IHSG Tertekan Jual Asing, Saham GOTO hingga TAPG Disorot

Forex & Saham Gilang Nabaris 02 Juni 2026 16:21 WIB 2
IHSG Tertekan Jual Asing, Saham GOTO hingga TAPG Disorot

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG kembali tertekan pada perdagangan Selasa, 26 Mei, setelah ditutup turun 1,23 persen ke level 6.130,19. Pelemahan terjadi di tengah derasnya arus keluar dana asing, sentimen penyesuaian indeks MSCI, serta melemahnya rupiah yang membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati.

Meski beberapa saham berkapitalisasi besar sempat menopang pergerakan indeks, tekanan dari saham perbankan dan konglomerasi membuat IHSG berakhir di zona merah. Investor kini menunggu arah pasar menjelang rebalancing MSCI yang efektif pada 1 Juni 2026, di saat aksi jual asing masih berlanjut.

Tekanan IHSG Masih Berlanjut

Penguatan saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, PT Barito Renewables Energy Tbk, dan PT Barito Pacific Tbk sempat membantu menahan penurunan IHSG. Namun, laju indeks kembali tertekan oleh pelemahan saham PT Astra International Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, dan PT Bank Central Asia Tbk.

Investor asing tercatat melakukan jual bersih sekitar Rp1,89 triliun di pasar reguler. Jika dihitung secara keseluruhan pasar, nilai jual bersih asing mencapai sekitar Rp1,60 triliun.

Mayoritas sektor juga ditutup melemah, dengan sektor industrial mencatat penurunan paling dalam. Sementara itu, sektor infrastruktur menjadi salah satu penopang dengan kenaikan tipis di tengah tekanan pasar yang lebih luas.

Tekanan domestik terjadi meski bursa saham Amerika Serikat ditutup menguat. Dow Jones bergerak terbatas, sedangkan S&P 500 dan Nasdaq sama-sama mengakhiri perdagangan di zona hijau.

MSCI Dan Arus Dana Asing

Pelaku pasar masih menyoroti potensi keluarnya dana asing menjelang implementasi MSCI rebalancing pada 1 Juni 2026. Dalam dua hari terakhir, arus keluar asing di pasar reguler tercatat mencapai sekitar Rp3,98 triliun.

Sentimen tersebut membuat investor cenderung menahan diri, terutama pada saham-saham yang berpotensi terdampak perubahan indeks. Pergerakan rupiah yang masih melemah turut menambah kehati-hatian pasar.

Di tengah kondisi itu, volatilitas pasar diperkirakan masih akan tinggi dalam jangka pendek. Arah perdagangan akan sangat dipengaruhi oleh respons investor terhadap bobot saham dalam indeks global.

Faktor eksternal dan domestik kini bergerak bersamaan dalam menekan sentimen. Kondisi ini membuat pasar saham nasional belum memperoleh katalis kuat untuk kembali menguat secara konsisten.

GOTO Dan HRUM Menjadi Sorotan

PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk atau GOTO menjadi salah satu emiten yang disorot pasar. MSCI disebut membekukan seluruh perubahan terkait jumlah saham beredar, Foreign Inclusion Factor, Domestic Inclusion Factor, hingga komposisi indeks untuk saham GOTO dalam Tinjauan Indeks Mei 2026.

MSCI akan kembali mengevaluasi likuiditas saham GOTO pada periode review Agustus 2026 berdasarkan metodologi Global Investable Market Indexes. Saham GOTO sendiri bergerak di level Rp50 sejak 13 Mei 2026.

Hingga 26 Mei, volume transaksi GOTO tercatat sekitar 333 juta saham dengan nilai transaksi Rp16,67 miliar. Angka itu jauh di bawah rata-rata perdagangan Januari hingga April 2026 yang mencapai sekitar 4,62 miliar saham dengan nilai transaksi Rp274,63 miliar.

Sementara itu, PT Harum Energy Tbk atau HRUM menargetkan produksi batu bara 2 juta hingga 3 juta ton pada 2026. Perseroan juga membidik produksi dan penjualan nikel dalam bentuk NPI, HG Matte, dan MHP sebesar 107 ribu hingga 117 ribu ton metal pada tahun depan.

TAPG Bagi Dividen Tunai

PT Triputra Agro Persada Tbk atau TAPG memutuskan membagikan dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rp180 per saham. Nilai tersebut setara total Rp3,57 triliun, atau sekitar 96,43 persen dari laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk.

Sepanjang 2025, TAPG membukukan pendapatan Rp11,40 triliun, naik 17,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Laba bersih perseroan juga meningkat 18,59 persen menjadi Rp3,70 triliun, sementara laba per saham naik menjadi Rp186.

Dividen Rp180 per saham tersebut sudah termasuk dua dividen interim yang sebelumnya dibayarkan masing-masing Rp39 per saham dan Rp50 per saham. Dengan demikian, dividen final yang akan dibagikan sebesar Rp91 per saham atau sekitar Rp1,81 triliun.

Perseroan menetapkan cum date dividen pada 3 Juni 2026 dan pembayaran dividen final dijadwalkan pada 18 Juni 2026. Di tengah pasar yang bergejolak, aksi korporasi seperti ini kerap menjadi perhatian investor pencari imbal hasil.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!