Industri Satelit Nasional Didorong Jaga Kedaulatan Data

Teknologi Moh. Royhan Nahado 31 Mei 2026 15:46 WIB 2
Industri Satelit Nasional Didorong Jaga Kedaulatan Data

Industri satelit Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk tumbuh, seiring meningkatnya kebutuhan konektivitas di wilayah kepulauan dan meluasnya pasar Asia Pasifik. Di sisi lain, peluang itu dibayangi oleh masuknya pemain global dengan teknologi lebih maju, termasuk layanan satelit orbit rendah atau LEO.

Asosiasi Satelit Indonesia menilai perkembangan tersebut harus direspons dengan strategi yang tepat agar Indonesia tidak sekadar menjadi pasar. Isu kedaulatan data, penguasaan spektrum frekuensi, dan kendali infrastruktur menjadi sorotan utama dalam persaingan yang makin ketat.

Potensi industri satelit

Industri satelit nasional berada pada posisi yang strategis karena kebutuhan konektivitas Indonesia sangat besar. Karakter geografis kepulauan membuat layanan berbasis satelit tetap relevan untuk menjangkau wilayah yang sulit diakses jaringan terestrial.

Selain pasar domestik, kawasan Asia Pasifik juga menawarkan ruang pertumbuhan yang menarik bagi operator satelit. Kondisi ini membuka peluang bisnis yang lebih luas jika Indonesia mampu memperkuat kapasitas dan daya saing teknologinya.

Di tengah peluang tersebut, kehadiran teknologi orbit rendah membawa perubahan besar pada ekspektasi pasar. Layanan ini menawarkan kecepatan lebih tinggi, latensi rendah, dan instalasi yang lebih mudah bagi pengguna akhir.

Tantangan pemain global

Masuknya operator global seperti Starlink menambah tekanan bagi pemain domestik yang selama ini mengandalkan satelit orbit geostasioner. Persaingan tidak hanya terjadi pada harga dan kualitas layanan, tetapi juga pada penguasaan pasar yang bergerak cepat.

Kehadiran layanan lintas negara memunculkan kekhawatiran terhadap aliran data yang berpotensi berada di luar yurisdiksi nasional. Jika tidak diatur secara ketat, kondisi ini dapat melemahkan kontrol terhadap data strategis Indonesia.

Persaingan juga terjadi pada spektrum frekuensi dan slot orbit yang menjadi sumber daya terbatas di tingkat global. Operator yang lebih dulu mengamankan posisi tersebut akan memiliki keunggulan kompetitif yang sulit dikejar oleh pemain lain.

Langkah menjaga kedaulatan

Ketua Umum ASSI, Rusdianto Yuli Hermansyah, menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar bagi teknologi satelit global. Menurut dia, kendali terhadap data dan infrastruktur yang beroperasi di wilayah Indonesia harus tetap berada dalam pengawasan nasional.

ASSI mendorong agar seluruh data dari layanan satelit, termasuk yang terintegrasi dengan jaringan seluler, tetap landing di Indonesia. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga kedaulatan digital dan memastikan perlindungan data strategis tetap berada dalam jangkauan regulasi nasional.

Asosiasi juga menilai perlu ada orkestrasi nasional dalam pengembangan konstelasi satelit. Tanpa koordinasi yang jelas, benturan frekuensi dan orbit antaroperator dapat terjadi dan pada akhirnya merugikan industri dalam negeri.

Penguatan ekosistem nasional

Penguatan kapasitas nasional menjadi salah satu kunci untuk mengurangi ketergantungan pada pemain global. Indonesia sejauh ini telah memiliki fondasi awal melalui riset Badan Riset dan Inovasi Nasional serta operasional satelit oleh operator domestik.

Meski begitu, kemampuan end-to-end dari pembangunan hingga peluncuran satelit masih perlu ditingkatkan. Rencana pembangunan fasilitas peluncuran di dalam negeri juga dipandang penting untuk memperkuat kemandirian industri.

ASSI berharap pemerintah menerapkan kebijakan yang adil atau level playing field bagi operator lokal dan global. Isu biaya spektrum, kewajiban operasional, serta kesiapan menghadapi integrasi jaringan terestrial dan non-terestrial menuju era 6G menjadi bagian dari agenda strategis yang tidak bisa diabaikan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!