Nama Patek Philippe dan Audemars Piguet kembali menjadi sorotan setelah Kejaksaan Agung memusnahkan 14 jam tangan milik tersangka korupsi Asabri, Jimmy Sutopo. Barang-barang itu dipastikan palsu setelah melalui proses validasi panjang, sementara kasus tersebut menimbulkan kerugian negara sebesar Rp22,7 triliun.
Di sisi lain, perhatian publik terhadap jam tangan mewah ikut menguat karena harga beberapa model dari dua merek asal Swiss itu dapat menembus miliaran rupiah. Dalam dunia kolektor, Patek Philippe dan Audemars Piguet kerap dipandang sebagai simbol prestise, kelangkaan, dan nilai investasi yang tinggi.
Harga Jam Tangan Mewah
Jam tangan mewah tidak hanya berfungsi sebagai penunjuk waktu, tetapi juga sebagai penanda status sosial. Pada segmen premium, harga sebuah arloji dapat melambung karena material, komplikasi mesin, dan kelangkaan produksi.
Audemars Piguet, misalnya, memiliki lini Royal Oak stainless steel dengan harga sekitar Rp600 juta hingga Rp1,2 miliar. Sementara itu, Royal Oak Offshore chronograph berada di kisaran Rp400 juta sampai Rp900 juta.
Untuk model high complication atau limited edition, harganya dapat mencapai Rp2 miliar hingga lebih dari Rp6 miliar. Angka tersebut menunjukkan bahwa pasar jam tangan mewah bergerak dengan logika eksklusivitas yang sangat kuat.
Di Indonesia, minat terhadap jam tangan mewah cenderung datang dari kalangan berduit yang mencari barang koleksi bernilai tinggi. Kondisi ini membuat merek-merek tertentu semakin identik dengan gaya hidup elite dan investasi jangka panjang.
Patek Philippe Dan Audemars Piguet
Patek Philippe dan Audemars Piguet sama-sama berasal dari Swiss dan dikenal sebagai merek dengan reputasi global yang sangat kuat. Keduanya kerap masuk daftar teratas jam tangan paling prestisius di dunia.
Patek Philippe bahkan sering disebut sebagai holy grail di kalangan kolektor karena produksinya terbatas dan nilai jual kembalinya relatif terjaga. Hal tersebut membuat merek ini kerap dianggap lebih eksklusif dibanding Audemars Piguet.
Untuk Patek Philippe, seri Calatrava entry level berada di kisaran Rp180 juta hingga Rp500 juta. Adapun Aquanaut dapat mencapai Rp1 miliar sampai Rp4 miliar, sedangkan Nautilus berada di rentang Rp1,8 miliar hingga Rp7 miliar.
Di lini paling atas, Grand Complications bahkan dapat menembus puluhan miliar rupiah. Tidak heran jika jam tangan ini menjadi incaran kolektor yang mengejar kelangkaan dan prestise dalam satu paket.
Kasus Jam Palsu Koruptor
Sorotan publik terhadap jam tangan mewah kembali meningkat setelah Kejagung memusnahkan 14 jam tangan milik Jimmy Sutopo. Seluruh barang itu dinyatakan palsu setelah proses pemeriksaan yang dilakukan secara bertahap.
Sebelumnya, dalam persidangan, tersangka telah mengakui bahwa barang tersebut bukan produk asli. Pengakuan itu memperkuat kesimpulan bahwa jam tangan yang dipamerkan bukanlah koleksi bernilai seperti yang kerap diasosiasikan dengan merek aslinya.
Kasus ini menegaskan bahwa citra kemewahan sering kali dipakai untuk membangun kesan tertentu, meski tidak selalu sejalan dengan keaslian barang. Dalam perkara korupsi, barang mewah kerap menjadi simbol yang menarik perhatian publik karena identik dengan gaya hidup berlebihan.
Pemusnahan barang bukti juga menjadi penegasan bahwa negara serius menindak aset yang terkait kasus korupsi. Di saat yang sama, publik kembali diingatkan bahwa barang bermerek tidak selalu memiliki nilai asli sebagaimana yang diklaim.
Pasar Kolektor Di Indonesia
Pasar jam tangan mewah di Indonesia berkembang seiring meningkatnya minat kolektor terhadap produk premium. Di antara merek yang paling sering disebut, Richard Mille masih menempati posisi teratas dalam daftar incaran kaum kaya.
Setelah itu, Patek Philippe dan Audemars Piguet menyusul sebagai pilihan populer di kalangan pemburu arloji kelas atas. Menurut Anton Lim, pendiri Jakarta Watch Exchange, dua merek tersebut termasuk yang paling banyak dicari oleh crazy rich di Tanah Air.
Dalam ajang Jakarta Watch Exchange 2026, sempat dipamerkan Patek Philippe Nautilus Chrono White Gold Blue Dial 40th Anniversary. Jam tangan itu dipasarkan seharga Rp6,6 miliar dan langsung mencuri perhatian para pengunjung.
Fenomena ini menunjukkan bahwa jam tangan mewah bukan sekadar aksesori, melainkan aset koleksi yang memiliki nilai emosional dan finansial. Selama pasarnya terus hidup, merek seperti Patek Philippe dan Audemars Piguet akan tetap berada di puncak pembicaraan para kolektor.
