Happy Salma Soroti Perimenopause dan Brain Fog

Lifestyle Clara Monica 23 Mei 2026 01:48 WIB 6
Happy Salma Soroti Perimenopause dan Brain Fog

Perimenopause kerap datang tanpa disadari dan dapat memicu perubahan fisik maupun emosional yang cukup signifikan. Hal itu juga dialami aktris Happy Salma, yang kini semakin memahami tubuhnya seiring bertambahnya usia. Pada usia 46 tahun, ia menilai fase transisi menuju menopause perlu dipahami sejak dini agar perempuan tidak kaget saat mengalaminya.

Happy menuturkan bahwa dulu ia dan saudara-saudarinya belum benar-benar memahami tahapan perimenopause. Ia menyadari bahwa menopause adalah fase yang tidak terhindarkan, sehingga pengetahuan menjadi hal penting. Menurutnya, perubahan tubuh dan emosi perlu diterima sebagai bagian dari proses alami kehidupan perempuan.

Memahami perimenopause sejak dini

Perimenopause adalah masa transisi sebelum menopause yang dapat dimulai lebih awal dari yang banyak diperkirakan. Happy menyebut fase ini bahkan bisa terjadi sejak usia 30-an. Kondisi tersebut membuat perempuan perlu lebih peka terhadap sinyal tubuhnya.

Pada tahap ini, perubahan tidak hanya terjadi pada fisik, tetapi juga emosi. Sebagian perempuan bisa merasa lebih sensitif dari biasanya. Situasi ini kerap membuat pengalaman PMS terasa lebih intens dan berbeda.

Kesadaran terhadap perimenopause membantu perempuan menyiapkan diri dengan lebih baik. Informasi yang tepat juga dapat mengurangi kecemasan saat gejala mulai muncul. Dengan begitu, fase ini bisa dijalani dengan lebih tenang dan terarah.

Perubahan emosi dan tubuh

Happy mengaku merasakan perubahan pada sisi emosional yang lebih kuat dibandingkan sebelumnya. Ia menyebut dirinya menjadi jauh lebih sensitif dalam merespons berbagai hal. Kondisi ini menunjukkan bahwa perubahan hormon dapat berdampak luas pada keseharian.

Selain emosi, tubuh juga memberi respons yang berbeda saat memasuki perimenopause. Keluhan yang muncul bisa bervariasi pada tiap perempuan, tergantung kondisi masing-masing. Karena itu, pengalaman setiap orang tidak selalu sama.

Pemahaman tentang perubahan ini penting agar perempuan tidak langsung menganggapnya sebagai gangguan yang aneh. Sebaliknya, tubuh sedang memberi penyesuaian atas perubahan hormon yang terjadi. Respons yang tepat dapat membantu menjaga kualitas hidup tetap stabil.

Brain fog dan fokus

Salah satu perubahan yang dirasakan Happy adalah gangguan daya ingat atau brain fog. Kondisi ini membuat seseorang lebih mudah lupa dan sulit berkonsentrasi. Dalam kehidupan sehari-hari, hal tersebut bisa terasa cukup mengganggu.

Happy mengaku pekerjaannya yang menuntut hafalan naskah ikut terdampak oleh kondisi itu. Ia lebih sering mengalami lupa dan merasa pikirannya tidak sejelas biasanya. Hal ini menunjukkan bahwa perimenopause juga dapat memengaruhi kemampuan kognitif.

Secara medis, brain fog pada fase perimenopause kerap dikaitkan dengan fluktuasi hormon, terutama estrogen. Hormon ini berperan penting dalam fungsi otak dan kestabilan fokus. Ketika kadarnya berubah, aktivitas harian pun bisa terasa lebih menantang.

Menghadapi dengan bijak

Meski mengalami sejumlah perubahan, Happy menegaskan bahwa perimenopause bukan fase yang perlu ditakuti. Ia justru memandangnya sebagai momen refleksi diri yang berharga. Pandangan ini membuatnya lebih siap menerima proses yang sedang dijalani.

Menurutnya, fase ini dapat menjadi kesempatan untuk mengenal diri sendiri dengan lebih dalam. Perempuan juga bisa belajar lebih menghargai tubuh, waktu, dan kualitas hidupnya. Dari sana, muncul ruang untuk bertumbuh secara emosional maupun spiritual.

Happy menambahkan bahwa pemahaman menjadi kunci dalam menghadapi perimenopause. Ia kini lebih banyak mencari informasi dan mencoba terapi regulasi stres seperti Mindlift by Exomind. Baginya, langkah tersebut membantu menjaga keseimbangan hidup di tengah perubahan usia.

Harapan bagi perempuan

Happy percaya banyak perempuan justru bisa lebih bahagia pada usia ini. Alasannya, mereka cenderung lebih memahami diri dan lebih sering berdialog dengan batinnya. Proses itu membuat perempuan lebih bijak dalam menyikapi perubahan hidup.

Ia juga menilai fase ini dapat menjadi semacam kesempatan kedua untuk memancarkan energi dari dalam. Istilah glowing, menurutnya, tidak hanya soal penampilan luar. Yang lebih penting adalah rasa damai dan penerimaan terhadap diri sendiri.

Pesan Happy memberi gambaran bahwa perimenopause seharusnya dipahami, bukan diabaikan. Dengan informasi yang cukup, perempuan dapat menyambut fase ini dengan lebih siap. Pemahaman yang baik akan membantu menjaga kesehatan fisik, emosi, dan kualitas hidup secara menyeluruh.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!