IHSG Dibuka Melemah, Sentuh Level Mirip Era COVID-19

Forex & Saham Stanislaus Firstyan Gratia 26 Mei 2026 19:38 WIB 2
IHSG Dibuka Melemah, Sentuh Level Mirip Era COVID-19

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan pada perdagangan Jumat, 22 Mei 2026, dan sempat bergerak ke area 5.000-an seperti pada masa awal pandemi COVID-19. Berdasarkan data RTI, pukul 09.05 WIB IHSG berada di level 6.047 setelah melemah 47 poin atau 0,78 persen.

IHSG dibuka di level 6.065, lalu bergerak dalam rentang terendah 5.966 dan tertinggi 6.074. Nilai transaksi pada perdagangan pagi ini mencapai Rp1,67 triliun, dengan volume 3,60 miliar lembar saham dalam 178.693 kali transaksi.

IHSG Tertekan di Pagi Hari

Tekanan jual langsung mendominasi awal perdagangan, sehingga laju IHSG bergerak turun sejak pembukaan. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, 129 saham menguat, 418 saham melemah, dan 155 saham stagnan.

Kondisi tersebut menunjukkan sentimen pasar masih rapuh, terutama pada saham-saham yang menjadi penopang indeks. Pergerakan yang sempat menyentuh area 5.966 menandakan volatilitas masih cukup tinggi di bursa.

Meski penurunan harian belum terlalu dalam jika dibandingkan dengan periode krisis, arah pergerakan tetap memberi sinyal kehati-hatian. Investor tampak memilih bersikap defensif sambil menunggu katalis baru yang lebih kuat.

Di tengah tekanan itu, transaksi tetap berlangsung aktif dengan nilai yang terbilang besar pada sesi pagi. Aktivitas perdagangan yang tinggi mengindikasikan pelaku pasar masih merespons perubahan harga dengan cepat.

IHSG dan Bayang-Bayang COVID

Pergerakan IHSG yang mendekati level 5.000-an mengingatkan pasar pada masa awal pandemi COVID-19. Saat kasus pertama diumumkan di Indonesia pada 2 Maret 2020, IHSG langsung ditutup melemah 91 poin atau 1,67 persen ke level 5.361.

Seiring bertambahnya jumlah kasus, tekanan terhadap pasar modal makin dalam dan berulang dalam waktu singkat. Pada 9 Maret 2020, IHSG bahkan ditutup anjlok 6,5 persen ke level 5.136, kondisi yang jarang terjadi di pasar saham domestik.

Penurunan tajam pada masa itu menunjukkan betapa sensitifnya pasar terhadap risiko besar yang datang secara tiba-tiba. Dalam situasi seperti itu, investor cenderung melepas aset berisiko dan beralih ke instrumen yang lebih aman.

Rangkaian penurunan tersebut membuat banyak pelaku pasar masih mengingat masa pandemi sebagai periode paling berat bagi IHSG. Perbandingan itu kembali mencuat ketika indeks kembali bergerak di area yang mendekati level psikologis penting.

Tekanan Jual Masih Berlanjut

Selain melemah pada perdagangan harian, IHSG juga tercatat turun 20,01 poin secara bulanan. Dalam rentang tiga bulan, indeks terkoreksi 25,38 persen, menandakan tekanan sudah berlangsung cukup lama.

Secara tahun berjalan, IHSG juga melemah 30,07 persen sepanjang 2026. Kondisi ini memperlihatkan bahwa tekanan bukan hanya datang dari satu sesi perdagangan, melainkan dari tren yang berlarut-larut.

Pergerakan seperti ini biasanya dipengaruhi oleh kombinasi faktor eksternal dan internal, termasuk sentimen global, arus dana asing, serta ekspektasi terhadap kinerja emiten. Ketika sejumlah faktor itu tidak mendukung, indeks cenderung sulit bangkit.

Dalam situasi penuh ketidakpastian, pasar saham kerap bergerak lebih cepat dari fundamental. Karena itu, setiap sentimen positif atau negatif dapat langsung tercermin pada pergerakan indeks harian.

Respons Pasar dan Regulator

Pada masa pandemi, regulator pasar modal pernah mengambil langkah darurat untuk meredam kepanikan. Bursa Efek Indonesia sempat menerapkan kebijakan penghentian perdagangan atau trading halt pada 10 Maret 2020.

Langkah tersebut ditempuh karena pelemahan pasar saat itu sudah sangat tajam dan berpotensi memicu gejolak lebih besar. Kebijakan serupa umumnya dipertimbangkan ketika volatilitas pasar bergerak di luar batas wajar.

Saat ini, pelaku pasar menilai perlunya kewaspadaan terhadap arah indeks, terutama jika tekanan jual terus berlanjut. Investor disarankan mencermati sentimen global, pergerakan rupiah, dan potensi aksi ambil untung.

Dengan kondisi yang masih fluktuatif, IHSG membutuhkan katalis baru agar bisa kembali stabil. Tanpa dukungan sentimen yang kuat, tekanan di pasar saham berpotensi berlanjut pada sesi-sesi berikutnya.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!