Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup melemah 3,46 persen ke level 6.370,68 pada perdagangan Selasa, 19 Mei, di tengah tekanan mayoritas sektor dan sentimen negatif dari bursa global. Meski pasar terkoreksi dalam, investor asing masih mencatatkan beli bersih di pasar reguler dan seluruh pasar. Pergerakan ini terjadi saat pelaku pasar menanti keputusan suku bunga Bank Indonesia untuk Mei 2026. Rupiah yang bergerak di kisaran Rp17.705 per dolar AS ikut menjadi perhatian utama investor.
Di tengah tekanan tersebut, sejumlah saham masih mampu bertahan dan mencatat kenaikan. Saham Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk atau SRAJ naik 9,06 persen, Sumber Alfaria Trijaya Tbk atau AMRT menguat 2,12 persen, dan Bank Syariah Indonesia Tbk atau BRIS bertambah 4,12 persen. Sebaliknya, tekanan terbesar menimpa Dian Swastatika Sentosa Tbk atau DSSA yang turun 14,77 persen. Mora Telematika Indonesia Tbk atau MORA dan Bank Central Asia Tbk atau BBCA juga terkoreksi.
IHSG Tertekan Sektor Saham
Tekanan pada IHSG terutama datang dari pelemahan hampir seluruh sektor, sehingga laju indeks sulit bertahan di zona hijau. Hanya sektor kesehatan yang mampu menguat tipis 0,55 persen, sedangkan sektor basic industry menjadi yang paling lemah dengan penurunan 7,30 persen. Kondisi ini menunjukkan aksi jual masih dominan pada saham-saham siklikal. Dalam situasi seperti ini, selektivitas menjadi kunci bagi pelaku pasar.
Sentimen eksternal juga memperberat pergerakan indeks, setelah bursa saham Amerika Serikat ditutup melemah pada perdagangan sebelumnya. Dow Jones turun 0,65 persen, S&P 500 terkoreksi 0,67 persen, dan Nasdaq melemah 0,84 persen. Pelemahan tersebut menambah kekhawatiran investor terhadap arah pasar global dalam jangka pendek. Akibatnya, minat risiko di pasar domestik ikut tertekan.
Di sisi lain, aliran dana asing masih memberi penyangga bagi pasar meski tidak cukup kuat menahan penurunan indeks. Investor asing membukukan beli bersih sekitar Rp306,34 miliar di pasar reguler dan Rp260,12 miliar di seluruh pasar. Arus beli ini menunjukkan minat pada saham tertentu masih terjaga. Namun, tekanan jual pada saham berkapitalisasi besar membuat IHSG tetap berakhir di zona merah.
Pelaku pasar kini menunggu hasil rapat Bank Indonesia yang diperkirakan dapat memberi arah baru bagi pasar saham dan rupiah. Konsensus memperkirakan BI Rate naik menjadi 5,00 persen dari sebelumnya 4,75 persen. Ekspektasi kenaikan suku bunga muncul seiring tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Jika kebijakan moneter lebih ketat, pasar saham berpotensi kembali menghadapi volatilitas.
Buyback Dorong Emisi Saham
Di tengah tekanan pasar, sejumlah emiten memilih memperkuat sentimen lewat aksi pembelian kembali saham atau buyback. Delta Dunia Makmur Tbk atau DOID mengumumkan buyback dengan nilai maksimal US$6 juta atau sekitar Rp104,25 miliar. Dana yang digunakan berasal dari kas internal perseroan. Langkah ini ditujukan untuk mendukung stabilitas harga saham dan optimasi struktur modal.
DOID menargetkan pembelian hingga 320,77 juta saham, setara 4,36 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Perseroan memiliki posisi kas sebesar US$210,26 juta per akhir Desember 2025. Buyback akan dilakukan bertahap setelah memperoleh persetujuan pemegang saham dalam RUPS pada 24 Juni 2026. Periode pelaksanaan dibatasi maksimal 12 bulan dengan tenggat akhir Juni 2027.
Setelah aksi korporasi tersebut, total ekuitas DOID diperkirakan turun menjadi US$42,87 juta dari sebelumnya US$48,87 juta. Jumlah saham beredar juga diproyeksikan berkurang menjadi 7,03 miliar saham dari 7,35 miliar saham. Secara teori, pengurangan saham beredar dapat memperbaiki metrik laba per saham. Pasar biasanya memandang buyback sebagai sinyal kepercayaan manajemen terhadap prospek perusahaan.
Selain DOID, Estika Tata Tiara Tbk atau BEEF juga menyiapkan buyback saham dengan nilai maksimal Rp100 miliar. Perseroan menargetkan pembelian kembali sekitar 333,33 juta saham, atau 4,10 persen dari total saham beredar. Harga maksimal yang disiapkan berada di level Rp300,60 per saham. Aksi ini akan dijalankan melalui BCA Sekuritas mulai 19 Mei 2026 hingga 18 Mei 2027.
Kinerja Emiten Terpantau
Selain aksi korporasi, pasar juga menyoroti kinerja keuangan emiten yang baru dirilis. ABM Investama Tbk atau ABMM mencatat laba bersih kuartal I-2026 sebesar US$14,88 juta, turun 30,39 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan perseroan ikut turun menjadi US$222,65 juta dari US$250,02 juta. Penurunan ini menandakan tekanan pada margin usaha masih cukup besar.
Manajemen ABMM menyebut lonjakan harga bahan bakar minyak akibat konflik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang membebani operasional. Harga minyak pada kuartal I-2026 tercatat mencapai US$101,38 per barel, jauh di atas posisi akhir 2025 sebesar US$57,42 per barel. Biaya energi yang meningkat biasanya berdampak langsung pada biaya produksi dan distribusi. Dalam kondisi demikian, efisiensi operasional menjadi fokus utama perusahaan.
ABMM juga tengah menyelesaikan perizinan proyek PT Piranti Jaya Utama di Kalimantan Tengah dengan target operasi pada akhir 2026. Sementara itu, tambang batu bara PT Nirmala Coal Nusantara di Aceh diharapkan mulai menambah pendapatan setelah penjualan perdana pada Februari lalu. Cadangan yang dimiliki tambang tersebut sekitar 31 juta ton. Kontribusi proyek baru ini akan menjadi katalis penting bagi pertumbuhan pendapatan perseroan.
Dari sisi saham unggulan, rekomendasi pasar hari ini mencakup TLKM, ASPR, MYOR, SMIL, dan AMRT dengan strategi beli pada rentang harga yang sudah ditentukan analis. Level target keuntungan dan batas kerugian disusun untuk membantu investor mengelola risiko secara disiplin. Meski demikian, setiap keputusan tetap perlu disesuaikan dengan profil risiko masing-masing investor. Dalam situasi pasar yang volatil, pendekatan selektif dan terukur menjadi pilihan yang paling bijak.
Prospek Pasar Jangka Pendek
Pergerakan IHSG dalam beberapa sesi ke depan akan sangat ditentukan oleh respons pasar terhadap kebijakan Bank Indonesia. Jika suku bunga benar-benar dinaikkan, sektor perbankan, konsumsi, dan properti berpotensi menyesuaikan valuasinya. Di sisi lain, saham berbasis komoditas masih dapat dipengaruhi dinamika harga minyak dan batu bara. Karena itu, investor perlu mencermati perpaduan faktor domestik dan global.
Sentimen dari Wall Street juga tetap relevan karena sering menjadi acuan awal bagi arah perdagangan di Asia. Pelemahan indeks utama Amerika Serikat menunjukkan kehati-hatian pasar terhadap prospek ekonomi dan kebijakan moneter. Dalam kondisi seperti ini, arus dana dapat bergerak lebih cepat ke aset yang dianggap defensif. Hal tersebut ikut menjelaskan mengapa sektor kesehatan mampu bertahan ketika sektor lain tertekan.
Di pasar domestik, aksi buyback emiten bisa menjadi penopang psikologis bagi investor jangka pendek. Namun, efeknya biasanya bersifat terbatas jika tidak diiringi perbaikan fundamental dan sentimen makro. Oleh sebab itu, perhatian pasar tetap tertuju pada arah rupiah, inflasi, dan kebijakan suku bunga. Kombinasi ketiga faktor tersebut akan menentukan ruang pemulihan IHSG.
Bagi investor ritel, disiplin pada strategi masuk dan keluar pasar tetap menjadi faktor utama. Mengikuti rekomendasi saham dapat membantu, tetapi tetap tidak menggantikan analisis pribadi atas kondisi emiten. Diversifikasi portofolio juga penting untuk menahan risiko saat indeks bergerak fluktuatif. Dengan pendekatan tersebut, investor dapat lebih siap menghadapi volatilitas pasar yang masih tinggi.
