Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG menjadi indeks paling tertekan di kawasan Asia Pasifik pada perdagangan Kamis, 21 Mei. Pelemahan itu dipicu sejumlah sentimen pasar, termasuk dampak rebalancing MSCI terhadap saham-saham Indonesia.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, mengatakan pengumuman MSCI masih menekan sejumlah saham berkapitalisasi besar. Menurut dia, ada 18 saham Indonesia yang terdampak dari perubahan komposisi indeks global tersebut.
Tekanan IHSG dari MSCI
Hasan menjelaskan bahwa pasar sudah mengantisipasi dampak rebalancing sejak pengumuman MSCI dirilis. Saham-saham yang sebelumnya masuk dalam konstituen indeks Standard dan small cap MSCI disebut mulai tertekan.
Tekanan itu terutama datang dari kewajiban penyesuaian portofolio oleh ETF dan reksa dana pasif. Instrumen tersebut umumnya mengikuti pergerakan indeks acuan secara ketat.
Akibatnya, tekanan jual pada saham-saham tertentu sulit dihindari dalam jangka pendek. Kondisi ini ikut membuat IHSG bergerak lebih lemah dibandingkan bursa lain di Asia Pasifik.
Dampak Penyesuaian Portofolio
Menurut Hasan, pelemahan pada sejumlah saham besar Indonesia merupakan konsekuensi yang wajar dari proses rebalancing. Ia menilai pergerakan tersebut terjadi karena pelaku pasar menyesuaikan posisi sesuai komposisi indeks baru.
Penyesuaian itu membuat arus dana di pasar saham berpotensi berubah secara cepat. Investor institusi yang mengacu pada MSCI biasanya menata ulang portofolio segera setelah ada pengumuman perubahan indeks.
Dalam kondisi seperti ini, saham yang keluar dari indeks cenderung menghadapi tekanan lebih besar. Sementara itu, saham yang tetap bertahan atau masuk indeks baru bisa memperoleh minat beli berbeda.
Potensi Lanjutan Tekanan Saham
Hasan menyebut pelemahan indeks masih berpeluang berlanjut hingga keputusan pengeluaran 18 saham itu efektif berlaku. Tenggat tersebut jatuh setelah penutupan perdagangan pada 29 Mei 2026.
Selama periode tersebut, pasar masih akan mencermati apakah terjadi penyesuaian lanjutan pada arus dana asing. Investor disebut akan terus membaca arah transaksi bersih di saham-saham yang terdampak.
OJK melihat proses itu sebagai bagian dari dinamika pasar modal yang lazim terjadi. Namun, besarnya tekanan tetap bergantung pada respons pelaku pasar terhadap keputusan MSCI.
Prospek Aliran Dana Pasar
Hasan mengatakan pihaknya masih menunggu apakah pada akhirnya akan terjadi net outflow atau net inflow. Menurutnya, pasar sudah mulai membentuk persepsi bahwa peluang net outflow masih cukup besar.
Persepsi tersebut muncul karena penyesuaian portofolio dinilai belum selesai. Dengan demikian, saham-saham tertentu masih berisiko mengalami volatilitas dalam beberapa waktu ke depan.
Di sisi lain, pelaku pasar juga menilai kondisi ini bisa menjadi momentum seleksi saham yang lebih ketat. Investor disarankan mencermati fundamental emiten dan arah dana asing sebelum mengambil keputusan.
