Happy Salma Soroti Perimenopause dan Brain Fog

Lifestyle Anindya Kirana Putri 28 Mei 2026 03:42 WIB 2
Happy Salma Soroti Perimenopause dan Brain Fog

Perimenopause kerap datang tanpa disadari, padahal fase transisi menuju menopause ini dapat memengaruhi kondisi fisik dan emosional perempuan secara signifikan. Hal itu turut dirasakan aktris Happy Salma, yang kini semakin memahami perubahan tubuhnya seiring bertambahnya usia.

Di usia 46 tahun, Happy mengaku dulu belum memahami tahapan perimenopause, termasuk perubahan yang mungkin muncul dalam tubuh. Ia menilai pemahaman tentang menopause dan fase sebelumnya penting, karena proses itu merupakan bagian alami yang tidak terhindarkan.

Perimenopause dan perubahan tubuh

Happy Salma menyebut perimenopause dapat dimulai sejak usia 30-an, sehingga banyak perempuan belum menyadarinya saat gejala mulai muncul. Menurutnya, fase ini bukan hanya soal perubahan fisik, tetapi juga berkaitan erat dengan kondisi emosional.

Ia menuturkan bahwa sensitivitas saat PMS kini terasa berbeda dibandingkan sebelumnya. Jika dulu gejala hanya membuat lebih sensitif, kini dampaknya dapat terasa jauh lebih kuat dan memengaruhi keseharian.

Perubahan itu membuat banyak perempuan perlu lebih peka terhadap sinyal tubuhnya sendiri. Pemahaman sejak dini juga membantu mereka menyesuaikan gaya hidup agar tetap nyaman menjalani aktivitas.

Brain fog saat perimenopause

Salah satu perubahan yang dirasakan Happy adalah gangguan daya ingat atau brain fog. Kondisi ini membuat seseorang lebih mudah lupa, sulit berkonsentrasi, dan merasa pikirannya tidak sejelas biasanya.

Dalam fase perimenopause, brain fog umumnya dipicu fluktuasi hormon, terutama estrogen yang berperan penting bagi fungsi otak. Akibatnya, aktivitas seperti menghafal naskah, menjaga fokus, hingga mengambil keputusan bisa terasa lebih menantang.

Happy mengatakan pekerjaannya sebagai aktris menuntut kemampuan menghafal naskah dengan baik. Namun, ia kini lebih sering mengalami lupa sehingga perlu menyesuaikan ritme kerja dan cara menjaga fokus.

Perimenopause bukan untuk ditakuti

Meski membawa perubahan, Happy menegaskan bahwa perimenopause bukan fase yang perlu ditakuti. Ia memandangnya sebagai masa refleksi diri yang justru bisa membuka ruang untuk mengenal kebutuhan tubuh dan batin dengan lebih jujur.

Menurutnya, fase ini dapat menjadi kesempatan untuk meningkatkan kualitas hidup. Perempuan dapat belajar lebih menghargai diri sendiri, lebih peka terhadap kesehatan, dan lebih sadar pada hal-hal yang memberi ketenangan.

Happy juga menyebut banyak perempuan bisa merasa lebih bahagia pada usia ini karena lebih memahami diri. Bagi dirinya, perimenopause memberi kesempatan untuk lebih berdialog dengan diri sendiri dan merenungi hidup.

Pemahaman dan terapi dukungan

Happy menilai pemahaman menjadi kunci utama dalam menghadapi perimenopause. Karena itu, ia kini lebih aktif mencari informasi agar dapat mengenali perubahan yang terjadi pada tubuhnya secara lebih tepat.

Ia juga mencoba terapi regulasi stres seperti Mindlift by Exomind untuk membantu menjaga kondisi mental dan emosional. Langkah tersebut ditempuh agar tubuh tetap seimbang di tengah perubahan hormon yang berlangsung.

Pengalaman Happy menunjukkan bahwa perimenopause dapat dihadapi dengan pengetahuan, penerimaan, dan dukungan yang tepat. Dengan begitu, perempuan bisa menjalani fase ini secara lebih tenang dan tetap produktif.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!