IHSG Menguat, Saham Komoditas dan Emiten Jadi Sorotan

Forex & Saham Kevin S. Pratama 28 Mei 2026 07:20 WIB 2
IHSG Menguat, Saham Komoditas dan Emiten Jadi Sorotan

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup menguat 1,10 persen ke level 6.162,04 pada perdagangan Jumat, 22 Mei. Kenaikan indeks ditopang oleh lonjakan saham-saham berbasis komoditas dan tambang, meski tekanan dari saham berkapitalisasi besar serta aksi jual asing masih membayangi pasar.

Di tengah pergerakan tersebut, investor juga mencermati sentimen global, rencana kebijakan hilirisasi komoditas strategis, dan dampak rebalancing indeks internasional. Sejumlah emiten domestik turut menjadi perhatian setelah mengumumkan aksi korporasi, pembagian dividen, dan proyeksi valuasi yang menarik bagi pelaku pasar.

IHSG Menguat Didukung Komoditas

Penguatan IHSG pada akhir pekan lalu terutama didorong oleh kenaikan saham-saham di sektor komoditas dan pertambangan. Merdeka Copper Gold menguat paling tajam sebesar 24,77 persen, disusul Emas Antam Indonesia yang naik 19,67 persen dan Bumi Resources Minerals yang bertambah 11,50 persen.

Meski demikian, laju indeks sempat tertahan oleh pelemahan beberapa saham berkapitalisasi besar. Telkom Indonesia turun 2,67 persen, Astra International melemah 3,57 persen, sementara Bayan Resources terkoreksi 4,53 persen.

Dari sisi sektoral, mayoritas sektor bergerak di zona hijau pada perdagangan tersebut. Sektor basic industry memimpin penguatan sebesar 6,85 persen, sedangkan sektor keuangan menjadi yang paling tertekan dengan pelemahan 0,28 persen.

Aksi Asing Masih Menekan

Tekanan pada pasar domestik juga datang dari aksi jual investor asing yang masih berlanjut. Pada perdagangan reguler, investor asing membukukan jual bersih Rp1,07 triliun, dan di seluruh pasar mencapai Rp309,45 miliar.

Sentimen global turut memberi dukungan setelah bursa Amerika Serikat bergerak positif. Dow Jones naik 0,58 persen, S&P 500 bertambah 0,37 persen, dan Nasdaq menguat 0,19 persen pada perdagangan terakhir.

Meski begitu, pelaku pasar masih menimbang dampak kebijakan sentralisasi ekspor komoditas strategis melalui PT DSI. Selain itu, ekspektasi terhadap rebalancing indeks MSCI yang mulai efektif pada 1 Juni juga membuat investor cenderung berhitung lebih hati-hati.

Rebalancing Global Jadi Perhatian

Pasar regional juga dipengaruhi oleh pergerakan ETF EIDO yang cenderung mendatar. Di sisi lain, MSCI Indonesia tercatat turun 0,95 persen, mencerminkan sikap wait and see investor terhadap perubahan komposisi indeks.

Dari pasar global, FTSE Russell resmi mengeluarkan Dian Swastatika Sentosa dari indeks Large Cap. Pada saat yang sama, Daaz Bara Lestari, Hillcon, dan Mulia Industrindo dicoret dari indeks Micro Cap.

FTSE menilai struktur kepemilikan saham DSSA terlalu terkonsentrasi, sementara DAAZ belum memenuhi ketentuan minimum saham publik. Adapun HILL dan MLIA dikeluarkan karena aktivitas perdagangan yang dianggap tidak biasa, dan revisi masih berpeluang terjadi hingga penutupan perdagangan 5 Juni.

Emiten Gelar Aksi Korporasi

Singaraja Putra Tbk berencana menerbitkan 721,50 juta saham baru melalui rights issue setelah memperoleh persetujuan RUPS pada 26 Mei. Dengan asumsi harga pelaksanaan Rp5.000 per saham, perseroan berpotensi menghimpun dana untuk mendukung akuisisi PT Kemilau Mulia Sakti senilai sekitar Rp1,73 triliun.

Dalam skema transaksi tersebut, SINI akan membayar Rp1,51 triliun secara tunai saat akuisisi rampung. Sisa kewajiban sebesar Rp218,40 miliar ditambah bunga 7,5 persen per tahun akan dicicil hingga akhir 2028 menggunakan kas internal, padahal posisi kas perseroan per 2025 hanya Rp33,56 miliar.

Di sisi lain, Indocement Tunggal Prakarsa memutuskan membagikan dividen tunai Rp468 per saham, setara total Rp1,54 triliun atau 68,35 persen dari laba bersih. Meskipun pendapatan turun 4,40 persen menjadi Rp17,73 triliun, laba bersih INTP justru naik 12,04 persen menjadi Rp2,25 triliun, sehingga dividend yield di harga penutupan terakhir berada di kisaran 9,55 persen.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!