Dunia jam tangan mewah kembali menjadi sorotan setelah Kejaksaan Agung memusnahkan 14 jam tangan milik tersangka korupsi Asabri, Jimmy Sutopo, yang diketahui palsu. Peristiwa itu menarik perhatian publik karena melibatkan merek prestisius seperti Patek Philippe dan Audemars Piguet, yang selama ini identik dengan kemewahan dan harga fantastis.
Kasus tersebut menambah perbincangan mengenai pasar arloji premium di Indonesia, terutama di kalangan kolektor dan pemburu barang eksklusif. Di tengah sorotan itu, publik kembali menoleh pada harga, kelangkaan, dan nilai prestise yang membuat jam tangan kelas atas tetap diburu.
Jam Tangan Mewah Jadi Sorotan
Pemusnahan barang bukti oleh Kejaksaan Agung menegaskan bahwa jam tangan yang disita dari tersangka bukanlah produk asli. Validasi dilakukan melalui proses panjang sebelum akhirnya dipastikan bahwa seluruh unit tersebut palsu. Sebelumnya, tersangka juga telah mengakui dalam persidangan bahwa barang yang dimiliki bukan keluaran resmi merek mewah.
Kasus ini memperlihatkan betapa kuatnya daya tarik jam tangan mewah di mata publik. Merek seperti Patek Philippe dan Audemars Piguet kerap dipandang sebagai simbol status sosial yang tinggi. Karena itu, barang tiruan dengan tampilan serupa masih sering beredar dan menarik minat sebagian orang.
Di Indonesia, jam tangan premium menjadi bagian dari gaya hidup kalangan berduit dan kolektor. Minat terhadap produk asli tetap tinggi karena nilai eksklusivitasnya sulit ditandingi. Kondisi ini membuat pasar arloji mewah terus bergerak, meski harganya berada jauh di atas rata-rata.
Harga Audemars Piguet
Audemars Piguet atau AP dikenal luas lewat lini Royal Oak yang ikonik. Untuk model stainless steel, harganya umumnya berkisar antara Rp 600 juta hingga Rp 1,2 miliar. Sementara itu, Royal Oak Offshore chronograph berada di rentang sekitar Rp 400 juta hingga Rp 900 juta.
Model AP dengan kategori high complication atau limited edition bisa melesat jauh lebih tinggi. Nilainya dapat mencapai Rp 2 miliar hingga lebih dari Rp 6 miliar, tergantung kelangkaan dan spesifikasi. Pada level tersebut, faktor desain, material, dan reputasi merek menjadi penentu utama.
AP tetap menjadi salah satu merek favorit di kalangan kolektor Indonesia. Kombinasi desain khas, produksi terbatas, dan citra eksklusif membuatnya sulit tergantikan. Tidak heran jika arloji ini sering menjadi incaran mereka yang ingin tampil berbeda dan berkelas.
Patek Philippe Kian Eksklusif
Patek Philippe sering dianggap lebih eksklusif dibanding AP karena produksi yang sangat terbatas. Jam tangan asal Swiss ini bahkan dijuluki holy grail oleh para kolektor karena dianggap memiliki nilai simpan yang sangat kuat. Reputasi tersebut membuat permintaannya tetap tinggi meski harganya melambung.
Untuk seri awal, Calatrava entry level dibanderol sekitar Rp 180 juta hingga Rp 500 juta. Aquanaut berada di kisaran Rp 1 miliar sampai Rp 4 miliar, sedangkan Nautilus dapat mencapai Rp 1,8 miliar hingga Rp 7 miliar. Pada lini Grand Complications, harga bisa menembus puluhan miliar rupiah.
Contoh paling mencolok pernah terlihat di Jakarta Watch Exchange 2026 pada Januari lalu. Saat itu, Patek Philippe Nautilus Chrono White Gold Blue Dial 40th Anniversary dipamerkan dengan harga Rp 6,6 miliar. Arloji tersebut disebut sebagai salah satu incaran utama para kolektor jam tangan.
Pasar Kolektor di Indonesia
Pasar jam tangan mewah di Indonesia masih didominasi oleh permintaan dari kalangan crazy rich dan kolektor kelas atas. Selain Patek Philippe dan Audemars Piguet, Richard Mille juga kerap menempati posisi teratas dalam daftar merek paling diburu. Fenomena ini menunjukkan bahwa jam tangan bukan hanya alat penunjuk waktu, melainkan juga aset gaya hidup.
Anton Lim, pendiri JWX, pernah menyebut bahwa Richard Mille berada di urutan pertama dalam minat pasar Indonesia. Setelah itu, Patek Philippe dan Audemars Piguet menyusul sebagai merek yang sangat diminati. Pernyataan tersebut menggambarkan kuatnya orientasi pasar terhadap produk yang langka dan bernilai tinggi.
Minat terhadap jam tangan mewah dipengaruhi oleh reputasi, kelangkaan, dan potensi value retention yang kuat. Semakin tinggi tingkat eksklusivitas, semakin besar pula daya tariknya di mata pembeli. Karena itu, merek-merek premium tetap mampu menjaga posisinya di tengah perubahan tren fesyen dan gaya hidup.
