IHSG Anjlok 2,76 Persen ke 6.144 pada Penutupan Sesi I

Forex & Saham Kevin S. Pratama 27 Mei 2026 23:55 WIB 4
IHSG Anjlok 2,76 Persen ke 6.144 pada Penutupan Sesi I

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah tajam pada penutupan perdagangan sesi I, Kamis (21/5), di tengah tekanan jual yang meluas di pasar saham. Berdasarkan data RTI Business, IHSG turun 2,76 persen ke level 6.144,35 setelah sempat bergerak menguat pada awal perdagangan hingga 6.378,81.

Penurunan tersebut terjadi saat volume transaksi mencapai 19,91 miliar saham dengan nilai Rp 9,78 triliun, dan frekuensi perdagangan menembus 1.285.918 kali. Pada periode yang sama, sebanyak 118 saham menguat, 601 saham melemah, dan 94 saham stagnan, sementara kinerja IHSG sepanjang tahun ini tercatat turun 28,94 persen.

IHSG Terkoreksi Tajam Sesi I

Pergerakan IHSG pada sesi pertama menunjukkan volatilitas yang tinggi sejak pembukaan pasar. Indeks sempat berada di zona hijau, namun tekanan jual membuat arah perdagangan berbalik tajam. Koreksi ini menempatkan IHSG jauh dari level tertinggi intraday yang sempat disentuh pagi tadi.

Data RTI Business memperlihatkan pelemahan indeks berlangsung merata di berbagai kelompok saham. Kondisi tersebut menandakan investor cenderung melakukan aksi ambil untung setelah reli singkat di awal sesi. Sentimen pasar pun terlihat belum cukup kuat untuk menahan tekanan jual.

Dengan posisi di 6.144,35, IHSG kembali berada pada area yang dinilai sensitif oleh pelaku pasar. Pelemahan sebesar 2,76 persen menjadi salah satu koreksi yang cukup dalam pada perdagangan hari ini. Arah berikutnya akan sangat ditentukan oleh respons investor pada sesi lanjutan.

Tekanan Jual Meningkat

Jumlah saham yang melemah jauh lebih besar dibandingkan saham yang menguat pada sesi I. Tercatat 601 saham turun, sedangkan hanya 118 saham yang berhasil menguat. Ketimpangan ini memperkuat gambaran bahwa tekanan jual mendominasi bursa pada perdagangan hari ini.

Nilai transaksi yang mencapai Rp 9,78 triliun menunjukkan aktivitas pasar tetap ramai meski indeks terkoreksi. Frekuensi perdagangan yang lebih dari 1,28 juta kali juga menandakan minat pelaku pasar masih tinggi. Namun, tingginya aktivitas belum mampu mengubah arah pergerakan indeks ke zona positif.

Secara tahunan, IHSG masih mencatat pelemahan 28,94 persen, sehingga pasar berada dalam fase pemulihan yang belum stabil. Kondisi ini membuat investor cenderung selektif dalam memilih saham. Saham-saham berfundamental kuat menjadi perhatian utama saat volatilitas meningkat.

Saham Rontok ke ARB

Sejumlah saham tercatat anjlok hingga menyentuh auto reject bawah atau ARB pada sesi I. PT LCK Global Kedaton Tbk (LCKM) turun 14,95 persen ke level Rp 165 per saham. PT Cakra Buana Resources Energi Tbk (CBRE) juga terkoreksi 14,72 persen ke harga Rp 695 per saham.

Tekanan yang sama dialami PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), yang melemah 14,65 persen ke Rp 2.270 per saham. Saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BMRS) milik Bakrie Group turun 14,39 persen ke level Rp 565 per saham. Sementara itu, PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) turun 13,50 persen ke Rp 705 per saham.

Daftar saham yang masuk zona ARB menunjukkan sentimen negatif belum mereda di pasar. Penurunan tajam pada sejumlah emiten menambah beban bagi pergerakan indeks utama. Dalam situasi seperti ini, investor biasanya lebih berhati-hati terhadap saham berisiko tinggi.

Pasar Menanti Arah Lanjutan

Pergerakan IHSG pada sesi berikutnya akan bergantung pada kemampuan pasar menahan tekanan jual. Jika sentimen membaik, indeks berpeluang memangkas sebagian koreksi yang terjadi pada pagi hari. Sebaliknya, bila aksi jual berlanjut, IHSG dapat kembali tertekan ke level yang lebih rendah.

Investor saat ini cenderung mencermati saham-saham dengan likuiditas tinggi dan fundamental yang kuat. Di tengah fluktuasi pasar, keputusan jual beli banyak dipengaruhi oleh kehati-hatian terhadap risiko jangka pendek. Kondisi ini membuat sektor-sektor tertentu berpotensi bergerak lebih selektif dibanding indeks secara keseluruhan.

Meski terkoreksi, aktivitas perdagangan yang tetap tinggi menunjukkan pasar saham masih menjadi perhatian utama pelaku investasi. Data sesi I memberi sinyal bahwa volatilitas belum selesai dan peluang pergerakan besar masih terbuka. Pelaku pasar kini menunggu apakah IHSG mampu pulih saat perdagangan berlanjut.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!