IHSG Terkoreksi ke 6.047, Dekati Level Saat COVID-19

Forex & Saham Stanislaus Firstyan Gratia 27 Mei 2026 22:12 WIB 3
IHSG Terkoreksi ke 6.047, Dekati Level Saat COVID-19

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Jumat, 22 Mei 2026, dan sempat bergerak ke area yang pernah identik dengan masa awal pandemi COVID-19. Berdasarkan data RTI pada pukul 09.05 WIB, IHSG berada di level 6.047, melemah 47 poin atau 0,78 persen dari pembukaan 6.065. Pada sesi pagi, indeks sempat menyentuh level terendah 5.966 dan tertinggi 6.074.

Pergerakan tersebut menandakan volatilitas masih tinggi di pasar saham domestik, seiring dominasi saham yang melemah dibandingkan yang menguat. Nilai transaksi pagi ini mencapai Rp1,67 triliun dengan volume 3,60 miliar lembar saham dalam 178.693 kali transaksi. Dari keseluruhan saham, 129 menguat, 418 melemah, dan 155 stagnan.

IHSG Menekan Pasar Hari Ini

Tekanan pada IHSG pagi ini menunjukkan sentimen pasar masih rapuh, meski pembukaan sempat berada di atas level 6.000. Pelemahan 47 poin memperlihatkan adanya aksi jual yang cukup agresif di awal perdagangan. Kondisi ini juga membuat pelaku pasar mencermati arah indeks dalam beberapa jam berikutnya.

Secara intraday, rentang pergerakan IHSG terbilang lebar karena sempat turun ke 5.966 sebelum kembali bergerak ke atas. Pola tersebut menandakan pasar masih mencari keseimbangan setelah tekanan jual datang secara bertahap. Dalam situasi seperti ini, saham berkapitalisasi besar biasanya ikut menjadi penentu arah indeks.

Data transaksi memperlihatkan minat jual lebih kuat daripada minat beli pada pagi hari. Jumlah saham yang melemah jauh lebih banyak dibandingkan saham yang naik, sehingga tekanan indeks menjadi sulit tertahan. Meski begitu, masih ada sebagian saham yang bertahan di area stagnan dan menopang likuiditas pasar.

Dari sisi nilai transaksi, aktivitas perdagangan terpantau tetap aktif dengan nominal Rp1,67 triliun. Volume sebesar 3,60 miliar lembar saham menunjukkan pasar belum kehilangan partisipasi pelaku. Namun, aktivitas yang ramai tidak otomatis berbanding lurus dengan penguatan indeks jika dominasi jual tetap tinggi.

IHSG dan Bayang-Bayang COVID

Perbandingan dengan masa pandemi COVID-19 kembali mencuat karena IHSG sempat bergerak ke area 5.000-an. Situasi itu mengingatkan pasar pada periode awal 2020 saat kepanikan investor meningkat tajam. Kala itu, tekanan terhadap saham terjadi hampir di seluruh sektor.

Pada 2 Maret 2020, saat Presiden Joko Widodo mengumumkan dua kasus positif pertama di Indonesia, IHSG ditutup turun 91 poin atau 1,67 persen ke level 5.361. Penurunan tersebut menjadi salah satu sinyal awal bahwa pasar modal akan menghadapi tekanan besar. Seiring bertambahnya kasus, indeks terus bergerak melemah.

Penurunan paling tajam terjadi pada 9 Maret 2020, ketika IHSG ditutup anjlok 6,5 persen ke level 5.136. Pada periode itu, pelemahan sedalam tersebut dianggap sangat langka dan hanya muncul saat kondisi ekonomi benar-benar berat. Kepanikan investor membuat pasar bergerak cepat tanpa banyak penyangga.

Keadaan tersebut mendorong regulator dan pengawas pasar modal mengambil langkah pengamanan. Pada 10 Maret 2020, Bursa Efek Indonesia sempat menerapkan kebijakan penghentian perdagangan atau trading halt. Kebijakan itu ditempuh untuk meredam gejolak dan memberi ruang bagi pasar untuk menenangkan diri.

Volume Transaksi Masih Tinggi

Meski IHSG melemah, transaksi pagi ini menunjukkan pasar tetap aktif dan likuid. Total nilai perdagangan yang menembus Rp1,67 triliun menandakan investor masih melakukan reposisi portofolio. Kondisi ini umum terjadi ketika pelaku pasar merespons tekanan dengan langkah defensif.

Volume sebesar 3,60 miliar lembar saham dalam 178.693 kali transaksi menegaskan tingginya frekuensi jual-beli. Angka tersebut memperlihatkan bahwa minat pelaku pasar belum menghilang, meski arah pergerakan masih cenderung negatif. Dalam situasi seperti ini, kecepatan penyesuaian sentimen menjadi faktor penting.

Dominasi 418 saham yang melemah juga memberi gambaran bahwa tekanan tidak hanya terjadi pada kelompok tertentu. Banyaknya saham turun mengindikasikan pelemahan cukup merata di pasar. Hal ini membuat indeks sulit mendapat dorongan kuat untuk segera pulih.

Di sisi lain, 129 saham yang menguat tetap memberi sinyal bahwa peluang seleksi saham masih terbuka. Investor yang cermat biasanya akan mencari emiten dengan fundamental kuat saat pasar tertekan. Dalam fase volatil seperti ini, pemilihan saham menjadi lebih penting dibandingkan sekadar mengikuti arah indeks.

Arah IHSG Masih Rentan

Dengan pelemahan harian, bulanan, tiga bulanan, dan sepanjang 2026, arah IHSG masih terlihat rentan. Kondisi ini menunjukkan tekanan tidak hanya bersifat sesaat, tetapi telah membentuk tren yang lebih panjang. Oleh karena itu, pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati dalam mengambil keputusan.

IHSG tercatat melemah 20,01 poin secara bulanan, turun 25,38 persen dalam tiga bulan, dan terkoreksi 30,07 persen sepanjang 2026. Deretan angka tersebut menegaskan bahwa pasar sedang berada dalam fase penyesuaian yang berat. Pada tahap seperti ini, sentimen global dan domestik sama-sama berpengaruh besar.

Jika tekanan jual berlanjut, pasar berpotensi menguji kembali area psikologis di bawah 6.000. Namun, bila muncul aksi beli pada saham-saham penopang, indeks masih berpeluang melakukan rebound teknikal. Pergerakan berikutnya akan sangat ditentukan oleh respons investor terhadap sentimen yang berkembang.

Bagi pelaku pasar, kondisi saat ini menuntut kedisiplinan dalam manajemen risiko dan pemilihan aset. Volatilitas yang tinggi membuat keputusan emosional berisiko memperbesar kerugian. Dengan demikian, fokus pada fundamental dan disiplin investasi menjadi kunci di tengah tekanan IHSG.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!