IHSG Indonesia melemah secara signifikan dari level tertinggi sepanjang masa (ATH) yang tercapai pada pertengahan Januari 2026, saat berada di 9.134,7. Kondisi itu dipicu pelemahan dinamika global yang mempengaruhi sentimen pasar. Pada 13 Mei 2026, IHSG berada di sekitar 6.734,53, menandai penurunan yang cukup dalam dibanding ATH.
OJK menilai pelemahan ini bersifat sementara dan bagian dari proses penyesuaian menuju level dasar baru bagi pasar modal. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menjelaskan dinamika global sebagai faktor utama. Ia menambahkan bahwa momentum ini bisa dimanfaatkan investor secara selektif untuk memilih saham dengan prospek jangka panjang.
IHSG turun ATH
IHSG saat ini berada di sekitar 6.734,53, menurun signifikan dari ATH 9.134,7 pada pertengahan Januari. Penyesuaian pasar dipicu dinamika global yang terus berubah dan sentimen investor asing. Penurunan ini menandai fase koreksi yang perlu diwaspadai pelaku pasar.
Beberapa analis menilai penurunan ini bukan indikasi kerusakan fundamental, melainkan hasil penyesuaian harga terhadap ekspektasi pertumbuhan. Secara teknis, level ATH menjadi tolak ukur yang memicu volatilitas berulang. Banyak pelaku pasar memantau level support untuk menghindari gejolak berlebih.
Regulator menegaskan reformasi pasar modal sedang berjalan untuk meningkatkan kualitas emiten dan likuiditas. OJK menekankan bahwa penyesuaian jangka pendek merupakan bagian dari proses menuju baseline baru. Ketidakpastian global menjadi pendorong utama arah IHSG ke depan.
PER rata-rata turun
Rasio price-to-earnings (PER) saham Indonesia saat ini berada di sekitar 16 kali. Kondisi ini membuat PER Indonesia berada di bawah rata-rata bursa regional pada periode yang sama. Pelemahan pasar terkadang mempengaruhi persepsi investor terhadap valuasi saham.
Kondisi PER yang lebih rendah berpotensi membuka peluang bagi investor jangka panjang untuk masuk pasar, asalkan saham yang dipilih memiliki fundamental kuat. Namun, OJK menekankan pentingnya selektivitas dalam memilih saham yang layak dipantau. Faktor pemulihan kinerja emiten tetap menjadi kunci utama perbaikan valuasi di masa mendatang.
Beberapa analis menilai langkah ini dapat meningkatkan kualitas indeks secara keseluruhan meskipun ada tekanan jangka pendek. Hasan Fawzi juga menekankan bahwa reformasi pasar perlu berjalan selaras dengan peningkatan kualitas emiten. Pernyataan Hasan Fawzi menekankan bahwa saham yang masuk ke dalam indeks global harus memenuhi kriteria kualifikasi.
Peluang investor jangka panjang
Hasan Fawzi menyatakan bahwa penurunan pasar saat ini sebaiknya dimanfaatkan secara selektif oleh investor. Ia menekankan bahwa saham-saham berprospek jangka panjang patut dipilih untuk menghadapi volatilitas. Kunci utama adalah menemukan emiten yang secara berkelanjutan memperbaiki kinerjanya.
Para investor didorong menilai kinerja keuangan dan prospek usaha sebelum membeli. Momentum saat ini bisa dijadikan peluang jika dipadukan dengan analisis risiko yang matang. Otoritas juga mendorong masuk secara bertahap sambil menjaga kualitas portofolio.
Regulator dan bursa menargetkan baseline baru sebagai fondasi peningkatan kualitas emiten. Sementara IHSG telah turun dari ATH dan berpotensi kembali stabil jika fundamental emiten membaik. Dalam rangka itu, OJK dan SRO bekerja untuk reformasi pasar yang berkelanjutan.
