggregator sendiri telah melibatkan ratusan UMKM sejak diluncurkan pada 2022. Melalui program ini, pelaku usaha mendapat dukungan teknis, pendampingan manajerial, serta akses yang lebih luas ke pasar nasional dan internasional.

Pendekatan tersebut membuat UMKM memiliki ruang untuk meningkatkan kualitas produk, memperbaiki tata kelola, dan memperluas jaringan bisnis. Dalam praktiknya, pendampingan yang konsisten menjadi faktor penentu agar produk lokal mampu memenuhi standar buyer mancanegara.

Kisah Kainnesia memperlihatkan bahwa kolaborasi antara perusahaan, UMKM, dan pasar dapat menghasilkan pertumbuhan yang saling menguatkan. Di tengah meningkatnya perhatian terhadap produk berkelanjutan dan berbasis budaya, tenun Indonesia memiliki peluang besar untuk terus berkembang di pasar global.

Tag Terkait
#UMKM#tenun#ekspor

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!