IHSG Menguat, Saham Perbankan dan Emiten Jadi Penopang

Forex & Saham Kevin S. Pratama 29 Mei 2026 00:06 WIB 2
IHSG Menguat, Saham Perbankan dan Emiten Jadi Penopang

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup menguat 0,72 persen ke level 6.206,35 pada perdagangan Senin, 25 Mei. Kenaikan ini ditopang oleh saham perbankan dan otomotif, sementara sebagian emiten lain justru terkoreksi cukup dalam.

Di saat yang sama, investor asing masih mencatat jual bersih Rp2,09 triliun di pasar reguler dan Rp2,22 triliun di seluruh pasar. Pergerakan hari ini diperkirakan tetap terbatas, dengan pelaku pasar mencermati sentimen global, kabar emiten, serta potensi aksi ambil untung menjelang libur panjang bursa.

IHSG Menguat Di Tengah Sentimen

Penguatan IHSG pada akhir perdagangan didorong oleh kinerja saham-saham berkapitalisasi besar. Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk naik 3,93 persen, PT Bank Central Asia Tbk menguat 3,39 persen, dan PT Astra International Tbk bertambah 3,70 persen.

Di sisi lain, beberapa saham justru berada di bawah tekanan. PT Barito Pacific Tbk melemah 7,79 persen, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk turun 11,93 persen, dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk terkoreksi 9,12 persen.

Secara sektoral, enam sektor berhasil ditutup di zona hijau. Sektor transportasi menjadi penopang utama dengan kenaikan 3,83 persen, sedangkan sektor energi terkoreksi paling dalam sebesar 2,04 persen.

Pelaku pasar juga memantau liburnya bursa saham Amerika Serikat pada Senin waktu setempat karena peringatan Memorial Day. Kondisi tersebut membuat aktivitas perdagangan global cenderung lebih tenang dan dapat menahan laju volatilitas jangka pendek.

IHSG Ditekan Jual Bersih Asing

Meski indeks bergerak positif, arus modal asing masih menjadi perhatian utama. Investor asing tercatat melakukan jual bersih Rp2,09 triliun di pasar reguler dan Rp2,22 triliun di seluruh pasar.

Tekanan tersebut menunjukkan kehati-hatian pelaku pasar terhadap dinamika eksternal. Di tengah kondisi seperti ini, penguatan IHSG lebih banyak ditopang oleh rotasi sektor dan minat beli pada saham tertentu.

Untuk perdagangan hari ini, IHSG diperkirakan bergerak terbatas. Sentimen positif datang dari perkembangan pembicaraan Iran dan Amerika Serikat yang dinilai dapat meredakan ketegangan geopolitik.

Selain itu, penundaan implementasi penuh kebijakan ekspor DSI hingga awal 2027 turut menjadi perhatian investor. Di sisi lain, MSCI Indonesia offshore yang menguat 1,70 persen memberi tambahan sentimen positif bagi pasar domestik.

Saham Emiten Curi Perhatian

Solusi Environment Asia Tbk atau SOFA resmi bergabung dalam konsorsium proyek Waste to Energy bersama Zhejiang Weiming melalui anak usahanya, PT Ananta Energi Asia. Konsorsium ini akan menggarap dua proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik di Denpasar Raya dan Bogor Raya.

Zhejiang Weiming dikenal sebagai salah satu operator PSEL terbesar di dunia. Pada 2025, perusahaan tersebut memproduksi listrik berbasis sampah sebesar 4,62 miliar kWh.

Kerja sama ini membuka peluang pendapatan berulang bagi SOFA. Skema Power Purchase Agreement selama 30 tahun dengan PT PLN (Persero) menggunakan tarif tetap US$0,20 per kWh menjadi faktor utama yang menarik perhatian investor.

Di sisi lain, Millennium Pharmacon International Tbk atau SDPC membidik pendapatan Rp5 triliun pada 2026. Perseroan juga menargetkan laba bersih naik menjadi Rp60 miliar dari proyeksi sebelumnya Rp38,46 miliar.

Saham Pilihan Dan Dividen

Untuk menopang target tersebut, SDPC tengah menyelesaikan pembangunan gudang pusat di Bekasi. Proyek itu ditujukan untuk meningkatkan kapasitas hingga tiga kali lipat dan saat ini progresnya sudah mencapai 95 persen.

Perseroan juga menyiapkan ekspansi cabang di Kupang dan Kendari. Masing-masing cabang diperkirakan dapat menyumbang pendapatan sekitar Rp5 miliar per bulan.

Sementara itu, Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk atau SMAR menetapkan dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rp270 per saham. Total dividen tersebut mencapai Rp775,49 miliar atau setara 30 persen dari laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk.

Sepanjang 2025, SMAR membukukan pendapatan Rp86,95 triliun dan laba bersih Rp2,58 triliun. Pada perdagangan 25 Mei 2026, saham SMAR ditutup di level Rp5.225 per saham dengan indikasi dividend yield sekitar 5,17 persen.

Selain emiten tersebut, sejumlah saham juga masuk radar rekomendasi harian. Beberapa di antaranya adalah BRIS, INDF, PGAS, SSIA, dan ISAT dengan area beli, target profit, serta batas risiko yang telah ditentukan.

Disclaimer: Analisis dan rekomendasi saham ini bersifat informatif dan bukan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing investor sesuai profil risiko dan tujuan keuangan pribadi.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!