Hartono Gan Homme meluncurkan lini ready-to-wear perdana, menandai transformasi penting bagi label yang sebelumnya berfokus pada layanan made-to-order. Label ini menegaskan arah bisnis yang lebih terstruktur untuk masuk ke sistem retail. Langkah ini juga menjadi sinyal kesiapan brand menghadapi pasar fesyen nasional.
Acara peluncuran dilakukan melalui presentasi di LAKON Store, Summarecon Mall Kelapa Gading. Koleksi perdana terdiri dari 16 artikel busana yang dirancang untuk menjangkau khalayak lebih luas. DNA brand tetap dipertahankan lewat pendekatan tailoring yang edgy, timeless, dan elegan meski dikemas menjadi format ready-to-wear.
Keterlibatan JF3
JF3 melalui program Future Fashion Award yang kini berkembang menjadi Future Fashion Designer memainkan peran penting dalam transisi ini. Program tersebut dirancang untuk membantu desainer mengembangkan kapasitas produksi, sistem operasional, hingga kesiapan masuk ke retail profesional melalui pendampingan bisnis yang terstruktur. Kolaborasi semacam ini menjadi fondasi bagi Hartono Gan Homme untuk tumbuh secara berkelanjutan.
Advisor JF3 sekaligus founder LAKON Indonesia, Thresia Mareta, menegaskan bahwa sinergi antara kreativitas dan kesiapan bisnis adalah kunci. Menurutnya, kombinasi tersebut memperkuat fondasi brand dalam menghadapi pasar yang kompetitif. Kolaborasi ini juga membuka peluang ekspansi yang lebih luas bagi talenta nasional.
Soegianto Nagaria, Ketua JF3 Fashion Festival, menegaskan bahwa JF3 tidak sekadar ajang presentasi karya, tetapi juga ekosistem yang mendukung pertumbuhan industri fashion nasional. Transformasi Hartono Gan menjadi contoh bagaimana talenta Indonesia bisa berkembang dengan dukungan ekosistem yang tepat. Ia menilai ekosistem seperti ini penting untuk menumbuhkan ekonomi fesyen nasional.
Koleksi Ready-to-Wear
Koleksi ready-to-wear perdana mengusung konsep capsule wardrobe. Item yang disertakan mencakup blazer, jaket kasual, celana tailored, dan kemeja. Setiap potongan dirancang fleksibel untuk dipadupadankan tanpa mengurangi kualitas craftsmanship.
Hartono Gan menyatakan kehadiran lini ini bertujuan menjangkau pasar lebih luas tanpa menghilangkan identitas desain. Ia menekankan keinginan agar lebih banyak orang menikmati kualitas yang menjadi ciri khas brand. Peluncuran ini dipandang sebagai pengembangan desain ke konteks yang lebih luas, bukan kompromi.
Konstruksi koleksi ini juga menjaga keberlanjutan proses produksi melalui pendekatan tailoring yang tegas namun tidak kaku. Kebutuhan pasar urban mendorong variasi gaya tanpa mengorbankan kualitas craftsmanship. Hartono Gan menyiratkan bahwa fokus pada kualitas tetap menjadi pedoman utama.
Tema 2026: Recrafted
Peluncuran ini sejalan dengan tema JF3 tahun 2026, Recrafted: Shaping the Future. Tema ini menekankan pentingnya koneksi antara kreativitas dan sistem bisnis. Hubungan antara runway dan retail menjadi fokus utama.
Hartono Gan mengungkap bahwa transformasi ini menegaskan kebutuhan integrasi antara talenta dan ekosistem. Dengan adanya program inkubasi dan kemitraan internasional, potensi ekspor produk fesyen nasional meningkat. JF3 berupaya menjadikan fashion Indonesia sebagai kekuatan ekonomi yang kompetitif.
Sejak didirikan pada 2004, JF3 telah berkembang menjadi platform industri terintegrasi. Kolaborasi dengan mitra internasional memperluas jaringan produksi dan pemasaran. Kondisi ini diharapkan mendorong pertumbuhan industri fesyen nasional secara berkelanjutan.
