IHSG Menguat Ditopang Saham Komoditas, Ini Sentimen Pasarnya

Forex & Saham Gilang Nabaris 29 Mei 2026 16:59 WIB 7
IHSG Menguat Ditopang Saham Komoditas, Ini Sentimen Pasarnya

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup menguat 1,10 persen ke level 6.162,04 pada perdagangan Jumat, 22 Mei. Kenaikan indeks terutama ditopang saham berbasis komoditas dan tambang, sementara saham berkapitalisasi besar justru memberi tekanan. Aktivitas investor asing masih mencatatkan jual bersih, sehingga pergerakan pasar tetap dipenuhi selektivitas.

Di tengah penguatan itu, Merdeka Copper Gold (MDKA) melesat 24,77 persen, disusul Emas Antam Indonesia (EMAS) yang naik 19,67 persen dan Bumi Resources Minerals (BRMS) yang menguat 11,50 persen. Pelaku pasar kini mencermati sentimen global, kebijakan hilirisasi komoditas, serta dampak rebalancing indeks MSCI dan FTSE yang berpotensi mengubah arus dana asing.

IHSG Ditopang Saham Komoditas

Penguatan IHSG pada akhir pekan lalu tidak lepas dari lonjakan sejumlah saham komoditas dan tambang. MDKA menjadi penopang utama dengan kenaikan tajam 24,77 persen, menunjukkan minat beli yang kuat pada saham berbasis mineral. EMAS dan BRMS juga masuk daftar penggerak utama indeks karena sama-sama ditransaksikan menguat signifikan.

Di sisi lain, saham-saham besar justru cenderung menahan laju indeks. Telkom Indonesia (TLKM) turun 2,67 persen, Astra International (ASII) terkoreksi 3,57 persen, sedangkan Bayan Resources (BYAN) melemah 4,53 persen. Kondisi tersebut menandakan penguatan IHSG masih sangat bergantung pada rotasi sektor tertentu.

Secara sektoral, mayoritas indeks sektoral bergerak di zona hijau. Sektor basic industry memimpin kenaikan sebesar 6,85 persen, sedangkan sektor keuangan menjadi yang paling tertekan dengan pelemahan 0,28 persen. Perbedaan kinerja ini memperlihatkan pasar masih mencari katalis yang paling kuat di tengah ketidakpastian global.

Arus Asing Masih Menekan

Meski IHSG ditutup menguat, aksi jual investor asing belum mereda. Pada perdagangan reguler, investor asing mencatat jual bersih Rp1,07 triliun, dan di seluruh pasar mencapai Rp309,45 miliar. Tekanan jual ini menunjukkan investor global masih mengambil sikap hati-hati terhadap pasar domestik.

Sentimen eksternal juga datang dari Wall Street yang bergerak positif. Dow Jones naik 0,58 persen ke 50.579, S&P 500 bertambah 0,37 persen ke 7.473, dan Nasdaq menguat 0,19 persen ke 26.343. Penguatan bursa Amerika Serikat memberi dukungan psikologis, meski belum cukup menghapus tekanan dari arus keluar dana asing.

Pelaku pasar pada pekan ini turut menunggu perkembangan kebijakan sentralisasi ekspor komoditas strategis melalui PT DSI. Selain itu, pasar juga memperhatikan implikasi rebalancing indeks MSCI yang mulai efektif pada 1 Juni. Pergerakan ETF EIDO yang relatif datar dan MSCI Indonesia yang turun 0,95 persen menjadi sinyal bahwa investor masih menimbang arah pasar berikutnya.

Perubahan Indeks Global

Dari pasar global, FTSE Russell resmi mengeluarkan Dian Swastatika Sentosa (DSSA) dari indeks Large Cap. Selain itu, Daaz Bara Lestari (DAAZ), Hillcon (HILL), dan Mulia Industrindo (MLIA) dicoret dari indeks Micro Cap. Keputusan ini berpotensi memengaruhi persepsi investor terhadap likuiditas dan daya tarik emiten terkait.

FTSE menilai struktur kepemilikan saham DSSA terlalu terkonsentrasi karena HSC mencapai 95,76 persen. Untuk DAAZ, penilaian dilakukan karena perseroan belum memenuhi ketentuan minimum saham publik. Adapun HILL dan MLIA dikeluarkan lantaran aktivitas perdagangan yang tidak biasa.

Perubahan komposisi indeks tersebut diperkirakan memicu arus dana asing keluar lebih dari US$2,86 miliar. Kapitalisasi pasar Indonesia di FTSE juga diproyeksikan turun di bawah US$88,15 miliar, dengan jumlah emiten dalam indeks menyusut dari 39 menjadi 35 perusahaan. FTSE masih membuka peluang revisi hingga penutupan perdagangan 5 Juni sebelum komposisi final berlaku efektif pada 22 Juni 2026.

Aksi Korporasi Emiten

Dari sisi emiten, Singaraja Putra Tbk (SINI) berencana menerbitkan 721,50 juta saham baru melalui rights issue. Rencana itu akan dibahas dalam RUPS pada 26 Mei mendatang, dengan asumsi harga pelaksanaan Rp5.000 per saham. Dana hasil aksi korporasi ini disiapkan untuk mendukung akuisisi PT Kemilau Mulia Sakti, anak usaha Petrosea (PTRO).

Nilai akuisisi KMS diperkirakan mencapai sekitar Rp1,73 triliun. SINI akan membayar Rp1,51 triliun secara tunai saat penyelesaian transaksi, sedangkan sisa kewajiban Rp218,40 miliar ditambah bunga 7,5 persen per tahun akan dibayar bertahap hingga akhir 2028. Posisi kas dan setara kas perseroan per 2025 tercatat sebesar Rp33,56 miliar.

Sementara itu, Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) memutuskan membagikan dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rp468 per saham atau total Rp1,54 triliun. Jumlah tersebut setara 68,35 persen dari laba bersih perseroan. Di pasar, saham INTP tercatat di level Rp4.900 per saham dengan dividend yield sekitar 9,55 persen.

Dividen INTP dan Saham Pilihan

Kinerja INTP terbilang solid meski pendapatan turun 4,40 persen secara tahunan menjadi Rp17,73 triliun. Laba bersih justru naik 12,04 persen menjadi Rp2,25 triliun, sementara laba per saham meningkat ke Rp674,50 dari sebelumnya Rp591,49. Secara valuasi, saham ini diperdagangkan pada PBV 0,74 kali dan PER 7,64 kali trailing twelve months.

Jadwal cum dividen INTP ditetapkan pada 3 Juni, sedangkan pembayaran dividen akan dilakukan pada 19 Juni 2026. Dengan yield yang menarik dan valuasi relatif murah, saham ini berpotensi tetap dilirik investor pencari pendapatan. Namun, keputusan investasi tetap perlu disesuaikan dengan profil risiko masing-masing.

Untuk perdagangan hari ini, sejumlah saham komoditas dan energi masuk daftar rekomendasi teknikal. TINS disarankan beli pada rentang 3.530-3.580, ADMR di 1.460-1.480, INDY di 2.420-2.460, WIFI di 2.080-2.120, dan DEWA di 368-378. Seluruh analisis dan rekomendasi tetap bersifat informatif, bukan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!