Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup melemah 3,46 persen ke level 6.370,68 pada perdagangan Selasa, 19 Mei, di tengah tekanan mayoritas sektor dan sentimen negatif dari bursa global. Meski koreksi cukup dalam, investor asing masih mencatat beli bersih di pasar reguler maupun seluruh pasar. Pelaku pasar kini menyoroti keputusan suku bunga Bank Indonesia yang diperkirakan menjadi katalis utama berikutnya.
Di tengah pelemahan indeks, beberapa saham tetap mampu bergerak berlawanan arah, termasuk SRAJ, AMRT, dan BRIS yang kompak menguat. Sebaliknya, saham DSSA, MORA, dan BBCA menjadi penekan utama IHSG, sementara sektor kesehatan menjadi satu-satunya sektor yang bertahan di zona hijau. Tekanan pasar domestik juga dipengaruhi pelemahan bursa Amerika Serikat dan kekhawatiran terhadap rupiah yang bergerak di kisaran Rp17.705 per dolar AS.
IHSG Tertekan Sentimen Global
IHSG ditutup turun 3,46 persen ke 6.370,68 pada akhir perdagangan Selasa, seiring melemahnya hampir seluruh sektor. Hanya sektor kesehatan yang mampu naik tipis 0,55 persen, sedangkan sektor basic industry terkoreksi paling dalam hingga 7,30 persen. Kondisi ini menunjukkan tekanan jual masih dominan di pasar saham domestik.
Di sisi saham individual, SRAJ mencatat kenaikan 9,06 persen, AMRT naik 2,12 persen, dan BRIS menguat 4,12 persen. Pergerakan positif tersebut tidak cukup menahan pelemahan indeks secara keseluruhan. Sebaliknya, DSSA turun 14,77 persen, MORA melemah 9,51 persen, dan BBCA terkoreksi 2,86 persen.
Investor asing tetap membukukan beli bersih sekitar Rp306,34 miliar di pasar reguler dan Rp260,12 miliar di seluruh pasar. Data itu memberi sinyal minat asing belum sepenuhnya hilang meski pasar sedang tertekan. Namun, aliran dana tersebut belum cukup untuk mengimbangi aksi jual pada saham-saham berkapitalisasi besar.
Sentimen eksternal turut membebani pasar setelah indeks saham Amerika Serikat kompak ditutup melemah. Dow Jones turun 0,65 persen, S&P 500 terkoreksi 0,67 persen, dan Nasdaq melemah 0,84 persen. Kombinasi tekanan global dan kekhawatiran domestik membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati.
Fokus Pasar ke BI Rate
Pelaku pasar saat ini menantikan keputusan suku bunga Bank Indonesia untuk Mei 2026. Konsensus memperkirakan BI Rate naik menjadi 5,00 persen dari sebelumnya 4,75 persen. Ekspektasi tersebut muncul di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Rupiah tercatat berada di kisaran Rp17.705 per dolar AS, sehingga kebijakan moneter menjadi sorotan utama. Kenaikan suku bunga dinilai berpotensi menjaga stabilitas mata uang, meski di sisi lain dapat menekan sentimen di pasar saham. Investor pun mulai menghitung dampaknya terhadap sektor-sektor sensitif suku bunga.
Dalam situasi seperti ini, volatilitas pasar cenderung meningkat karena pelaku pasar menunggu kepastian arah kebijakan. Respons terhadap keputusan BI diperkirakan akan memengaruhi minat terhadap saham perbankan, properti, dan konsumsi. Sektor yang memiliki eksposur besar terhadap biaya pendanaan berpotensi bergerak lebih hati-hati.
Tekanan eksternal dari bursa global memperkuat alasan pasar untuk bersikap defensif. Ketika indeks Amerika Serikat melemah, aliran risiko ke pasar emerging market biasanya ikut menurun. Kondisi tersebut membuat IHSG masih rentan terhadap koreksi lanjutan dalam jangka pendek.
DOID dan BEEF Siapkan Buyback
Delta Dunia Makmur Tbk atau DOID mengumumkan rencana pembelian kembali saham dengan nilai maksimal US$6 juta atau sekitar Rp104,25 miliar. Dana buyback akan berasal dari kas internal perseroan. Perseroan menargetkan pembelian hingga 320,77 juta saham atau setara 4,36 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh.
Pelaksanaan buyback akan dilakukan bertahap selama maksimal 12 bulan setelah mendapat persetujuan pemegang saham dalam RUPS pada 24 Juni 2026. Dengan jadwal tersebut, batas akhir pelaksanaan jatuh pada Juni 2027. Hingga akhir Desember 2025, kas DOID tercatat sebesar US$210,26 juta.
Setelah aksi korporasi itu, total ekuitas DOID diperkirakan menjadi US$42,87 juta dari sebelumnya US$48,87 juta. Jumlah saham beredar juga diproyeksikan turun menjadi 7,03 miliar saham dari 7,35 miliar saham. Langkah ini umumnya dipandang sebagai upaya memperkuat kepercayaan pasar terhadap valuasi saham perseroan.
Estika Tata Tiara Tbk atau BEEF juga menyiapkan buyback saham dengan nilai maksimal Rp100 miliar. Perseroan menargetkan pembelian kembali sekitar 333,33 juta saham atau setara 4,10 persen dari total saham beredar. Buyback akan dilakukan melalui BCA Sekuritas mulai 19 Mei 2026 hingga 18 Mei 2027 secara bertahap.
Kinerja ABMM dan Rekomendasi
ABM Investama Tbk atau ABMM membukukan laba bersih kuartal I-2026 sebesar US$14,88 juta, turun 30,39 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan perseroan juga melemah menjadi US$222,65 juta dari US$250,02 juta. Penurunan ini mencerminkan tekanan biaya dan operasional yang masih dihadapi perusahaan.
Manajemen menyebut lonjakan harga bahan bakar minyak akibat konflik di Timur Tengah sebagai salah satu faktor yang menekan kinerja. Harga minyak pada kuartal I-2026 tercatat US$101,38 per barel, jauh lebih tinggi dibanding posisi akhir 2025 sebesar US$57,42 per barel. Kenaikan tersebut berdampak langsung pada biaya operasional dan margin usaha.
ABMM juga tengah fokus menyelesaikan perizinan proyek PT Piranti Jaya Utama di Kalimantan Tengah dengan target mulai beroperasi pada akhir 2026. Selain itu, tambang batu bara PT Nirmala Coal Nusantara di Aceh diharapkan memberi tambahan pendapatan setelah penjualan perdana pada Februari lalu. Potensi dua proyek itu menjadi katalis penting bagi kinerja jangka menengah perseroan.
- TLKM: Buy 3020-3050, TP 3120-3160, SL 2850.
- ASPR: Buy 452-456, TP 468-480, SL 428.
- MYOR: Buy 1800-1815, TP 1840-1865, SL 1705.
- SMIL: Buy 292-296, TP 304-310, SL 278.
- AMRT: Buy 1425-1435, TP 1465-1500, SL 1305.
Rekomendasi saham hari ini bersifat informatif dan bukan ajakan untuk membeli atau menjual. Investor tetap perlu menyesuaikan keputusan dengan profil risiko dan tujuan keuangan masing-masing. Dalam kondisi pasar yang berfluktuasi, disiplin pada strategi dan manajemen risiko menjadi kunci utama.
Disclaimer: Seluruh analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini hanya untuk tujuan informasi. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing investor. Selamat berinvestasi secara bijak.
