IHSG Melemah ke 6.300-an, Tekanan Jual Masih Berlanjut

Forex & Saham Kevin S. Pratama 25 Mei 2026 17:10 WIB 3
IHSG Melemah ke 6.300-an, Tekanan Jual Masih Berlanjut

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG kembali tertekan pada perdagangan Selasa, 19 Mei 2026, dan turun 3,46 persen ke level 6.370,67. Pelemahan ini membuat indeks bergerak di zona merah selama lima hari perdagangan terakhir, sekaligus memperdalam koreksi sepanjang tahun berjalan. Berdasarkan data RTI Business, tekanan jual berlangsung sejak penutupan perdagangan Jumat, 8 Mei, ketika IHSG terkoreksi 2,86 persen ke level 6.969,39. Kondisi tersebut menunjukkan pasar modal domestik masih menghadapi tekanan kuat dari aksi jual investor dan sentimen kebijakan.

Secara year to date, IHSG telah melemah 26,32 persen dan meninggalkan level psikologis yang sebelumnya sempat dipertahankan. Aksi net foreign sell juga tercatat mencapai Rp41,28 triliun per Senin, 18 Mei, sehingga menambah beban bagi pergerakan indeks. Di sisi lain, sejumlah saham konglomerat ikut terkoreksi hingga menyentuh auto reject bawah pada akhir perdagangan. Tekanan yang meluas ini membuat pelaku pasar menunggu kepastian arah kebijakan ekonomi dan moneter dalam waktu dekat.

IHSG Tertekan Aksi Jual

Pergerakan IHSG pada Selasa menunjukkan pasar masih rentan terhadap tekanan jual yang datang dari berbagai sisi. Penurunan lebih dari tiga persen dalam satu hari mempertegas lemahnya sentimen di bursa. Jika dihitung dalam sepekan, indeks sudah terkoreksi 8,59 persen dan menghapus sebagian penguatan sebelumnya. Koreksi yang terjadi secara beruntun ini mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor dalam mengambil posisi.

Tekanan juga datang dari aksi jual bersih investor asing yang terus membesar sepanjang tahun. Hingga awal pekan ini, nilai net sell asing mencapai puluhan triliun rupiah dan menjadi salah satu faktor utama pelemahan indeks. Arus keluar dana asing biasanya memengaruhi likuiditas dan menekan saham-saham berkapitalisasi besar. Dalam situasi seperti ini, pasar cenderung bergerak lebih defensif dan selektif.

Selain asing, investor domestik juga terlihat menahan diri di tengah ketidakpastian arah kebijakan. Volatilitas yang tinggi membuat sebagian pelaku pasar memilih menunggu konfirmasi sentimen baru sebelum kembali masuk. Kondisi tersebut memperbesar risiko pelemahan lanjutan jika tekanan eksternal masih berlanjut. Dengan demikian, IHSG masih membutuhkan katalis positif yang kuat untuk kembali pulih.

Saham Konglomerat Menjadi Beban

Pelemahan IHSG turut diperburuk oleh koreksi tajam pada sejumlah saham milik kelompok usaha besar. PT Chandra Asri Pacific Tbk atau TPIA turun 14,75 persen ke Rp3.120 per saham. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk atau CUAN juga terkoreksi 13,33 persen ke Rp650 per saham. Sementara itu, PT Petrosea Tbk atau PTRO melemah 10,93 persen ke Rp4.320 per saham.

Tekanan serupa dialami saham milik Grup Sinar Mas, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk atau DSSA. Saham tersebut turun 14,77 persen ke Rp750 per saham pada penutupan perdagangan. Saham sawit PT Triputra Agro Persada Tbk atau TAPG juga melemah tajam 14,97 persen ke Rp1.590 per saham. Koreksi pada saham-saham besar ini memberi dampak signifikan terhadap indeks secara keseluruhan.

Ketika saham berkapitalisasi besar terkoreksi dalam jumlah yang dalam, dampaknya langsung terasa pada pergerakan IHSG. Hal ini karena bobot saham-saham tersebut cukup besar dalam perhitungan indeks. Di tengah tekanan jual yang luas, pelemahan pada kelompok saham tertentu dapat mempercepat penurunan pasar. Investor pun menjadi semakin berhati-hati terhadap potensi koreksi lanjutan pada emiten unggulan.

Dasco Datangi Bursa Efek

Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad melakukan inspeksi mendadak ke Bursa Efek Indonesia pada Selasa, 19 Mei 2026. Kunjungan itu dilakukan untuk memantau pertumbuhan investor sekaligus menenangkan pasar di tengah tekanan koreksi. Dasco hadir bersama Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Friderica Widyasari Dewi dan jajaran Danantara. Kehadiran para pejabat tersebut menjadi sinyal bahwa pemerintah dan regulator memberi perhatian terhadap stabilitas pasar modal.

Dalam kesempatan itu, Dasco menyebut pihaknya banyak berdiskusi mengenai pertumbuhan investor pasar modal. Ia menilai investor ritel terus bertambah dan menunjukkan perkembangan positif dalam beberapa waktu terakhir. Dasco juga menyimak paparan mengenai arah kebijakan yang diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan investor. Menurutnya, fondasi yang ada masih cukup kuat untuk menopang pasar ke depan.

Dasco menegaskan bahwa regulasi yang tepat diperlukan agar investor lokal merasa nyaman menempatkan dana di pasar modal. Ia menilai pertumbuhan investor ritel merupakan modal penting bagi ketahanan bursa domestik. Dengan dasar fundamental yang ada, ia optimistis bursa Indonesia akan semakin kuat. Pernyataan tersebut diharapkan dapat meredam kekhawatiran pelaku pasar di tengah tekanan yang sedang berlangsung.

Pasar Menanti Dua Katalis

Setidaknya ada dua sentimen utama yang membayangi pergerakan IHSG pada perdagangan hari ini. Pertama adalah pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Paripurna DPR. Kedua adalah hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia terkait keputusan suku bunga acuan. Kedua agenda itu dipandang dapat memberi arah baru bagi sentimen investor.

Mengacu analisis Phintraco Sekuritas, pasar menanti pidato Prabowo yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 20 Mei. Dalam forum tersebut, Presiden akan menyampaikan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal untuk RAPBN Tahun Anggaran 2027. Investor ingin melihat arah kebijakan fiskal yang lebih jelas, terutama terkait pertumbuhan dan stabilitas ekonomi. Kepastian itu dinilai penting untuk mengurangi volatilitas di pasar saham.

Di hari yang sama, Bank Indonesia juga dijadwalkan mengumumkan hasil RDG. Konsensus pasar memperkirakan BI menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen untuk meredam pelemahan rupiah. Selain itu, tekanan jual juga muncul dari wacana pemerintah mengatur ekspor komoditas dalam satu badan khusus negara. Kekhawatiran terhadap potensi pengendalian harga jual membuat investor menilai margin laba emiten komoditas bisa tertekan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!