Jessica Iskandar Ungkap Fase Kelam dan Pemulihan Diri

Lifestyle Anindya Kirana Putri 28 Mei 2026 19:48 WIB 3
Jessica Iskandar Ungkap Fase Kelam dan Pemulihan Diri

Jessica Iskandar akhirnya buka suara mengenai fase hidup paling kelam yang pernah dialaminya, saat ia kehilangan arah hingga mengalami mental breakdown. Pengakuan itu disampaikan dalam acara SOS: Strength of Sensitivity bersama AVEENO di Grand Indonesia, Jakarta Pusat, pada Jumat, 17 April 2026.

Di balik citra ceria yang selama ini terlihat di hadapan publik, Jessica ternyata pernah berada di titik terendah dan merasa kehilangan diri sendiri. Ia mengungkap bahwa tekanan dari luar, pengalaman hidup yang berat, serta penilaian orang lain membuat kondisi mentalnya semakin terpuruk.

Kesehatan Mental Jessica

Jessica Iskandar mengaku fase paling gelap dalam hidupnya bukan sesuatu yang mudah untuk diceritakan. Ia menyebut pernah berada di titik terendah, kehilangan arah, dan merasa tidak mengenali dirinya sendiri. Pengalaman itu, menurutnya, datang bersamaan dengan tekanan yang terus berdatangan dari luar. Kondisi tersebut membuat kesehatan mentalnya sempat terguncang cukup dalam.

Artis berusia 38 tahun itu menuturkan, dirinya kerap merasa dihakimi sebelum sempat memaafkan diri sendiri. Bisikan-bisikan dari lingkungan sekitar, menurut Jessica, ikut memperburuk keadaan yang sedang ia hadapi. Situasi itu membuat beban emosional yang ia simpan menjadi semakin berat. Ia pun menyadari bahwa luka batin tidak selalu tampak dari luar.

Publik selama ini mungkin melihat Jessica sebagai sosok yang kuat dan selalu ceria. Namun di balik itu, ia menyimpan banyak pengalaman sulit, termasuk perceraian, kegagalan membangun rumah tangga, hingga kasus penipuan bernilai miliaran rupiah. Rangkaian peristiwa tersebut menjadi bagian dari tekanan yang memengaruhi kondisi psikologisnya. Dari pengalaman itu, ia belajar bahwa kesehatan mental perlu dijaga dengan sungguh-sungguh.

Cara Pulih dari Tekanan

Jessica kini memilih untuk lebih terbuka terhadap perasaannya dan tidak memendam semuanya sendiri. Ia menilai, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mendekatkan diri kepada Tuhan dan pencipta. Baginya, keimanan menjadi pijakan penting untuk kembali menemukan ketenangan. Dari situ, ia mulai melihat hidup dengan cara yang lebih jernih.

Langkah kedua yang ia tekankan adalah mencari tempat aman untuk bercerita. Jessica percaya, berbagi beban dengan orang yang dipercaya dapat membuat hati terasa lebih ringan. Ia menilai, masalah yang disimpan terlalu lama justru berpotensi menekan diri sendiri. Sebaliknya, keterbukaan dapat membantu proses pemulihan secara perlahan.

Menurut Jessica, setiap orang membutuhkan ruang yang membuatnya merasa diterima tanpa dihakimi. Dalam ruang seperti itu, seseorang bisa lebih jujur terhadap rasa sakit yang dialami. Ia pun mengakui bahwa berbagi pengalaman pribadi tidak selalu mudah, tetapi sangat berarti bagi proses penyembuhan. Sikap itu membuatnya lebih siap menghadapi kehidupan dengan cara yang lebih sehat.

Sensitivitas Bukan Kelemahan

Psikolog Indah Sundari Jayanti, M.Psi, menilai cara Jessica merespons sisi sensitifnya sudah tepat. Menurutnya, perempuan tidak perlu merasa malu ketika memiliki sensitivitas yang tinggi. Justru dari sana, mereka dapat mengenali emosi dan kebutuhan diri dengan lebih baik. Sensitivitas, kata dia, bisa menjadi pintu untuk memahami diri sendiri.

Indah menjelaskan bahwa kemampuan mengakui perasaan adalah langkah penting dalam menjaga kesehatan mental. Ketika perempuan berani mencari dukungan dan memiliki ruang aman untuk berekspresi, mereka akan lebih mudah pulih. Proses itu juga membantu mereka membangun ketangguhan dari pengalaman yang berat. Dalam pandangan psikologis, kekuatan tidak selalu identik dengan menahan semuanya sendiri.

Ia menambahkan, sensitivitas dapat berubah menjadi kekuatan ketika dikelola dengan tepat. Hal itu membuat seseorang lebih peka terhadap kondisi diri dan lingkungan, sekaligus lebih siap menghadapi tekanan. Karena itu, dukungan emosional dan lingkungan yang sehat menjadi sangat penting. Jessica, menurut penilaiannya, telah menunjukkan contoh keberanian dalam menghadapi kerentanan.

Pesan untuk Perempuan

Pengalaman Jessica Iskandar memberi gambaran bahwa tekanan hidup dapat dialami siapa saja, termasuk figur publik. Di balik sorotan kamera, terdapat perjuangan personal yang tidak selalu terlihat oleh masyarakat. Karena itu, kesehatan mental tidak boleh dianggap sepele. Setiap orang berhak mendapatkan dukungan saat sedang berada dalam masa sulit.

Pesan yang dibagikan Jessica juga relevan bagi banyak perempuan yang kerap merasa harus selalu kuat. Ia menunjukkan bahwa mengakui rasa sakit bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah awal untuk bangkit. Dengan terbuka, seseorang dapat menemukan pertolongan yang dibutuhkan lebih cepat. Sikap itu sekaligus mengurangi beban psikologis yang selama ini menumpuk.

Melalui pengalamannya, Jessica berharap semakin banyak perempuan berani jujur pada diri sendiri. Ia juga ingin menunjukkan bahwa pulih dari keterpurukan membutuhkan waktu, dukungan, dan keberanian untuk memulai lagi. Dalam perjalanan itu, sensitivitas justru dapat menjadi kekuatan yang menuntun seseorang menuju versi dirinya yang lebih kuat. Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa tidak ada yang salah dengan merasa rapuh, selama ada keberanian untuk bangkit.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!