Holywings Dihadapkan Pilihan Rebranding atau Ganti Nama

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 01 Juni 2026 04:10 WIB 2
Holywings Dihadapkan Pilihan Rebranding atau Ganti Nama

Bisnis Holywings tengah berada di bawah tekanan setelah 12 outletnya di Jakarta ditutup karena persoalan izin usaha. Di saat yang sama, perusahaan juga menghadapi sorotan publik terkait promo minuman alkohol gratis bagi pelanggan bernama Muhammad dan Maria.

Situasi itu memunculkan pertanyaan besar, apakah Holywings perlu mengganti nama agar dapat memulihkan citra merek. Praktisi dan konsultan marketing dari Inventure, Yuswohady, menilai keputusan tersebut harus ditimbang berdasarkan seberapa dalam kerusakan reputasi yang sudah terjadi.

Holywings dan Tekanan Reputasi

Yuswohady menilai reputasi Holywings sedang terpukul akibat kasus promo yang dikaitkan dengan isu suku, agama, ras, dan antargolongan. Menurutnya, dampak tersebut membuat posisi merek menjadi lebih rapuh di mata publik.

Penutupan 12 outlet di Jakarta juga memperburuk persepsi terhadap perusahaan. Dalam pandangannya, persoalan perizinan bukan hanya berdampak pada operasional, tetapi juga pada citra merek secara keseluruhan.

Ia menjelaskan, ketika sebuah usaha terkena larangan karena masalah perizinan, maka nilai brand ikut terdampak. Kondisi itu dapat menimbulkan anggapan bahwa perusahaan tidak berjalan sebagai pelaku usaha yang baik.

Opsi Rebranding Masih Terbuka

Menurut Yuswohady, salah satu langkah yang dapat ditempuh adalah rebranding. Opsi ini dinilai tepat apabila merek utama masih memiliki modal reputasi yang cukup kuat.

Dalam skema ini, nama Holywings tidak harus dihapus sepenuhnya. Identitas merek masih bisa dipertahankan melalui penamaan seperti by Holywings, sehingga nilai merek lama tetap ikut menempel.

Ia menilai langkah tersebut bisa menjadi jalan tengah antara memperbaiki citra dan menjaga ekuitas merek. Strategi ini dinilai lebih masuk akal jika masalah yang terjadi belum meruntuhkan kepercayaan publik secara total.

Ganti Nama Bukan Langkah Mudah

Opsi lain adalah mengganti nama sepenuhnya dengan brand baru. Namun, langkah ini memiliki konsekuensi besar karena perusahaan harus membangun pengenalan merek dari awal.

Yuswohady menegaskan, keputusan itu sebaiknya didahului riset mendalam untuk mengetahui sejauh mana nama Holywings telah dianggap buruk oleh masyarakat. Jika hasil riset menunjukkan citra merek sudah sangat rusak, maka penggantian nama bisa menjadi pilihan terakhir.

Meski begitu, ia mengingatkan bahwa membangun merek baru bukan perkara sederhana. Keberhasilan brand tidak hanya ditentukan strategi, tetapi juga faktor momentum dan keberuntungan.

Riset Jadi Penentu Keputusan

Menurutnya, perusahaan perlu mengukur apakah merek lama masih memiliki peluang diselamatkan. Jika masih ada ruang, maka rebranding lebih bijak dibanding memutus hubungan total dengan nama yang sudah dikenal.

Namun jika hasil evaluasi menunjukkan nama Holywings sudah tidak layak dipakai, maka ganti nama menjadi jalan yang sulit dihindari. Pilihan ini harus diambil dengan kesadaran bahwa seluruh proses brand building akan dimulai dari nol.

Dengan kondisi saat ini, Holywings dihadapkan pada keputusan strategis yang tidak ringan. Perusahaan perlu menimbang antara mempertahankan nama yang kuat atau mengambil risiko besar demi memulihkan citra di hadapan publik.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!