Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,72 persen ke level 6.206,35 pada perdagangan Senin, 25 Mei. Penguatan tersebut ditopang oleh saham perbankan dan otomotif, meski tekanan dari sejumlah emiten besar masih terasa di lantai bursa. Investor asing pada saat yang sama mencatat jual bersih Rp2,09 triliun di pasar reguler dan Rp2,22 triliun di seluruh pasar. Sentimen global dan perkembangan geopolitik ikut mewarnai arah perdagangan berikutnya.
Di sisi sektor, enam kelompok saham berhasil bertahan di zona hijau, dengan transportasi menjadi penopang utama. Namun, sektor energi justru terkoreksi paling dalam dan menunjukkan adanya selektivitas pelaku pasar. Bursa Amerika Serikat yang libur karena Memorial Day turut membuat pelaku pasar domestik berhati-hati. Kondisi tersebut membuat pergerakan IHSG berpotensi terbatas dalam jangka pendek.
IHSG Menguat Di Tengah Tekanan
IHSG mengawali pekan dengan sentimen campuran, tetapi tetap mampu mempertahankan penguatan hingga penutupan perdagangan. Kinerja positif ini menunjukkan minat beli masih muncul pada saham-saham berkapitalisasi besar. Meski demikian, jual bersih asing menandakan investor global belum sepenuhnya agresif masuk ke pasar domestik. Situasi tersebut membuat arah indeks masih sangat bergantung pada sentimen eksternal.
Penguatan IHSG tidak lepas dari kontribusi sektor perbankan dan otomotif yang kembali menjadi penggerak utama. Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk naik 3,93 persen, PT Bank Central Asia Tbk menguat 3,39 persen, dan PT Astra International Tbk bertambah 3,70 persen. Kenaikan pada tiga saham tersebut memberi dorongan signifikan bagi indeks. Di tengah tekanan global, sektor defensif dan saham unggulan masih menjadi pilihan utama investor.
Secara sektoral, transportasi mencatat kenaikan tertinggi sebesar 3,83 persen dan membantu menahan tekanan dari sektor lain. Sebaliknya, energi terkoreksi 2,04 persen dan menjadi sektor dengan pelemahan paling dalam pada hari itu. Tekanan juga terlihat pada sejumlah saham seperti PT Barito Pacific Tbk, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk, dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. Pergerakan yang kontras ini menunjukkan pasar masih sangat selektif dalam menentukan arah investasi.
Sentimen Global Masih Menentukan
Pelaku pasar saat ini menaruh perhatian pada perkembangan pembicaraan antara Iran dan Amerika Serikat. Jika ketegangan geopolitik mereda, pasar berpeluang memperoleh dorongan tambahan dari sisi sentimen global. Namun, selama kepastian belum muncul, investor cenderung menahan langkah dan memilih strategi wait and see. Hal ini membuat volatilitas pasar tetap harus diwaspadai.
Selain itu, penundaan implementasi penuh kebijakan ekspor DSI hingga awal 2027 juga masuk dalam radar investor. Kebijakan tersebut dinilai memberi ruang bagi pelaku usaha untuk menyesuaikan strategi bisnisnya lebih dulu. Di sisi lain, MSCI Indonesia offshore yang menguat 1,70 persen memberi sinyal positif bagi pasar domestik. Kombinasi faktor tersebut membuat arah IHSG masih terbuka, meski rentang pergerakannya diperkirakan terbatas.
Analis memperkirakan aksi ambil untung masih berpotensi muncul menjelang libur panjang bursa. Situasi ini lazim terjadi ketika investor memilih mengamankan keuntungan lebih awal di tengah ketidakpastian. Karena itu, pasar cenderung sensitif terhadap kabar global maupun pergerakan saham berkapitalisasi besar. Dalam jangka pendek, arus dana asing tetap menjadi indikator penting bagi kekuatan indeks.
Emiten Catat Katalis Baru
Sejumlah emiten juga menghadirkan katalis baru yang menarik perhatian investor. Solusi Environment Asia Tbk (SOFA) resmi bergabung dalam konsorsium proyek Waste to Energy bersama Zhejiang Weiming melalui anak usaha PT Ananta Energi Asia. Konsorsium ini akan menggarap dua proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Denpasar Raya dan Bogor Raya. Kerja sama tersebut membuka peluang pendapatan berulang bagi SOFA dalam jangka panjang.
SOFA berpeluang memperoleh pendapatan dari skema Power Purchase Agreement selama 30 tahun bersama PT PLN (Persero). Tarif yang digunakan dalam kerja sama itu ditetapkan sebesar US$0,20 per kWh. Zhejiang Weiming sendiri dikenal sebagai salah satu operator PSEL terbesar di dunia. Pada 2025, perusahaan tersebut dilaporkan memproduksi listrik berbasis sampah sebesar 4,62 miliar kWh.
Dari sektor farmasi, Millennium Pharmacon International Tbk (SDPC) membidik pendapatan Rp5 triliun pada 2026. Target itu lebih tinggi 21,68 persen dibandingkan target 2025 sebesar Rp4,1 triliun. Perseroan juga menargetkan laba bersih Rp60 miliar, naik dari proyeksi sebelumnya Rp38,46 miliar. Untuk menopang ekspansi, pembangunan gudang pusat di Bekasi telah mencapai 95 persen dan segera memasuki tahap akhir.
Dividen Dan Rekomendasi Saham
Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) menjadi sorotan setelah menetapkan dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rp270 per saham. Total dividen yang dibagikan mencapai Rp775,49 miliar atau setara 30 persen dari laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk. Sepanjang 2025, SMAR mencatat pendapatan Rp86,95 triliun dan laba bersih Rp2,58 triliun. Kinerja tersebut memperkuat daya tarik sahamnya di mata investor pencari dividen.
Pada perdagangan 25 Mei 2026, saham SMAR ditutup di level Rp5.225 per saham dengan indikasi dividend yield sekitar 5,17 persen. Jadwal cum date dividen ditetapkan pada 4 Juni, sedangkan pembayaran dividen dilakukan pada 18 Juni 2026. Jadwal tersebut menjadi salah satu faktor yang berpotensi memicu minat beli jangka pendek. Bagi investor, momentum dividen sering kali menjadi pertimbangan penting dalam menyusun strategi portofolio.
Untuk perdagangan hari ini, beberapa saham direkomendasikan dengan fokus pada BRIS, INDF, PGAS, SSIA, dan ISAT. Rekomendasi tersebut disusun dengan batas beli, target laba, dan stop loss yang berbeda sesuai karakter masing-masing saham. Meski demikian, keputusan investasi tetap harus disesuaikan dengan profil risiko dan tujuan keuangan pribadi. Investor disarankan tetap disiplin dan tidak hanya mengandalkan sentimen sesaat pasar.
