IHSG Berbalik Arah Usai Pidato Prabowo Soal Ekspor SDA

Forex & Saham Gilang Nabaris 24 Mei 2026 00:35 WIB 5
IHSG Berbalik Arah Usai Pidato Prabowo Soal Ekspor SDA

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah dan tertekan pada perdagangan Rabu, setelah pidato Presiden Prabowo Subianto mengenai tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam (SDA). Pada pukul 11.19 WIB, indeks saham domestik tercatat melemah 2,25 persen ke level 6.227,41 berdasarkan data RTI Business.

Pergerakan tersebut menjadi sorotan karena IHSG sebelumnya sempat menguat lebih dari 1 persen hingga menyentuh level 6.459,55. Perubahan arah pasar terjadi menjelang dan sesudah pernyataan pemerintah terkait aturan baru ekspor komoditas strategis.

IHSG dan Pidato Prabowo

Pergerakan IHSG menunjukkan respons cepat pasar terhadap sinyal kebijakan pemerintah. Sentimen investor berubah dari optimistis menjadi hati-hati dalam waktu singkat. Kondisi ini memperlihatkan betapa kuatnya pengaruh kebijakan terhadap perdagangan saham.

Data RTI Business mencatat sebanyak 135 saham menguat, 548 saham melemah, dan 127 saham stagnan. Dominasi saham yang turun menekan indeks secara keseluruhan. Tekanan tersebut terlihat merata di berbagai sektor utama.

Sepanjang 2026, IHSG tercatat melemah hingga 27,64 persen. Koreksi ini menambah kekhawatiran pelaku pasar terhadap arah pemulihan bursa. Investor pun cenderung menunggu kepastian lebih lanjut dari pemerintah.

Perubahan arah indeks terjadi tidak lama setelah pidato Presiden Prabowo disampaikan di sidang paripurna DPR RI. Pasar menilai kebijakan baru berpotensi memengaruhi arus perdagangan sejumlah komoditas. Karena itu, volatilitas saham meningkat pada sesi perdagangan siang.

Sektor Industri Tertekan

Sektor basic industry menjadi yang paling tertekan dengan penurunan 5,75 persen. Pelemahan ini menunjukkan besarnya tekanan pada saham-saham yang terkait dengan komoditas dan bahan baku. Aksi jual terlihat cukup agresif sejak pasar mulai merespons pidato Presiden.

PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) tercatat melemah hingga auto reject bawah sebesar 14,74 persen ke harga Rp2.660 per saham. Penurunan tajam ini menjadi salah satu yang paling disorot pelaku pasar. Saham tersebut langsung menjadi pemberat utama sektor basic industry.

Selain itu, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) terkoreksi 7,31 persen ke harga Rp7.31 per saham. PT Amman Mineral International Tbk (AMMN) juga turun 7,26 persen ke level Rp2.950 per saham. Kedua saham tersebut ikut menambah tekanan pada indeks sektoral.

Pergerakan di sektor ini mengindikasikan kekhawatiran investor terhadap dampak kebijakan ekspor SDA. Pasar menilai perubahan tata kelola dapat memengaruhi ekspektasi laba emiten tertentu. Dalam jangka pendek, sentimen risiko tampak lebih dominan dibandingkan peluang.

Kebijakan Ekspor Melalui BUMN

Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menyampaikan bahwa pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah tentang tata kelola ekspor komoditas SDA. Aturan itu ditujukan agar ekspor sumber daya alam memberi dampak lebih besar bagi kesejahteraan rakyat. Pemerintah menilai penguatan tata kelola menjadi langkah strategis yang mendesak.

Prabowo menegaskan bahwa seluruh penjualan ekspor SDA akan dikelola melalui BUMN. Kebijakan ini dimaksudkan untuk memperketat pengawasan dan memastikan manfaat ekonomi lebih besar tetap berada di dalam negeri. Pemerintah juga ingin mencegah praktik yang merugikan kepentingan nasional.

Melalui aturan tersebut, ekspor komoditas strategis seperti minyak kelapa sawit, batu bara, hingga ferro alloy wajib dilakukan melalui BUMN yang ditunjuk. Mekanisme ini diharapkan membuat alur perdagangan lebih tertib dan terpantau. Dengan begitu, negara memiliki kendali yang lebih kuat atas komoditas penting.

Prabowo menyampaikan kebijakan itu dalam sidang paripurna DPR RI di Senayan, Jakarta, pada Rabu, 20 Mei 2026. Pernyataan tersebut langsung menjadi perhatian pelaku pasar keuangan. Investor kini menimbang dampak lanjutan terhadap emiten berbasis komoditas dan pergerakan IHSG.

Respons Pasar ke Depan

Di tengah tekanan yang terjadi, pelaku pasar diperkirakan akan mencermati detail pelaksanaan aturan baru tersebut. Kepastian teknis menjadi faktor penting untuk menilai dampaknya terhadap emiten dan rantai ekspor. Tanpa penjelasan yang lebih rinci, volatilitas saham berpotensi berlanjut.

Bagi investor, kebijakan tata kelola ekspor SDA dapat dipandang sebagai peluang sekaligus risiko. Peluang muncul jika regulasi membuat perdagangan lebih efisien dan transparan. Namun, risiko meningkat jika implementasi menimbulkan gangguan pada arus bisnis perusahaan tercatat.

Pergerakan IHSG pada sesi ini menunjukkan pasar sangat sensitif terhadap isu kebijakan ekonomi. Aksi jual yang meluas menandakan pelaku pasar sedang melakukan penyesuaian posisi. Dalam kondisi seperti ini, strategi investasi yang lebih selektif menjadi penting.

Ke depan, arah IHSG akan sangat bergantung pada respons pasar terhadap rincian PP yang baru diterbitkan. Investor juga akan mencermati apakah kebijakan itu memberikan kepastian atau justru menambah beban bagi emiten komoditas. Sentimen global dan arus dana asing turut berpotensi memengaruhi pergerakan indeks.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!