Jeroan Saat Idul Adha Picu Kolesterol dan Asam Urat

Lifestyle Clara Monica 02 Juni 2026 02:02 WIB 3
Jeroan Saat Idul Adha Picu Kolesterol dan Asam Urat

Olahan jeroan seperti sate hati, gulai babat, dan paru goreng kerap menjadi hidangan favorit saat Idul Adha. Namun, makanan ini juga sering dipandang sebagai pemicu kolesterol dan asam urat yang lebih tinggi dibanding daging biasa. Dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi-hepatologi dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr Aru Ariadno, SpPD-KGEH, menegaskan bahwa jeroan memang termasuk bagian hewan yang paling berisiko. Penilaian itu terutama muncul karena kandungan purin dan lemaknya yang dapat memengaruhi metabolisme tubuh bila dikonsumsi berlebihan.

Menurut dr Aru, konsumsi daging biasa tidak otomatis berbahaya selama jumlahnya tetap wajar. Ia menjelaskan bahwa daging masih bisa dikonsumsi, meski tetap berpotensi menaikkan kolesterol dan asam urat jika porsinya terlalu besar. Risiko menjadi lebih nyata ketika masyarakat makan tanpa batas, terutama pada momen perayaan yang penuh sajian daging. Karena itu, pola makan yang terkontrol menjadi kunci agar tubuh tidak terbebani setelah Idul Adha.

Jeroan dan kolesterol

dr Aru menegaskan bahwa bagian hewan yang paling besar kontribusinya terhadap kenaikan kolesterol dan asam urat adalah jeroan. Ia menyebut organ dalam hewan sebagai sumber yang paling perlu diwaspadai karena kandungan purinnya relatif tinggi. Kondisi ini membuat jeroan lebih mudah memicu gangguan pada orang yang memiliki riwayat kolesterol tinggi atau gout. Risiko tersebut akan semakin besar bila jeroan dikonsumsi berulang dalam jumlah besar.

Penjelasan tersebut sejalan dengan temuan riset yang dimuat dalam jurnal Annals of the Rheumatic Diseases. Penelitian itu menunjukkan makanan tinggi purin dari sumber hewani dapat meningkatkan risiko serangan gout berulang hingga hampir lima kali lipat. Dalam analisisnya, peneliti juga memasukkan organ meats atau jeroan ke dalam kelompok makanan tinggi purin. Hasil itu memperkuat anjuran agar konsumsi jeroan dilakukan dengan sangat hati-hati.

Meski demikian, tingkat risiko tetap dipengaruhi oleh frekuensi dan porsi konsumsi, bukan semata-mata oleh satu kali makan. Orang yang memiliki kadar asam urat tinggi biasanya lebih sensitif terhadap asupan purin dari makanan hewani. Dalam kondisi tertentu, tubuh bisa merespons dengan nyeri sendi, bengkak, atau keluhan lain yang mengganggu aktivitas. Oleh sebab itu, pengendalian porsi menjadi langkah yang jauh lebih penting daripada sekadar memilih jenis masakan.

Daging biasa tetap perlu dibatasi

dr Aru menyampaikan bahwa daging biasa tidak perlu dianggap sebagai musuh dalam menu Idul Adha. Ia menjelaskan bahwa daging tetap bisa menjadi sumber protein yang baik, selama dikonsumsi dalam batas yang sesuai. Masalah baru muncul ketika daging dimasak dengan tambahan lemak berlebih atau dihabiskan dalam porsi besar. Dengan kata lain, yang perlu dijaga bukan hanya jenis bahan, tetapi juga cara konsumsi.

Ia menambahkan bahwa anggapan semua daging berbahaya tidak sepenuhnya tepat. Daging sapi maupun kambing dapat dikonsumsi, asalkan tidak dilakukan secara berlebihan. Pola makan yang seimbang, disertai sayur dan sumber serat lain, dapat membantu tubuh memproses asupan dengan lebih baik. Kebiasaan ini juga dapat menekan risiko lonjakan kolesterol setelah perayaan.

Pada momen Idul Adha, perubahan pola makan sering terjadi karena sajian daging hadir hampir di setiap rumah. Jika tidak dikendalikan, kondisi tersebut dapat membuat asupan lemak dan purin meningkat tajam dalam waktu singkat. Karena itu, masyarakat disarankan tetap makan seperti biasa dan tidak menjadikan hari raya sebagai alasan untuk berlebihan. Prinsip sederhana ini dapat membantu menjaga kesehatan sendi, hati, dan pembuluh darah.

Cara aman konsumsi daging

Untuk menjaga kesehatan, masyarakat disarankan membatasi porsi jeroan dan memilih bagian daging yang lebih ramping. Pengolahan yang direbus, dipanggang, atau ditumis ringan juga lebih baik dibanding digoreng dengan banyak minyak. Selain itu, penggunaan santan dan lemak tambahan perlu dikurangi agar beban lemak jenuh tidak terlalu tinggi. Langkah kecil seperti ini dapat membuat hidangan Idul Adha tetap nikmat tanpa terlalu membahayakan tubuh.

Asupan air putih yang cukup juga penting untuk membantu tubuh mengeluarkan sisa metabolisme purin. Orang dengan riwayat asam urat sebaiknya lebih waspada terhadap makanan yang memicu serangan, terutama jeroan dan kaldu hewani pekat. Bila perlu, konsumsi daging dapat diselingi dengan sayuran hijau, buah, dan sumber karbohidrat kompleks. Kombinasi ini membantu menjaga keseimbangan nutrisi tanpa menghilangkan makna kebersamaan saat hari raya.

Selain mengatur menu, masyarakat juga perlu memperhatikan tanda-tanda tubuh setelah menyantap makanan tinggi purin. Bila muncul nyeri sendi berulang, rasa tidak nyaman di perut, atau keluhan lain yang menetap, pemeriksaan ke dokter menjadi pilihan tepat. Pemeriksaan lebih awal dapat membantu mencegah komplikasi yang lebih serius pada kemudian hari. Dengan pengaturan makan yang bijak, Idul Adha tetap bisa dirayakan tanpa mengorbankan kesehatan.

Bijak merayakan Idul Adha

Perayaan Idul Adha memang identik dengan hidangan daging, tetapi kesehatan tetap harus menjadi prioritas. Jeroan dapat menjadi bagian yang paling berisiko, sedangkan daging biasa tetap aman selama porsinya wajar. Penjelasan dokter dan hasil penelitian sama-sama menunjukkan bahwa konsumsi berlebihan adalah sumber utama masalah. Karena itu, keseimbangan menjadi kunci utama dalam menikmati makanan hari raya.

Kesadaran untuk membatasi porsi akan membantu mencegah lonjakan kolesterol dan serangan asam urat. Masyarakat juga dapat memilih menu yang lebih ringan agar tubuh tidak terlalu terbebani setelah makan besar. Kebiasaan sederhana seperti tidak menambah porsi secara berlebihan dapat memberi dampak besar bagi kesehatan jangka panjang. Dengan cara ini, tradisi berbagi daging tetap dapat dijalankan tanpa mengabaikan kondisi tubuh.

Jika dilakukan dengan tepat, sajian Idul Adha tetap bisa dinikmati tanpa memicu keluhan kesehatan yang berarti. Kuncinya terletak pada pemilihan bahan, cara memasak, dan pengaturan porsi. Jeroan tidak harus dihindari sepenuhnya, tetapi konsumsinya perlu dibatasi secara ketat. Sikap bijak dalam makan akan membuat perayaan terasa lebih aman, nyaman, dan menyehatkan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!