Industri Satelit Nasional Masuki Babak Baru

Teknologi BRH 22 Mei 2026 21:51 WIB 5
Industri Satelit Nasional Masuki Babak Baru

Industri satelit nasional dinilai memasuki babak baru seiring meningkatnya kebutuhan konektivitas digital, integrasi kecerdasan buatan, dan isu kedaulatan digital di tengah dinamika geopolitik global. Indonesia disebut memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu pemain penting di ekosistem satelit Asia Pasifik. Ketua Umum Asosiasi Satelit Indonesia periode 2026-2029, Risdianto Yuli Hermansyah, menilai satelit kini telah menjadi bagian penting dari ketahanan infrastruktur digital nasional.

Menurut Risdianto, satelit tidak lagi sekadar pelengkap jaringan terestrial, melainkan penopang utama layanan digital yang lebih andal dan berkelanjutan. Pernyataan itu disampaikan di Jakarta, Selasa, 12 Mei 2026, dalam rangkaian pembahasan industri satelit yang semakin strategis. Ia menegaskan bahwa perubahan kebutuhan teknologi membuat sektor ini perlu diposisikan sebagai infrastruktur vital.

Industri Satelit dan Konektivitas

Industri satelit terus berkembang mengikuti kebutuhan konektivitas yang semakin beragam di Indonesia. Saat ini, satelit tidak hanya melengkapi infrastruktur terestrial, tetapi juga mendukung ketahanan jaringan secara lebih luas.

Risdianto menjelaskan bahwa layanan digital membutuhkan sistem yang mampu tetap berjalan ketika jaringan darat menghadapi gangguan. Dalam konteks itu, satelit menjadi solusi penting bagi kesinambungan layanan komunikasi dan data.

Ia menilai pertumbuhan industri ini juga dipicu oleh meningkatnya penggunaan layanan digital di berbagai sektor. Mulai dari pemerintahan, pendidikan, hingga layanan publik, seluruhnya memerlukan konektivitas yang stabil dan merata.

Karena itu, penguatan ekosistem satelit perlu dipandang sebagai bagian dari strategi pembangunan nasional. Pendekatan tersebut dinilai penting agar layanan digital dapat menjangkau wilayah yang selama ini sulit terhubung secara optimal.

Potensi Satelit Indonesia

Posisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau menjadi modal strategis bagi pengembangan teknologi satelit. Kondisi itu membuat kebutuhan konektivitas nasional sangat bergantung pada solusi komunikasi yang fleksibel dan luas jangkauannya.

Dengan populasi besar dan pasar digital yang terus tumbuh, Indonesia dinilai memiliki potensi ekonomi yang kuat di sektor ini. Pengalaman industri yang telah terbentuk juga menjadi bekal untuk memperluas kontribusi di tingkat kawasan.

Risdianto menyebut Indonesia memiliki modal yang cukup baik, mulai dari kebutuhan pasar, sumber daya manusia, hingga pengalaman pelaku industri. Namun, modal tersebut perlu diolah melalui strategi yang terarah dan berkelanjutan.

Ia menekankan pentingnya integrasi antara industri, riset, talenta digital, dan kebijakan pemerintah. Menurutnya, kolaborasi itu menjadi kunci agar industri satelit nasional dapat tumbuh secara sehat dan kompetitif.

Satelit untuk Indonesia Emas

Peran satelit dipandang semakin strategis dalam mendukung visi Indonesia Emas 2045. Sektor ini berpotensi memperluas konektivitas di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal.

Selain itu, satelit juga berperan dalam memperkuat ketahanan nasional dan konektivitas maritim. Manfaat lain yang disorot adalah kemampuan satelit dalam mendukung mitigasi bencana di berbagai daerah.

Menurut Risdianto, Indonesia membutuhkan sistem komunikasi yang mampu menjangkau wilayah luas dengan kondisi geografis yang beragam. Dalam situasi tersebut, satelit menjadi instrumen penting untuk memastikan pemerataan akses digital.

Ia menilai pemanfaatan satelit yang lebih optimal akan membantu agenda transformasi nasional. Dengan dukungan yang tepat, teknologi ini dapat menjadi fondasi penting bagi masa depan ekonomi dan layanan publik.

Tantangan Satelit Global

Industri satelit global saat ini menghadapi sejumlah tantangan baru yang semakin kompleks. Di antaranya adalah berkembangnya konstelasi satelit, integrasi jaringan satelit dan seluler, serta ancaman keamanan siber.

Selain itu, isu keberlanjutan pemanfaatan ruang angkasa juga mulai mendapat perhatian serius dari berbagai negara. Tantangan tersebut menuntut industri untuk lebih adaptif dalam merancang model bisnis dan teknologi.

Risdianto menilai isu kedaulatan digital kini menjadi perhatian banyak negara, termasuk Indonesia. Karena itu, penguatan kapasitas nasional dipandang mendesak agar industri domestik mampu bertahan di tengah persaingan global.

Ia menegaskan pentingnya membangun kapasitas yang memadai dari sisi teknologi, regulasi, dan sumber daya manusia. Langkah itu dinilai perlu agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga pemain yang berdaya saing.

Isu-isu tersebut menjadi pembahasan utama dalam Asia Pacific Satellite Conference 2026 atau APSAT 2026 yang digelar ASSI di Fairmont Jakarta pada 12-13 Mei 2026. Konferensi internasional edisi ke-22 itu mengangkat tema The Future of Satellite Ecosystems: Importance of Sovereignty, AI, Innovation and Technological Integration.

Acara tersebut dihadiri berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, regulator, operator satelit, akademisi, hingga mitra internasional dari kawasan Asia Pasifik. Sejumlah tokoh yang hadir antara lain Kepala BRIN, Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Digital, serta Kepala BPKN.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!