Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG melemah tajam pada perdagangan Kamis, 21 Mei 2026, setelah pemerintah mengumumkan pembentukan BUMN ekspor baru. Chief Investment Officer Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara, Pandu Sjahrir, menilai penurunan itu terjadi karena pasar masih mencari kepastian atas implementasi kebijakan tersebut.
Pelemahan IHSG tercatat berlanjut sejak pengumuman PT Danantara Sumberdaya Indonesia pada Rabu, 20 Mei 2026. Berdasarkan data RTI, indeks sempat terkoreksi lebih dari 2 persen dan berada di level 6.144 atau turun 174 poin, sementara pemerintah menegaskan kebijakan ini ditujukan untuk memperkuat tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam.
IHSG dan kepastian pasar
Pandu menyebut pasar saham selalu membutuhkan kepastian sebelum merespons positif kebijakan baru. Ia menilai investor saat ini masih menimbang arah implementasi BUMN ekspor yang baru diumumkan pemerintah. Menurut dia, wajar bila pasar bergerak hati-hati ketika informasi teknis belum sepenuhnya dipahami.
Ia menyampaikan hal itu di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, pada Kamis. Dalam keterangannya, Pandu menegaskan bahwa pelaku pasar ingin mengetahui hasil konkret dari kebijakan tersebut. Ia menambahkan, kejelasan semacam itu menjadi faktor penting bagi sentimen investor.
Pandu juga optimistis pasar akan kembali menguat setelah pelaku usaha memahami manfaat kebijakan baru ini. Ia menilai respons positif bisa muncul secepatnya apabila implementasi berjalan jelas dan terukur. Karena itu, ia meminta investor tetap tenang dan mencermati arah kebijakan pemerintah.
Menurut Pandu, sentimen pasar tidak hanya dipengaruhi oleh pengumuman kebijakan, tetapi juga oleh persepsi terhadap hasil akhirnya. Jika pasar melihat manfaat yang nyata, menurut dia, kepercayaan terhadap saham domestik dapat pulih lebih cepat. Kondisi itu diyakini dapat membantu IHSG keluar dari tekanan jangka pendek.
Kebijakan ekspor satu pintu
Sehari sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengumumkan bahwa seluruh ekspor sumber daya alam akan dikelola melalui satu pintu. Mekanisme itu akan dijalankan oleh BUMN yang telah ditunjuk pemerintah sebagai pengekspor tunggal. Kebijakan ini disampaikan dalam rapat paripurna di Gedung DPR RI, Jakarta.
Komoditas yang masuk dalam skema tersebut mencakup minyak kelapa sawit, batu bara, dan paduan besi ferro alloy. Pemerintah menyatakan langkah itu diarahkan untuk memperkuat pengawasan ekspor dan menata alur perdagangan komoditas strategis. Di sisi lain, kebijakan ini juga disebut dapat memperkecil ruang praktik kurang bayar pajak.
Prabowo menegaskan penjualan hasil sumber daya alam harus dilakukan melalui BUMN yang ditunjuk pemerintah. Menurut dia, model satu pintu dibutuhkan agar pengelolaan ekspor lebih tertib dan terukur. Pernyataan itu menjadi penanda awal arah baru tata kelola perdagangan komoditas nasional.
Kebijakan tersebut kemudian memicu perhatian pelaku pasar, terutama karena cakupannya menyentuh komoditas utama ekspor Indonesia. Investor menilai implementasi aturan itu akan menentukan efeknya terhadap emiten dan sektor terkait. Dalam jangka pendek, pasar masih menunggu rincian teknis sebelum mengambil posisi lebih agresif.
Tekanan di perdagangan saham
Data RTI menunjukkan IHSG bergerak melemah cukup dalam pada sesi awal perdagangan hari ini. Indeks terkoreksi 174 poin atau 2,76 persen ke level 6.144. Tekanan tersebut menandai sentimen negatif yang masih kuat di pasar saham domestik.
Pelemahan indeks terjadi di tengah kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan baru pemerintah. Pasar biasanya merespons negatif ketika kebijakan besar diumumkan tanpa penjelasan implementasi yang detail. Situasi ini membuat investor cenderung bersikap menunggu.
Dalam kondisi seperti itu, sentimen dari pejabat pemerintah dapat menjadi faktor penahan tekanan. Pernyataan Pandu yang menekankan optimisme dinilai penting untuk meredakan kekhawatiran pasar. Namun, penguatan IHSG tetap bergantung pada kejelasan eksekusi kebijakan di lapangan.
Pelaku pasar kini menaruh perhatian pada bagaimana BUMN ekspor tersebut akan bekerja dalam rantai perdagangan nasional. Jika skema satu pintu dinilai efektif, prospeknya bisa mendukung persepsi positif terhadap pasar modal. Sebaliknya, ketidakjelasan aturan berpotensi menjaga volatilitas indeks dalam waktu dekat.
Prospek dan respons investor
Pasar saham umumnya bereaksi cepat terhadap kebijakan yang menyentuh sektor strategis, termasuk komoditas ekspor. Dalam kasus ini, pengumuman pemerintah langsung diikuti koreksi pada IHSG. Hal tersebut menunjukkan sensitivitas investor terhadap perubahan tata kelola yang dinilai berdampak luas.
Pandu menilai, begitu pasar memahami keuntungan dari keberadaan BUMN ekspor, tekanan bisa mereda. Ia optimistis investor akan melihat sisi positif dari penguatan tata kelola dan potensi peningkatan kepatuhan. Keyakinan itu disampaikannya dengan harapan pasar segera kembali stabil.
Meski begitu, pelaku pasar masih akan mencermati rincian pelaksanaan kebijakan, termasuk mekanisme penunjukan BUMN dan alur ekspornya. Transparansi menjadi faktor utama agar pasar tidak menafsirkan kebijakan sebagai hambatan baru. Dengan kejelasan itu, kepercayaan investor berpeluang pulih secara bertahap.
Untuk sementara, IHSG masih berada dalam fase penyesuaian terhadap sentimen baru dari pemerintah. Investor disarankan mencermati perkembangan kebijakan serta dampaknya terhadap emiten terkait komoditas. Arah pasar selanjutnya akan sangat bergantung pada kepastian regulasi dan respons pelaku usaha.
