Jasa Marga Tebar Dividen Rp1,1 Triliun dari Laba 2025

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 27 Mei 2026 12:59 WIB 2
Jasa Marga Tebar Dividen Rp1,1 Triliun dari Laba 2025

PT Jasa Marga (Persero) Tbk menetapkan pembagian dividen sebesar Rp1,1 triliun kepada pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan Tahun Buku 2025. Nilai tersebut setara 31 persen dari laba bersih perseroan dan mencerminkan komitmen menjaga imbal hasil bagi investor di tengah ekspansi usaha yang terus berjalan. Keputusan itu disampaikan manajemen Jasa Marga dalam keterangan tertulis pada Rabu, 20 Mei 2026. Pembagian dividen dijadwalkan berlangsung pada 19 Juni 2026, dengan recording date pada 4 Juni 2026.

Direktur Utama PT Jasa Marga (Persero) Tbk, Rivan A. Purwantono, menyatakan perseroan tetap mengutamakan keseimbangan antara pertumbuhan dan pengembalian kepada pemegang saham. Menurut dia, kebijakan dividen disusun secara terukur agar tidak mengganggu kondisi keuangan dan ekonomi ke depan. Dividen per lembar saham atau dividend per share ditetapkan sebesar Rp156,2, sama seperti periode sebelumnya. Sisa laba bersih tahun 2025 dialokasikan sebagai laba ditahan untuk memperkuat cadangan perseroan.

Dividen Jasa Marga

Jasa Marga menegaskan bahwa pembagian dividen tahun buku 2025 merupakan bagian dari strategi menjaga nilai perusahaan secara berkelanjutan. Manajemen melihat keputusan itu tetap selaras dengan kebutuhan ekspansi, khususnya pada bisnis jalan tol yang masih menjadi inti usaha perseroan. Dengan kebijakan yang terukur, perseroan berupaya mempertahankan kepercayaan investor sekaligus menjaga ruang pertumbuhan. Pendekatan tersebut juga menjadi sinyal bahwa Jasa Marga tetap disiplin dalam mengelola struktur keuangannya.

Besaran dividen yang dibagikan mencapai Rp1,1 triliun atau 31 persen dari laba bersih tahun buku 2025. Setiap pemegang saham akan menerima DPS sebesar Rp156,2 per lembar saham. Pembagian akan diberikan secara proporsional kepada pemegang saham yang tercatat dalam daftar pemegang saham pada recording date 4 Juni 2026. Jadwal pembayaran dividen ditetapkan pada 19 Juni 2026.

Perseroan menyebut sisa laba bersih akan ditahan sebagai cadangan untuk mendukung penguatan modal. Langkah ini dipandang penting agar Jasa Marga tetap memiliki fleksibilitas menghadapi dinamika usaha dan ketidakpastian ekonomi. Di sisi lain, kebijakan tersebut menunjukkan bahwa perusahaan masih menjaga keseimbangan antara kepentingan pemegang saham dan keberlanjutan bisnis. Dengan demikian, pembagian dividen tidak mengurangi fokus perseroan pada pengembangan aset dan layanan.

Rivan menegaskan bahwa kesinambungan dividen akan terus diupayakan melalui kebijakan yang terukur. Menurut dia, Jasa Marga tidak ingin mengejar pembagian laba dalam jangka pendek tanpa memperhitungkan kesehatan keuangan. Karena itu, seluruh keputusan korporasi diarahkan untuk menjaga pertumbuhan yang stabil. Pendekatan ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang perseroan dalam menghadapi kompetisi industri jalan tol nasional.

Kinerja Jasa Marga

Sepanjang tahun 2025, Jasa Marga mencatat core profit yang tetap stabil di level Rp3,7 triliun. Stabilitas tersebut menjadi penanda bahwa operasi bisnis utama perseroan masih mampu menghasilkan kinerja yang sehat. Manajemen menilai pencapaian itu tidak terlepas dari pertumbuhan pendapatan usaha dan peningkatan EBITDA. Hasil tersebut juga menunjukkan daya tahan bisnis di tengah tantangan ekonomi yang masih dinamis.

Pendapatan usaha Jasa Marga tercatat sebesar Rp19,8 triliun, tumbuh 5,8 persen secara tahunan atau year on year. Kontribusi terbesar berasal dari pendapatan tol sebesar Rp18,2 triliun, sementara pendapatan usaha lain mencapai Rp1,6 triliun. EBITDA perseroan juga naik menjadi Rp13,3 triliun dengan margin EBITDA di level 67 persen. Capaian itu mengindikasikan efisiensi operasional yang masih terjaga.

Selain pertumbuhan pendapatan, Jasa Marga berhasil menurunkan beban keuangan secara konsolidasi sebesar 10,5 persen. Penurunan tersebut merupakan dampak positif dari aksi korporasi equity financing yang dilakukan pada akhir 2024. Manajemen menilai langkah itu memberi kontribusi nyata terhadap penguatan struktur keuangan. Dengan beban yang lebih terkendali, perseroan memiliki ruang lebih besar untuk menjaga profitabilitas.

Rivan menyebut stabilitas core profit didukung oleh kombinasi pertumbuhan pendapatan, kenaikan EBITDA, dan efisiensi pembiayaan. Menurut dia, perseroan telah menunjukkan kemampuan menjaga kinerja yang stabil dan resilien. Kondisi itu menjadi dasar penting bagi Jasa Marga untuk melanjutkan ekspansi secara hati-hati. Di saat yang sama, perusahaan tetap mempertahankan disiplin pada pengelolaan risiko dan modal.

Operasi dan Digital

Jasa Marga terus memperkuat lini bisnisnya yang mencakup konsesi, pengoperasian, preservasi, dan pengembangan bisnis prospektif. Pada lini konsesi jalan tol, perseroan masih memegang posisi sebagai pengelola jalan tol terbesar di Indonesia. Hingga 2025, Jasa Marga mengoperasikan 1.294 kilometer jalan tol dari total konsesi sepanjang 1.736 kilometer. Porsi tersebut merepresentasikan sekitar 42 persen pangsa pasar jalan tol nasional.

Sepanjang 2025, transaksi di jalan tol Jasa Marga mencapai 1,31 miliar kendaraan. Lalu lintas harian rata-rata tercatat sebesar 3,58 juta kendaraan, menandakan tingginya mobilitas pengguna jalan tol. Angka itu menunjukkan peran strategis jaringan tol perseroan dalam mendukung konektivitas antardaerah. Kinerja operasional yang solid ini juga menjadi landasan penting bagi pertumbuhan pendapatan.

Dalam peningkatan pelayanan, Jasa Marga mengembangkan Jasamarga Tollroad Command Center berbasis Intelligent Transport System. Sistem tersebut diklaim mampu menghasilkan prediksi lalu lintas dengan tingkat akurasi mendekati 98 persen. Informasi kemudian disalurkan kepada pengguna jalan melalui aplikasi Travoy sebagai asisten digital perjalanan. Pada 2025, aplikasi itu telah diunduh 1,1 juta kali, naik 48 persen dibanding tahun sebelumnya.

Transformasi digital itu memberi dampak positif terhadap Customer Satisfaction Index 2025 yang mencapai 5,13 dari skala 6. Nilai tersebut masuk kategori puas dan mencerminkan penerimaan yang baik dari pengguna jalan. Perseroan menilai pencapaian itu sejalan dengan komitmen menghadirkan layanan yang aman, nyaman, dan berkeselamatan. Penguatan digital juga membuat Jasa Marga lebih responsif dalam memberi informasi lalu lintas secara real time.

RUPST Jasa Marga

Dalam RUPST Tahun Buku 2025, pemegang saham juga menyetujui penetapan jajaran Dewan Komisaris dan Direksi perseroan. Susunan komisaris dipimpin Juri Ardiantoro sebagai Komisaris Utama. Posisi komisaris lainnya diisi oleh Syamsul Bachri Yusuf, M. Asrorun Ni'am Sholeh, Tedi Kurniawan, Nachrowi Ramli, Rudi Antariksawan, dan Nurul Ghufron. Penetapan ini diharapkan memperkuat pengawasan terhadap arah bisnis perseroan.

Susunan direksi terdiri atas Rivan A. Purwantono sebagai Direktur Utama, Andry Tanudjaja sebagai Wakil Direktur Utama, dan Reza Febriano sebagai Direktur Bisnis. Selain itu, jajaran direksi juga mencakup Yoga Tri Anggoro, Pramitha Wulanjani, Yaya Ruhiya, Fitri Wiyanti, dan Ari Respati. Komposisi baru ini diharapkan mendukung pelaksanaan strategi usaha dan transformasi organisasi. Manajemen menilai kesinambungan kepemimpinan menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas kinerja.

Ke depan, Jasa Marga optimistis kinerja perseroan pada 2026 akan semakin kuat. Perseroan menyiapkan berbagai inisiatif strategis yang difokuskan pada pertumbuhan berkelanjutan dan penguatan fundamental keuangan. Optimalisasi alokasi anggaran, pemenuhan Standar Pelayanan Minimal, dan penyesuaian tarif tol secara terukur menjadi bagian dari rencana tersebut. Dengan strategi itu, Jasa Marga berharap dapat mempertahankan posisinya sebagai pemimpin industri jalan tol nasional.

Rivan menegaskan bahwa perseroan akan terus mendorong peningkatan pendapatan dan EBITDA secara konsisten. Ia juga menyebut struktur keuangan yang lebih sehat akan menjadi penopang utama pertumbuhan pada tahun mendatang. Jasa Marga menargetkan penciptaan nilai tambah yang berkelanjutan bagi pemegang saham dan seluruh pemangku kepentingan. Dengan fondasi operasional yang solid, perseroan optimistis mampu menjaga momentum pertumbuhan di 2026.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!