Perimenopause kerap datang tanpa disadari dan membawa perubahan fisik sekaligus emosional pada perempuan. Hal itu juga dirasakan Happy Salma yang kini semakin memahami tubuhnya seiring bertambahnya usia.
Aktris berusia 46 tahun itu mengakui sebelumnya ia dan keluarganya tidak benar-benar memahami tahapan menopause, meski fase tersebut pasti terjadi. Ia menilai pengetahuan tentang perubahan tubuh perlu dimiliki sejak dini agar perempuan tidak kaget saat mengalaminya.
Perimenopause dan perubahan tubuh
Happy menyebut perimenopause bahkan dapat dimulai sejak usia 30-an, sehingga banyak perempuan mungkin belum menyadari gejalanya. Menurutnya, perubahan yang muncul tidak hanya terjadi pada tubuh, tetapi juga pada kondisi emosional.
Ia mengungkapkan bahwa sensitivitas terhadap PMS kini terasa berbeda dibandingkan sebelumnya. Jika dulu hanya membuat dirinya lebih peka, kini dampaknya bisa jauh lebih kuat dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
Perubahan ini menunjukkan bahwa fase perimenopause tidak bisa dipandang ringan. Pemahaman yang cukup akan membantu perempuan menyesuaikan diri dengan kondisi yang sedang dialami.
Brain fog yang dirasakan
Salah satu perubahan yang dialami Happy adalah brain fog, yakni kondisi yang membuat seseorang lebih mudah lupa dan sulit berkonsentrasi. Gangguan kognitif ringan ini juga membuat proses berpikir terasa tidak seterang biasanya.
Ia mengaku perubahan itu terasa nyata dalam pekerjaannya sebagai aktris yang harus menghafal naskah. Aktivitas yang dulu berjalan lancar kini menuntut usaha lebih besar karena fokus lebih mudah terpecah.
Dalam fase perimenopause, brain fog umumnya dipengaruhi fluktuasi hormon, terutama estrogen. Hormon tersebut berperan penting dalam fungsi otak, sehingga perubahan kadarnya dapat berdampak pada daya ingat dan pengambilan keputusan.
Perimenopause bukan ancaman
Meski menghadapi sejumlah perubahan, Happy menegaskan bahwa perimenopause bukan fase yang perlu ditakuti. Ia justru melihatnya sebagai masa refleksi diri yang membuka ruang untuk mengenal tubuh dan pikiran lebih dalam.
Menurutnya, fase ini bisa menjadi kesempatan untuk memperbaiki kualitas hidup. Perempuan dapat belajar lebih menghargai diri sendiri, lebih dekat dengan spiritualitas, dan lebih peka terhadap kebutuhan tubuhnya.
Happy juga menyebut banyak perempuan justru bisa merasa lebih bahagia pada usia ini. Hal itu terjadi karena mereka mulai lebih banyak berdialog dengan diri sendiri dan memahami apa yang benar-benar penting dalam hidup.
Informasi dan terapi membantu
Bagi Happy, pemahaman menjadi kunci untuk menghadapi perimenopause dengan lebih tenang. Karena itu, ia aktif mencari informasi agar tidak salah langkah saat merasakan perubahan pada tubuhnya.
Ia juga mencoba terapi regulasi stres seperti Mindlift by Exomind sebagai bagian dari upaya menjaga kondisi fisik dan mental. Langkah tersebut dilakukannya untuk membantu tubuh tetap seimbang di tengah perubahan hormon.
Pengalaman Happy menjadi pengingat bahwa perimenopause adalah fase alami yang membutuhkan perhatian, bukan kepanikan. Dengan informasi yang cukup dan perawatan yang tepat, perempuan dapat tetap menjalani hidup secara sehat dan produktif.
