IHSG Terkoreksi 3,46 Persen, Investor Pantau BI Rate

Forex & Saham Stanislaus Firstyan Gratia 24 Mei 2026 17:43 WIB 5
IHSG Terkoreksi 3,46 Persen, Investor Pantau BI Rate

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup melemah 3,46 persen ke level 6.370,68 pada perdagangan Selasa, 19 Mei. Koreksi terjadi di tengah tekanan pada mayoritas sektor, pelemahan bursa global, serta sikap hati-hati pelaku pasar menjelang keputusan suku bunga Bank Indonesia.

Di tengah penurunan indeks, investor asing masih mencatat beli bersih di pasar reguler dan seluruh pasar. Sejumlah saham tetap menguat, sementara beberapa emiten berkapitalisasi besar justru menjadi penekan utama pergerakan pasar.

IHSG Tertekan Sektor Saham

Perdagangan saham berlangsung lesu sejak awal sesi dan berakhir di zona merah pada penutupan. IHSG terkoreksi 3,46 persen ke 6.370,68 setelah mayoritas sektor mengalami tekanan jual. Hanya sektor kesehatan yang mampu bertahan dan mencatat kenaikan 0,55 persen. Sebaliknya, sektor basic industry menjadi yang paling dalam melemah dengan penurunan 7,30 persen.

Di tengah koreksi tersebut, beberapa saham masih mampu menunjukkan performa positif. Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk atau SRAJ naik 9,06 persen, disusul Sumber Alfaria Trijaya Tbk atau AMRT yang menguat 2,12 persen. Bank Syariah Indonesia Tbk atau BRIS juga bertambah 4,12 persen pada akhir perdagangan.

Tekanan terbesar datang dari sejumlah saham unggulan yang tergerus cukup dalam. Dian Swastatika Sentosa Tbk atau DSSA turun 14,77 persen, Mora Telematika Indonesia Tbk atau MORA melemah 9,51 persen, dan Bank Central Asia Tbk atau BBCA terkoreksi 2,86 persen. Kondisi ini menunjukkan selektivitas investor masih sangat tinggi di tengah volatilitas pasar.

Sentimen Global Menekan Pasar

Pelemahan IHSG tidak terlepas dari sentimen eksternal yang kurang bersahabat. Bursa saham Amerika Serikat kompak ditutup melemah dan memperburuk psikologi pasar regional. Dow Jones turun 0,65 persen ke level 49.363, S&P 500 terkoreksi 0,67 persen menjadi 7.353, dan Nasdaq melemah 0,84 persen ke 25.870.

Selain itu, pelaku pasar juga menyoroti tekanan terhadap rupiah yang bergerak di kisaran Rp17.705 per dolar AS. Kondisi tersebut membuat ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter Bank Indonesia menjadi semakin penting. Konsensus pasar memperkirakan BI Rate akan naik menjadi 5,00 persen dari sebelumnya 4,75 persen.

Ekspektasi kenaikan suku bunga dinilai dapat memengaruhi sentimen jangka pendek di pasar saham. Investor cenderung menunggu kepastian arah kebijakan sebelum kembali agresif masuk ke aset berisiko. Situasi ini membuat transaksi cenderung selektif, terutama pada saham-saham sensitif terhadap suku bunga dan nilai tukar.

Aksi Buyback Emiten Ramai

Di sisi emiten, Delta Dunia Makmur Tbk atau DOID mengumumkan rencana pembelian kembali saham dengan nilai maksimal US$6 juta. Dana buyback akan berasal dari kas internal perusahaan. Perseroan menargetkan pembelian hingga 320,77 juta saham atau setara 4,36 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh.

Pelaksanaan buyback akan dimulai setelah memperoleh persetujuan pemegang saham dalam RUPS pada 24 Juni 2026. Aksi tersebut direncanakan berlangsung bertahap hingga 12 bulan dan dibatasi sampai Juni 2027. DOID juga mencatat kas sebesar US$210,26 juta pada akhir Desember 2025, sehingga ruang likuiditas dinilai masih memadai.

Estika Tata Tiara Tbk atau BEEF juga menyiapkan buyback saham dengan nilai maksimal Rp100 miliar. Perseroan berencana membeli sekitar 333,33 juta saham atau setara 4,10 persen dari total saham beredar. Pembelian akan dilakukan melalui BCA Sekuritas secara bertahap mulai 19 Mei 2026 hingga 18 Mei 2027.

Kinerja ABMM dan Saham Pilihan

ABM Investama Tbk atau ABMM melaporkan laba bersih kuartal I-2026 sebesar US$14,88 juta. Capaian tersebut turun 30,39 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan perseroan juga menyusut menjadi US$222,65 juta dari sebelumnya US$250,02 juta.

Manajemen menyebut kenaikan harga bahan bakar minyak akibat konflik di Timur Tengah sebagai salah satu faktor yang menekan operasional. Harga minyak pada kuartal I-2026 tercatat mencapai US$101,38 per barel, jauh di atas posisi akhir 2025 sebesar US$57,42 per barel. ABMM kini juga menyiapkan proyek PT Piranti Jaya Utama di Kalimantan Tengah dan tambang NCN di Aceh untuk menopang kinerja ke depan.

Di tengah kondisi pasar yang fluktuatif, sejumlah saham masih menarik perhatian pelaku pasar. Rekomendasi yang muncul antara lain TLKM, ASPR, MYOR, SMIL, dan AMRT dengan level beli, target profit, serta batas rugi yang berbeda. Investor tetap disarankan menyesuaikan keputusan dengan profil risiko masing-masing dan tidak hanya mengikuti pergerakan jangka pendek.

Tag Terkait
#IHSG#saham#emiten

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!