Happy Salma Soroti Perimenopause, Fase yang Sering Tak Disadari

Lifestyle Clara Monica 01 Juni 2026 12:32 WIB 2
Happy Salma Soroti Perimenopause, Fase yang Sering Tak Disadari

Happy Salma membagikan pengalamannya menghadapi perimenopause, fase transisi menuju menopause yang kerap datang tanpa disadari. Aktris berusia 46 tahun itu mengaku mulai lebih memahami perubahan tubuh dan emosinya seiring bertambahnya usia.

Ia menilai banyak perempuan belum cukup mendapat informasi tentang tahapan ini, padahal perimenopause dapat muncul sejak usia 30-an dan membawa dampak fisik maupun emosional. Menurutnya, pemahaman yang tepat menjadi kunci agar fase ini tidak dipandang menakutkan, melainkan sebagai bagian alami dari perjalanan hidup perempuan.

Perimenopause dan perubahan tubuh

Happy Salma mengaku dulu tidak benar-benar memahami apa itu perimenopause, meski kakak-kakaknya kini berada di usia yang sudah lebih dekat dengan menopause. Ia baru menyadari bahwa perubahan yang terjadi pada tubuh perempuan bersifat bertahap dan tidak selalu mudah dikenali sejak awal.

Menurutnya, perimenopause bisa dimulai lebih dini dari yang diperkirakan banyak orang. Fase ini tidak hanya memengaruhi kondisi fisik, tetapi juga turut berdampak pada kestabilan emosi sehari-hari.

Ia menuturkan bahwa gejala yang dulu dianggap sebagai PMS biasa kini terasa lebih intens. Kondisi itu membuatnya semakin peka terhadap sinyal tubuh yang berubah dari waktu ke waktu.

Brain fog saat bekerja

Salah satu perubahan yang paling ia rasakan adalah menurunnya daya ingat dan fokus, yang dikenal sebagai brain fog. Kondisi ini membuat seseorang lebih mudah lupa, sulit berkonsentrasi, dan merasa pikirannya tidak setajam biasanya.

Happy menjelaskan bahwa gangguan tersebut berdampak langsung pada pekerjaannya sebagai aktris. Karena terbiasa menghafal naskah, ia kini harus beradaptasi dengan situasi saat ingatan tidak selalu bekerja sebaik sebelumnya.

Dalam fase perimenopause, brain fog umumnya berkaitan dengan fluktuasi hormon, terutama estrogen yang berperan penting dalam fungsi otak. Akibatnya, aktivitas yang menuntut konsentrasi tinggi, seperti mengambil keputusan dan menjaga fokus, dapat terasa lebih berat.

Emosi dan refleksi diri

Selain perubahan fisik, Happy juga merasakan dampak emosional yang cukup kuat. Ia menilai sensitivitasnya meningkat, sehingga hal-hal kecil bisa terasa jauh lebih mengganggu dibandingkan sebelumnya.

Meski begitu, ia tidak melihat fase ini sebagai sesuatu yang harus ditakuti. Baginya, perimenopause justru menjadi ruang untuk mengenal diri sendiri dengan lebih jujur dan mendalam.

Ia menyebut fase ini sebagai kesempatan untuk lebih menghargai hidup dan memperbaiki kualitas diri. Dari sudut pandangnya, perempuan bisa menjadi lebih tenang, lebih sadar, dan lebih menerima dirinya sendiri.

Cara memahami perimenopause

Happy menegaskan bahwa pemahaman adalah bekal utama untuk menghadapi perimenopause dengan sehat. Karena itu, ia aktif mencari informasi agar tidak hanya bergantung pada asumsi atau cerita yang belum tentu benar.

Ia juga mencoba terapi regulasi stres, termasuk Mindlift by Exomind, sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan tubuh dan pikiran. Menurutnya, dukungan terhadap kesehatan mental dapat membantu perempuan melewati fase transisi ini dengan lebih nyaman.

Pengalaman tersebut membuatnya percaya bahwa perimenopause bisa menjadi momen refleksi yang bernilai. Dengan pengetahuan yang cukup, perempuan dapat memaknainya sebagai kesempatan kedua untuk merasa lebih baik dari dalam.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!