Industri Satelit Nasional Masuki Babak Baru

Teknologi Moh. Royhan Nahado 22 Mei 2026 14:25 WIB 7
Industri Satelit Nasional Masuki Babak Baru

Industri satelit nasional dinilai memasuki babak baru seiring meningkatnya kebutuhan konektivitas digital, integrasi kecerdasan buatan, dan isu kedaulatan digital di tengah dinamika geopolitik global. Indonesia disebut memiliki peluang besar untuk memperkuat posisi sebagai salah satu pemain penting dalam ekosistem satelit di kawasan Asia Pasifik. Ketua Umum Asosiasi Satelit Indonesia periode 2026-2029, Risdianto Yuli Hermansyah, menegaskan bahwa satelit kini bukan lagi sekadar pelengkap jaringan terestrial.

Peran satelit telah bergeser menjadi bagian penting dari ketahanan infrastruktur digital nasional. Pernyataan itu disampaikan Risdianto di Jakarta, Selasa, 12 Mei 2026, dalam rangkaian agenda industri satelit yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Menurut dia, tantangan dan peluang baru membuat sektor ini perlu dikelola dengan strategi yang lebih terintegrasi.

Industri Satelit dan Konektivitas

Risdianto menyebut industri satelit terus berkembang seiring kebutuhan konektivitas yang semakin beragam. Saat ini, satelit tidak hanya melengkapi infrastruktur terestrial, tetapi juga menopang ketahanan jaringan dan keberlanjutan layanan digital nasional. Dengan fungsi yang semakin luas, sektor ini dipandang kian strategis bagi pertumbuhan ekonomi digital.

Indonesia memiliki modal geografis yang kuat untuk mendorong pengembangan layanan berbasis satelit. Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau, kebutuhan konektivitas menjadi tantangan sekaligus peluang besar. Kondisi itu membuat satelit relevan untuk menjembatani wilayah yang sulit dijangkau jaringan darat.

Selain faktor geografis, populasi besar juga menciptakan pasar yang potensial bagi layanan satelit. Pengalaman pelaku industri di dalam negeri dinilai cukup matang untuk menopang pertumbuhan sektor ini. Dengan basis permintaan yang luas, Indonesia memiliki ruang untuk memperkuat ekosistem satelit secara berkelanjutan.

Risdianto menilai penguatan industri tidak dapat bertumpu pada satu sektor saja. Integrasi antara industri, riset, talenta digital, dan kebijakan pemerintah menjadi kunci utama. Tanpa sinergi tersebut, pertumbuhan industri satelit berisiko berjalan lambat dan tidak merata.

Satelit untuk Kedaulatan Digital

Peran satelit juga dipandang semakin penting dalam mendukung visi Indonesia Emas 2045. Sektor ini dapat memperluas konektivitas di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal, yang masih menghadapi kesenjangan akses digital. Di saat yang sama, satelit turut berkontribusi pada ketahanan nasional dan konektivitas maritim.

Dalam konteks kebencanaan, satelit memiliki nilai strategis untuk mendukung mitigasi dan pemulihan komunikasi. Teknologi ini memungkinkan akses informasi tetap berjalan ketika jaringan lain terganggu oleh kondisi darurat. Karena itu, keberadaan satelit semakin terkait dengan kepentingan publik yang lebih luas.

Risdianto menegaskan isu kedaulatan digital kini menjadi perhatian banyak negara, termasuk Indonesia. Penguatan kapasitas nasional dibutuhkan agar industri domestik mampu tumbuh sehat di tengah persaingan global. Ia menilai ketahanan digital tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kemampuan mengelola sumber daya secara mandiri.

Menurut dia, Indonesia perlu membangun kapasitas yang memadai dari sisi teknologi, regulasi, dan sumber daya manusia. Tiga aspek tersebut dinilai menentukan daya saing industri satelit nasional di masa depan. Jika fondasinya kuat, Indonesia berpeluang menjadi pemain yang lebih berpengaruh di kawasan.

Ekosistem Digital yang Terpadu

Di masa depan, teknologi kecerdasan buatan, cloud, Internet of Things, fixed broadband, jaringan seluler, dan satelit diperkirakan akan semakin terhubung. Integrasi itu akan membentuk ekosistem digital yang lebih terpadu dan saling menopang. Namun, perkembangan tersebut juga menuntut kesiapan infrastruktur yang lebih adaptif.

Risdianto menilai perubahan tersebut membuka peluang baru bagi industri satelit nasional. Di sisi lain, kebutuhan investasi, regulasi, dan talenta yang sesuai juga akan meningkat. Tanpa kesiapan pada berbagai lini, potensi integrasi justru bisa berjalan tidak optimal.

Tantangan global turut datang dari berkembangnya konstelasi satelit, integrasi satelit dan seluler, serta ancaman keamanan siber. Isu keberlanjutan pemanfaatan ruang angkasa juga menjadi perhatian dalam industri ini. Kondisi tersebut membuat kompetisi antarnegara semakin ketat dan kompleks.

Dengan perubahan teknologi yang cepat, industri satelit dituntut lebih lincah dalam merespons kebutuhan pasar. Penguatan ekosistem domestik menjadi penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga pengembang teknologi. Strategi jangka panjang diperlukan agar sektor ini tetap kompetitif dalam lanskap digital yang terus berubah.

APSAT Dua Ribu Dua Puluh Enam

Isu-isu tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam Asia Pacific Satellite Conference 2026 atau APSAT 2026. Konferensi yang digelar ASSI di Fairmont Jakarta pada 12 hingga 13 Mei 2026 itu menjadi forum strategis bagi industri satelit. Agenda ini mempertemukan berbagai pihak untuk membahas arah masa depan ekosistem satelit kawasan.

Konferensi internasional edisi ke-22 itu mengusung tema The Future of Satellite Ecosystems: Importance of Sovereignty, AI, Innovation and Technological Integration. Tema tersebut menegaskan pentingnya kedaulatan, inovasi, dan integrasi teknologi dalam pengembangan industri. Fokus pembahasan juga mencerminkan meningkatnya urgensi kolaborasi lintas sektor.

APSAT 2026 dihadiri pemerintah, regulator, operator satelit, akademisi, serta mitra internasional dari kawasan Asia Pasifik. Kehadiran para pemangku kepentingan menunjukkan bahwa isu satelit tidak lagi terbatas pada aspek teknis. Sektor ini kini dipandang sebagai bagian penting dari agenda transformasi digital dan ketahanan nasional.

Dalam acara tersebut turut hadir Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Digital, serta Kepala Badan Perlindungan Konsumen Nasional. Forum ini diharapkan mampu memperkuat arah pengembangan industri satelit Indonesia ke depan. Dengan dukungan kebijakan dan kolaborasi yang tepat, Indonesia dinilai berpeluang mempertegas posisinya di Asia Pasifik.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!