Happy Salma Soroti Perimenopause dan Brain Fog

Lifestyle Anindya Kirana Putri 26 Mei 2026 17:35 WIB 2
Happy Salma Soroti Perimenopause dan Brain Fog

Perimenopause kerap datang tanpa disadari, padahal fase transisi menuju menopause ini dapat memengaruhi kondisi fisik dan emosional perempuan secara signifikan. Happy Salma, yang kini berusia 46 tahun, mengaku mulai lebih memahami tubuhnya seiring bertambahnya usia dan pengalaman hidup.

Ia menilai banyak perempuan, termasuk dirinya dan keluarga, belum benar-benar memahami tahap perimenopause sejak dini. Menurut bintang film Pangku itu, pemahaman yang cukup penting agar perempuan dapat menyikapi perubahan tubuh dengan lebih tenang dan terarah.

Perimenopause dan Perubahan Tubuh

Perimenopause adalah fase sebelum menopause yang dapat dimulai lebih awal dari yang banyak orang kira. Happy menyebut fase ini bahkan bisa muncul sejak usia 30-an, meski sering baru disadari ketika gejalanya mulai terasa jelas.

Perubahan yang terjadi tidak hanya berkaitan dengan fisik, tetapi juga emosi dan cara tubuh merespons berbagai situasi. Ia menuturkan bahwa kondisi yang dulu hanya membuat sensitif, kini bisa terasa jauh lebih intens.

Menurutnya, perubahan ini membuat perempuan perlu lebih peka terhadap sinyal tubuh sendiri. Dengan memahami tanda-tandanya, perempuan dapat mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kualitas hidup.

Perimenopause dan Brain Fog

Happy juga mengaku merasakan gangguan daya ingat yang sering disebut brain fog. Kondisi ini membuat seseorang lebih mudah lupa, sulit berkonsentrasi, dan merasa pikirannya tidak setajam biasanya.

Dalam kesehariannya sebagai aktris, kondisi tersebut tentu cukup berpengaruh. Ia menyebut hafalan naskah menjadi lebih menantang karena sering lupa di tengah proses kerja.

Secara medis, brain fog pada fase perimenopause umumnya berkaitan dengan fluktuasi hormon, terutama estrogen. Hormon ini memiliki peran penting dalam fungsi otak, sehingga perubahannya dapat memengaruhi fokus dan kemampuan mengambil keputusan.

Perimenopause dan Refleksi Diri

Meski membawa banyak perubahan, Happy menegaskan bahwa perimenopause bukan fase yang perlu ditakuti. Ia justru melihatnya sebagai ruang untuk lebih mengenal diri sendiri secara jujur dan mendalam.

Baginya, fase ini dapat menjadi momen untuk meningkatkan kualitas hidup. Ia menilai perempuan bisa menjadi lebih menghargai diri sendiri, lebih dekat kepada Sang Pencipta, dan lebih apresiatif terhadap hidup.

Happy juga percaya banyak perempuan justru merasa lebih bahagia pada usia ini. Hal itu terjadi karena mereka mulai lebih memahami diri, lebih banyak berdialog dengan batin, dan lebih tenang dalam menjalani kehidupan.

Perimenopause dan Pemahaman

Happy menilai pemahaman adalah kunci utama dalam menghadapi perimenopause. Karena itu, ia berusaha lebih banyak mencari informasi agar tidak hanya mengandalkan asumsi atau cerita dari orang lain.

Ia juga mencoba terapi regulasi stres seperti Mindlift by Exomind untuk membantu menjaga keseimbangan tubuh dan pikiran. Langkah tersebut diambil sebagai bagian dari upaya merawat diri secara lebih menyeluruh.

Menurutnya, perhatian terhadap kesehatan mental dan fisik perlu berjalan beriringan pada fase ini. Dengan dukungan informasi yang tepat, perempuan dapat menjalani perimenopause dengan lebih siap dan percaya diri.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!