HAS Pictures Somasi Ratu Sofya soal Promosi Film

Lifestyle Anindya Kirana Putri 26 Mei 2026 13:00 WIB 2
HAS Pictures Somasi Ratu Sofya soal Promosi Film

Persoalan antara Ratu Sofya dan rumah produksi HAS Pictures memanas setelah muncul dugaan penolakan promosi film Dosa Penebusan atau Pengampunan. Konflik ini mencuat usai Ratu membuka suara mengenai keberatannya terhadap adegan intim dalam film tersebut. Pihak produksi kemudian menyomasi sang aktris dan meminta kewajiban yang telah disepakati tetap dijalankan.

Ratu sebelumnya mengaku merasa tidak nyaman serta dieksploitasi dalam proses produksi film. Ia juga menyebut keterlibatan keluarganya membuat dirinya memilih tidak mengikuti rangkaian promosi. Menanggapi hal itu, HAS Pictures menegaskan bahwa persoalan pribadi tidak dapat dijadikan alasan untuk mengabaikan kontrak kerja.

Sengketa Film Ratu Sofya

Kuasa hukum HAS Pictures, Takwa, mengatakan pihaknya hanya menuntut kewajiban profesional yang sudah tertuang dalam perjanjian. Menurut dia, hubungan keluarga antara Ratu Sofya dan orang tuanya bukan ranah perusahaan. Karena itu, perusahaan tidak berkepentingan untuk masuk ke persoalan internal tersebut.

Takwa menyampaikan pernyataan itu di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, pada Selasa. Ia menegaskan bahwa komunikasi yang bermasalah di dalam keluarga tidak otomatis menghapus tanggung jawab dalam kontrak kerja. Pihak produksi, kata dia, tetap berpegang pada kesepakatan yang telah dibuat sejak awal.

Ia juga menambahkan bahwa HAS Pictures sudah memberi ruang bagi Ratu untuk menyelesaikan persoalan secara baik-baik. Namun, perusahaan tetap menunggu itikad baik dari sang aktris agar polemik tidak berlarut. Jika kewajiban yang diperjanjikan tetap diabaikan, maka langkah lanjutan akan dipertimbangkan.

Klaim Kontrak Produksi

Menurut Takwa, masalah utama dalam perkara ini bukan pada isi film, melainkan pada pelaksanaan kewajiban promosi. Ia menyebut kerja sama film memiliki konsekuensi yang harus dipatuhi oleh semua pihak. Dengan demikian, penolakan sepihak dinilai dapat menimbulkan persoalan hukum.

HAS Pictures menilai seluruh pihak yang terlibat dalam produksi seharusnya menjalankan komitmen yang sudah disepakati. Perusahaan juga mengingatkan bahwa kontrak kerja tidak bisa diabaikan hanya karena muncul ketidaknyamanan setelah proses berjalan. Sikap profesional, menurut mereka, menjadi dasar penyelesaian sengketa ini.

Dalam keterangannya, Takwa menyebut pihak produksi masih membuka kesempatan bagi Ratu untuk kembali memenuhi kewajibannya. Ia menegaskan bahwa penyelesaian secara damai tetap menjadi pilihan utama selama ada komunikasi yang baik. Meski begitu, perusahaan tidak menutup kemungkinan mengambil tindakan hukum bila situasi terus buntu.

Bantahan Soal Pornografi

HAS Pictures juga membantah tudingan adanya unsur pornografi dalam film yang dipersoalkan. Takwa mengatakan proses produksi maupun rencana penayangan sudah mengikuti aturan perfilman yang berlaku. Ia menegaskan perusahaan memahami batasan hukum dan etika dalam pembuatan film.

Menurut dia, seluruh adegan diproduksi dengan memperhatikan tata krama serta ketentuan undang-undang yang berkaitan dengan perfilman. Karena itu, tudingan adanya unsur pornografi dinilai tidak sesuai dengan fakta produksi. Pihaknya juga menilai tuduhan tersebut tidak semestinya dijadikan dasar untuk menolak kewajiban promosi.

Takwa menambahkan bahwa perusahaan tidak akan membiarkan tudingan yang dianggap merugikan reputasi produksi. Jika alasan keluarga dipakai untuk menghindari kontrak, HAS Pictures menyatakan akan mempertimbangkan jalur hukum. Langkah itu, kata dia, dapat ditempuh apabila ditemukan unsur pidana dalam persoalan tersebut.

Jalur Hukum Masih Terbuka

Meski membuka peluang menempuh jalur hukum, HAS Pictures masih memilih menunggu perkembangan itikad baik dari Ratu Sofya. Perusahaan berharap masalah ini dapat diselesaikan tanpa memperpanjang konflik di ruang publik. Namun, mereka menegaskan perlindungan terhadap hak kontraktual tetap menjadi prioritas.

Takwa mengatakan penyelesaian profesional menjadi harapan utama agar hubungan kerja tidak semakin memburuk. Ia menilai komunikasi yang terbuka akan membantu mencari titik temu di tengah perbedaan pandangan. Dengan begitu, setiap pihak bisa menempuh penyelesaian yang lebih terukur dan adil.

Kasus ini sekaligus menyoroti pentingnya kejelasan kontrak dan komunikasi antara pemain film dan rumah produksi. Di sisi lain, polemik tersebut menunjukkan bahwa isu personal dapat berdampak langsung pada kewajiban profesional. Hingga kini, HAS Pictures masih menunggu langkah berikutnya dari Ratu Sofya.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!