Holywings Disorot, Perlukah Ganti Nama?

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 28 Mei 2026 12:07 WIB 4
Holywings Disorot, Perlukah Ganti Nama?

Holywings tengah berada dalam sorotan setelah 12 outletnya di Jakarta ditutup karena persoalan izin, sementara perusahaan juga masih menghadapi dampak dari promo minuman alkohol gratis untuk pelanggan bernama Muhammad dan Maria. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan besar, apakah merek Holywings masih layak dipertahankan atau perlu diganti nama.

Praktisi dan konsultan marketing Inventure, Yuswohady, menilai reputasi Holywings ikut terpukul karena persoalan yang dikaitkan dengan isu suku, agama, ras, dan antargolongan. Menurut dia, penutupan outlet memperburuk citra merek, sehingga perusahaan perlu menimbang langkah strategis agar tidak kehilangan kepercayaan publik.

Brand Holywings Tertekan

Yuswohady menilai tekanan yang dihadapi Holywings bukan sekadar masalah operasional, tetapi juga menyentuh reputasi merek. Ketika sebuah usaha ditutup karena persoalan perizinan, citra brand ikut terdampak di mata publik. Dampak itu menjadi lebih berat karena sebelumnya perusahaan sudah terseret kontroversi promosi minuman beralkohol. Dalam kondisi seperti ini, persepsi masyarakat terhadap brand cenderung semakin negatif.

Ia menjelaskan bahwa brand yang terseret masalah izin biasanya akan dinilai kurang tertib sebagai pelaku usaha. Penilaian itu dapat membuat konsumen mempertanyakan kredibilitas perusahaan dalam jangka panjang. Karena itu, pemulihan citra tidak cukup dilakukan dengan komunikasi singkat. Perusahaan perlu membangun kembali kepercayaan secara konsisten dan terukur.

Menurut dia, masalah yang menumpuk dapat menggerus nilai merek yang sebelumnya sudah dibangun. Jika kondisi ini dibiarkan, brand akan makin sulit dipertahankan sebagai identitas bisnis yang kuat. Hal tersebut menjadi penting karena nama merek bukan hanya simbol, melainkan aset komersial. Saat aset itu rusak, seluruh strategi bisnis ikut terkena imbas.

Pilihan Rebranding Muncul

Yuswohady menyebut ada dua opsi utama yang dapat dipertimbangkan Holywings untuk memperbaiki posisi mereknya. Opsi pertama adalah melakukan rebranding tanpa menghapus nama utama secara total. Langkah ini dinilai cocok jika brand masih memiliki nilai dan pengenalan yang cukup kuat di masyarakat. Dengan cara itu, identitas lama tetap bisa dimanfaatkan sambil memperbaiki citra.

Model rebranding tersebut bisa dilakukan dengan menambahkan elemen baru pada nama merek. Misalnya, identitas lama tetap muncul dalam bentuk penamaan seperti “by Holywings”. Strategi ini membuat nama lama masih terlihat, tetapi dalam kemasan yang lebih segar. Pendekatan tersebut juga bisa membantu menjaga ekuitas brand yang masih tersisa.

Namun, Yuswohady menegaskan bahwa rebranding semacam ini hanya relevan jika nama Holywings belum terlalu rusak. Bila masih ada ruang untuk dipulihkan, maka menghapus nama besar justru dianggap kurang efisien. Sebaliknya, mempertahankan identitas lama dapat memudahkan perusahaan menjaga jejak brand di pasar. Karena itu, keputusan harus didasarkan pada kondisi merek yang sesungguhnya.

Risiko Ganti Nama Total

Opsi kedua adalah mengganti nama secara total dan membangun merek baru dari nol. Menurut Yuswohady, langkah ini bisa dipilih jika nama lama sudah sangat buruk di mata publik. Dalam situasi tersebut, mempertahankan nama lama justru berpotensi menghambat pemulihan bisnis. Ganti nama menjadi pilihan ketika beban reputasi sudah terlalu berat.

Meski begitu, pergantian nama bukan keputusan yang ringan karena membangun brand baru membutuhkan proses panjang. Perusahaan harus menyiapkan riset pasar, strategi komunikasi, dan arah positioning yang jelas. Tanpa persiapan matang, nama baru bisa sulit diterima konsumen. Risiko kegagalan pun tetap terbuka karena pasar tidak langsung memberi kepercayaan.

Ia menambahkan bahwa keberhasilan sebuah brand tidak hanya ditentukan oleh strategi pemasaran. Ada faktor keberuntungan, waktu yang tepat, dan penerimaan publik yang ikut berperan. Karena itu, membangun merek baru dari nol tidak selalu menjamin sukses. Setiap langkah harus dihitung dengan cermat agar tidak menimbulkan kerugian baru.

Keputusan Perlu Riset

Yuswohady menekankan bahwa keputusan apakah Holywings perlu ganti nama harus didasarkan pada riset yang serius. Perusahaan perlu mengetahui seberapa buruk persepsi masyarakat terhadap nama tersebut. Jika hasil riset menunjukkan nama lama masih punya nilai, maka rebranding parsial bisa menjadi pilihan. Namun jika nama itu sudah kehilangan daya jual, pergantian total mungkin tidak terhindarkan.

Riset juga penting untuk melihat bagaimana konsumen merespons identitas lama setelah berbagai kontroversi. Dari sana, perusahaan dapat mengukur apakah publik masih mengingat merek tersebut dengan asosiasi positif. Jika asosiasi negatif terlalu dominan, mempertahankan nama lama bisa menjadi beban tambahan. Dalam situasi itu, keputusan bisnis harus didorong oleh data, bukan semata intuisi.

Menurut dia, yang terpenting adalah memastikan langkah yang diambil tidak memperburuk posisi perusahaan. Holywings perlu memilih antara mempertahankan aset merek yang masih tersisa atau memulai identitas baru yang lebih bersih. Kedua opsi memiliki konsekuensi berbeda, baik dari sisi biaya maupun reputasi. Pada akhirnya, keputusan tersebut akan menentukan arah pemulihan bisnis ke depan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!