IHSG Tertekan Saat Bursa Asia Menguat

Forex & Saham Kevin S. Pratama 27 Mei 2026 05:11 WIB 2
IHSG Tertekan Saat Bursa Asia Menguat

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG melemah hampir 2 persen pada awal perdagangan, Kamis (21/5/2026), di tengah menguatnya mayoritas bursa Asia. Pelemahan ini terjadi saat investor merespons pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut negosiasi perang dengan Iran telah memasuki tahap akhir.

Berdasarkan data RTI Business, IHSG terkoreksi 1,94 persen ke level 6.196,80. Padahal, indeks sempat dibuka menguat hingga 6.378,81 sebelum berbalik arah.

IHSG Terkoreksi di Awal Sesi

Pergerakan IHSG pada sesi awal perdagangan menunjukkan tekanan jual yang cukup kuat. Indeks utama bursa domestik itu berbalik melemah setelah sempat bergerak positif di pembukaan. Kondisi ini menandakan sentimen pasar masih rentan terhadap perubahan isu global.

Pelemahan IHSG terjadi ketika bursa kawasan Asia justru kompak menguat. Kontras ini menunjukkan pasar domestik belum sepenuhnya mengikuti optimisme regional. Investor tampak lebih berhati-hati dalam merespons perkembangan geopolitik terbaru.

Tekanan pada IHSG juga mencerminkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap arah kebijakan dan ketidakpastian eksternal. Sentimen positif dari luar negeri belum cukup kuat untuk menahan koreksi di pasar saham Indonesia. Akibatnya, indeks bergerak di zona merah pada awal perdagangan.

Sentimen Positif Dari Asia

Mayoritas bursa Asia dibuka lebih tinggi pada perdagangan Kamis ini. Penguatan tersebut sejalan dengan kenaikan Wall Street pada sesi sebelumnya. Pasar menilai perkembangan negosiasi AS dan Iran memberi harapan baru bagi stabilitas global.

Optimisme investor meningkat setelah Trump menyebut pembicaraan dengan Iran telah memasuki tahap akhir. Pernyataan itu memunculkan ekspektasi meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Jika terjadi, pasar berharap harga minyak dunia ikut turun.

Penurunan harga minyak biasanya dipandang positif bagi pasar ekuitas global. Biaya produksi dan tekanan inflasi berpotensi lebih terkendali jika energi bergerak lebih rendah. Karena itu, pelaku pasar merespons dengan pembelian di sejumlah bursa Asia.

Bursa Regional Kompak Menguat

Indeks Nikkei 225 Jepang melonjak 3,54 persen pada pembukaan perdagangan. Kenaikan itu juga didorong oleh rilis data perdagangan terbaru dari Jepang. Investor menilai data tersebut memperkuat prospek ekonomi negara itu.

Di Korea Selatan, indeks Kospi menguat hingga 7 persen pada awal perdagangan. Sementara itu, Kosdaq naik 4,88 persen dan menunjukkan minat beli yang tinggi di saham berisiko. Penguatan dua indeks ini mencerminkan optimisme yang luas di pasar setempat.

Selain itu, S&P/ASX 200 Australia naik 1,62 persen. Indeks CSI 300 China juga bertambah 1,67 persen, sedangkan Hang Seng Hong Kong menguat 0,24 persen. Data tersebut memperlihatkan tren positif yang merata di kawasan Asia-Pasifik.

Prospek Pasar Masih Sensitif

Pergerakan IHSG hari ini memperlihatkan bahwa pasar domestik masih sensitif terhadap sentimen global. Isu geopolitik, arah harga minyak, dan respons bursa regional menjadi faktor penting yang diperhatikan investor. Dalam kondisi seperti ini, volatilitas pasar masih berpotensi tinggi.

Pelaku pasar diperkirakan akan memantau perkembangan negosiasi AS dan Iran secara ketat. Setiap pernyataan baru dari pihak terkait berpotensi mengubah arah perdagangan, baik di Asia maupun di Indonesia. Karena itu, sentimen eksternal masih menjadi penentu utama dalam jangka pendek.

Bagi investor, situasi ini menuntut kehati-hatian dalam mengambil keputusan transaksi. Pemantauan terhadap pergerakan indeks, harga komoditas, dan berita geopolitik perlu dilakukan secara berkala. Dengan begitu, strategi investasi dapat disesuaikan dengan kondisi pasar yang cepat berubah.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!