Perimenopause kerap datang tanpa disadari, padahal fase transisi menuju menopause ini dapat memicu perubahan fisik dan emosional yang signifikan. Hal itu juga dirasakan aktris Happy Salma, yang kini semakin memahami tubuhnya seiring bertambahnya usia.
Di usia 46 tahun, ia mengaku baru benar-benar mengenali perubahan yang dialami tubuh, mulai dari sensitivitas emosi hingga gangguan daya ingat yang kerap disebut brain fog. Menurutnya, pemahaman tentang perimenopause penting agar perempuan tidak merasa sendirian saat melewati fase tersebut.
Perimenopause dan perubahan tubuh
Happy Salma menyebut perimenopause sebagai fase yang dulu kurang ia pahami bersama keluarga. Ia mengatakan, kakak-kakaknya yang berusia 51 dan 56 tahun pun dahulu tidak benar-benar mengetahui tahapan perubahan ini.
Menurutnya, menopause adalah kondisi yang tidak terhindarkan dan setiap perempuan perlu mengenali proses yang menyertainya. Ia menilai informasi yang memadai dapat membantu perempuan lebih siap menghadapi perubahan tubuh.
Happy menjelaskan bahwa perimenopause bahkan bisa dimulai sejak usia 30-an. Pada fase ini, perubahan yang muncul tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga emosional.
Emosi lebih sensitif
Ia mengakui perubahan emosi menjadi salah satu hal yang paling terasa. Jika dulu PMS hanya membuatnya lebih sensitif, kini respons emosionalnya bisa jauh lebih kuat.
Kondisi itu, menurutnya, membuat perempuan perlu lebih peka terhadap sinyal tubuh dan suasana hati. Dengan begitu, perubahan yang muncul tidak langsung dianggap sebagai masalah yang mengkhawatirkan.
Happy menilai sensitivitas yang meningkat adalah bagian dari proses alami tubuh. Karena itu, ia memilih memandangnya sebagai fase yang perlu dipahami, bukan ditakuti.
Brain fog saat bekerja
Selain emosi, Happy juga merasakan perubahan pada daya ingat dan konsentrasi. Ia menyebut kondisi itu sebagai brain fog, yaitu gangguan kognitif ringan yang membuat seseorang lebih mudah lupa.
Dalam kesehariannya sebagai aktris, perubahan tersebut cukup terasa saat harus menghafal naskah. Aktivitas yang membutuhkan fokus tinggi kini menjadi lebih menantang baginya.
Fluktuasi hormon, terutama estrogen, disebut berperan dalam munculnya brain fog pada fase perimenopause. Dampaknya dapat memengaruhi kemampuan berpikir, mengambil keputusan, dan menjaga fokus dalam aktivitas harian.
Memahami fase perimenopause
Meski mengalami sejumlah perubahan, Happy menegaskan bahwa perimenopause bukan fase yang perlu ditakuti. Ia justru melihatnya sebagai momentum untuk lebih mengenal diri sendiri.
Baginya, fase ini dapat menjadi kesempatan untuk meningkatkan kualitas hidup. Ia merasa perempuan bisa lebih menghargai diri sendiri dan hidup yang dijalani ketika memahami proses ini.
Happy juga menyebut perimenopause dapat menjadi momen refleksi yang membawa kedekatan spiritual. Ia percaya banyak perempuan justru bisa merasa lebih bahagia karena lebih banyak berdialog dan merenungi diri.
Informasi dan dukungan diri
Dalam menghadapi perimenopause, Happy menilai pemahaman adalah kunci utama. Ia kini lebih banyak mencari informasi agar dapat mengenali perubahan tubuh dengan lebih baik.
Ia juga mencoba terapi regulasi stres seperti Mindlift by Exomind sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan diri. Langkah ini dilakukannya untuk membantu tubuh dan pikiran tetap lebih nyaman selama menjalani fase transisi.
Di sisi lain, para ahli kesehatan menilai kesadaran terhadap perimenopause penting untuk membantu perempuan mengambil langkah yang tepat. Dengan pengetahuan yang cukup, perempuan dapat menghadapi fase ini dengan lebih tenang dan terarah.
