Indosat Soroti Risiko Siber di Tengah Akselerasi Digital

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 26 Mei 2026 17:16 WIB 2
Indosat Soroti Risiko Siber di Tengah Akselerasi Digital

Transformasi digital yang kian masif di Indonesia dinilai ikut memperbesar risiko keamanan siber bagi perusahaan, terutama di sektor-sektor strategis yang bergantung pada sistem digital. Indosat Ooredoo Hutchison melalui Indosat Business mengungkap ancaman kini berkembang semakin kompleks, mulai dari AI fraud, deepfake, hingga ransomware.

Temuan itu disampaikan dalam whitepaper berjudul A Business-Centric Framework for Enterprise Cyber-Resilience, yang menyoroti masih adanya resilience gap di banyak perusahaan Indonesia. Kondisi tersebut terjadi ketika laju digitalisasi bergerak lebih cepat dibanding kesiapan organisasi membangun ketahanan siber.

Ketahanan Siber Bisnis

Director & Chief Business Officer Indosat Ooredoo Hutchison, Muhammad Danny Buldansyah, menegaskan bahwa ketahanan siber kini menjadi fondasi penting bagi keberlangsungan usaha. Ia menyampaikan pandangan itu dalam acara di kantor Indosat Ooredoo Hutchison, Jakarta, pada Senin, 11 Mei 2026.

Menurut dia, cyber resilience tidak lagi bisa dipandang sebagai isu teknologi semata. Perusahaan membutuhkan fondasi kepercayaan yang kuat agar operasional bisnis tetap berjalan di tengah ancaman digital yang terus berubah.

Ia menambahkan, kebutuhan enterprise saat ini tidak hanya soal konektivitas dan teknologi. Dunia usaha juga harus memiliki sistem keamanan siber yang adaptif, terintegrasi, dan siap menghadapi serangan modern.

Ancaman Digital Semakin Kompleks

Whitepaper tersebut disusun bersama pakar keamanan siber Charles Lim. Dalam kajiannya, ancaman siber disebut berkembang lebih cepat dan semakin sulit dideteksi karena memanfaatkan teknologi baru.

Charles menilai AI-enabled fraud dan deepfake telah mengubah pola serangan menjadi lebih canggih. Kondisi ini membuat organisasi perlu bergerak dari pendekatan reaktif menuju cyber resilience yang adaptif dan berkelanjutan.

Indosat Business juga mencatat peningkatan AI-related fraud hingga 1.550 persen di sektor fintech Indonesia. Modus yang digunakan mencakup deepfake dan AI voice impersonation untuk penipuan berbasis identitas.

Risiko dan Kerugian Perusahaan

Ancaman ransomware juga terus meningkat dan menyasar infrastruktur penting. Salah satu sorotan datang dari serangan terhadap pusat data nasional pada 2024 yang sempat mengganggu lebih dari 200 layanan publik.

Selain itu, Cisco Cybersecurity Readiness Index 2025 menunjukkan hanya 11 persen organisasi di Indonesia yang dinilai siap menghadapi ancaman keamanan siber modern. Data tersebut menunjukkan masih lebarnya kesenjangan kesiapan perusahaan dalam menjaga sistem digital.

Kerugian akibat kebocoran data di Indonesia juga tidak kecil. Rata-rata kerugian diperkirakan mencapai Rp15 miliar, sehingga serangan siber tidak hanya mengganggu operasional, tetapi juga menekan kinerja keuangan perusahaan.

Strategi Perkuat Perlindungan Data

Indosat Business menyoroti pentingnya implementasi Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi atau UU PDP. Regulasi ini mendorong perusahaan memperkuat monitoring dan respons keamanan siber secara real-time.

Perusahaan juga dituntut memenuhi kewajiban pelaporan insiden dalam waktu 72 jam. Dalam praktiknya, kepatuhan terhadap aturan ini membutuhkan sistem deteksi, respons, dan dokumentasi yang jauh lebih disiplin.

Whitepaper tersebut turut membahas strategi penguatan keamanan seperti Zero Trust Architecture dan Human Firewall. Pendekatan itu dinilai relevan untuk menghadapi tantangan cyber resilience di sektor finansial, manufaktur, pemerintahan, hingga pendidikan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!