IHSG Menguat ke 6.162, Saham Komoditas Pimpin Kenaikan

Forex & Saham Fajar Nugraha Utama 31 Mei 2026 15:55 WIB 4
IHSG Menguat ke 6.162, Saham Komoditas Pimpin Kenaikan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,10 persen ke level 6.162,04 pada perdagangan Jumat, 22 Mei. Penguatan ini terutama ditopang lonjakan saham berbasis komoditas dan tambang, sementara sejumlah saham berkapitalisasi besar justru menjadi penahan laju indeks.

Di tengah aksi jual investor asing yang masih berlanjut, pasar juga mencermati sentimen global, kebijakan ekspor komoditas strategis, serta dampak rebalancing indeks MSCI dan FTSE Russell. Kondisi tersebut membuat pergerakan IHSG ke depan diperkirakan tetap sensitif terhadap arus dana asing dan perkembangan emiten berkapitalisasi besar.

IHSG dan saham komoditas

Penguatan IHSG dipimpin oleh Merdeka Copper Gold (MDKA) yang melonjak 24,77 persen. Selain itu, Emas Antam Indonesia (EMAS) naik 19,67 persen dan Bumi Resources Minerals (BRMS) menguat 11,50 persen.

Kenaikan saham-saham tersebut mengangkat sektor basic industry yang menjadi penopang utama pasar. Sektor ini tercatat menguat 6,85 persen dan menjadi sektor dengan kinerja terbaik pada perdagangan tersebut.

Meski demikian, saham berkapitalisasi besar tidak ikut menguat dan justru menekan indeks. Telkom Indonesia (TLKM) turun 2,67 persen, Astra International (ASII) terkoreksi 3,57 persen, dan Bayan Resources (BYAN) melemah 4,53 persen.

Tekanan asing dan global

Investor asing masih mencatatkan jual bersih sebesar Rp1,07 triliun di pasar reguler. Jika dihitung di seluruh pasar, aksi jual bersih mencapai Rp309,45 miliar.

Mayoritas sektor di bursa masih bertahan di zona hijau, namun sektor keuangan justru menjadi yang paling tertekan. Sektor tersebut melemah 0,28 persen dan menjadi satu-satunya sektor besar yang menutup perdagangan di zona merah.

Sentimen global turut memberi dukungan setelah indeks utama Wall Street bergerak positif. Dow Jones naik 0,58 persen, S&P 500 bertambah 0,37 persen, dan Nasdaq menguat 0,19 persen.

Rebalancing dan FTSE Russell

Pelaku pasar kini menunggu dampak rebalancing indeks MSCI yang mulai efektif pada 1 Juni. Pergerakan ETF EIDO yang mendatar dan MSCI Indonesia yang turun 0,95 persen menunjukkan pasar masih berhati-hati.

Pasar juga mencermati kebijakan sentralisasi ekspor komoditas strategis melalui PT DSI. Kebijakan tersebut berpotensi memengaruhi arus perdagangan dan prospek emiten terkait komoditas di bursa domestik.

Dari pasar global, FTSE Russell mengeluarkan Dian Swastatika Sentosa (DSSA) dari indeks Large Cap. Selain itu, Daaz Bara Lestari (DAAZ), Hillcon (HILL), dan Mulia Industrindo (MLIA) dicoret dari indeks Micro Cap.

Aksi korporasi emiten

Singaraja Putra Tbk (SINI) berencana menerbitkan 721,50 juta saham baru melalui rights issue setelah mendapat persetujuan RUPS pada 26 Mei. Dengan asumsi harga pelaksanaan Rp5.000 per saham, dana yang dihimpun berpotensi mendukung akuisisi PT Kemilau Mulia Sakti senilai sekitar Rp1,73 triliun.

Dalam transaksi tersebut, SINI akan membayar Rp1,51 triliun secara tunai saat penyelesaian akuisisi. Sisa kewajiban sebesar Rp218,40 miliar ditambah bunga 7,5 persen per tahun akan dicicil hingga akhir 2028 menggunakan kas internal.

Sementara itu, Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) memutuskan membagikan dividen tunai Rp468 per saham atau total Rp1,54 triliun. Pembagian tersebut setara 68,35 persen dari laba bersih tahun buku 2025, dengan cum dividen pada 3 Juni dan pembayaran pada 19 Juni 2026.

Rekomendasi saham hari ini mencakup TINS, ADMR, INDY, WIFI, dan DEWA dengan rentang beli, target harga, serta batas rugi yang telah ditetapkan analis. Meski demikian, keputusan investasi tetap perlu disesuaikan dengan profil risiko dan tujuan keuangan masing-masing investor.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!