Happy Salma Soroti Perimenopause dan Brain Fog

Lifestyle Anindya Kirana Putri 22 Mei 2026 23:24 WIB 7
Happy Salma Soroti Perimenopause dan Brain Fog

Happy Salma membagikan pengalamannya menghadapi perimenopause, fase transisi menuju menopause yang kerap datang tanpa disadari. Pada usia 46 tahun, ia mengaku mulai lebih memahami perubahan tubuh, emosi, dan daya ingat yang dialaminya. Pengakuan itu menunjukkan bahwa perimenopause dapat berdampak luas, baik secara fisik maupun mental, pada perempuan dewasa.

Dalam keterangannya, Happy menyebut dulu ia dan kakak-kakaknya belum benar-benar memahami tahapan tersebut. Ia menyoroti bahwa menopause merupakan proses alami yang tidak terhindarkan, sehingga pemahaman sejak dini menjadi penting. Karena itu, ia kini melihat perimenopause sebagai fase yang perlu dikenali, bukan dihindari.

Perimenopause dan perubahan tubuh

Happy Salma menjelaskan bahwa perimenopause bahkan dapat dimulai sejak usia 30-an. Fase ini ditandai dengan perubahan hormon yang memengaruhi tubuh secara bertahap. Akibatnya, perempuan bisa merasakan gejala yang berbeda-beda sebelum memasuki menopause.

Perubahan yang terjadi tidak hanya berupa keluhan fisik, tetapi juga pengaruh pada kondisi emosional. Menurut Happy, sensitivitas terhadap hal-hal kecil bisa meningkat dibandingkan masa sebelumnya. Situasi itu membuat banyak perempuan merasa lebih mudah lelah secara mental.

Ia menilai pengalaman tersebut sebagai bagian dari proses alami yang perlu dipahami dengan tenang. Dengan mengenali gejalanya, perempuan dapat lebih siap menghadapi perubahan yang muncul. Pemahaman ini juga membantu mengurangi rasa cemas yang sering menyertai fase transisi tersebut.

Brain fog dan fokus

Selain perubahan emosi, Happy juga merasakan gangguan pada daya ingat yang ia sebut sebagai brain fog. Kondisi ini membuat seseorang lebih mudah lupa dan sulit berkonsentrasi. Dalam keseharian, hal tersebut dapat memengaruhi produktivitas dan rasa percaya diri.

Brain fog pada fase perimenopause umumnya berkaitan dengan fluktuasi hormon, terutama estrogen. Hormon ini memiliki peran penting dalam fungsi otak dan kemampuan berpikir. Saat kadarnya berubah, aktivitas kognitif pun bisa terasa kurang stabil.

Happy mengaku pekerjaannya yang menuntut hafalan naskah ikut terdampak oleh kondisi itu. Ia menyebut dirinya lebih sering mengalami lupa dalam menjalankan aktivitas kerja. Meski demikian, ia berusaha menerima perubahan tersebut sebagai bagian dari perjalanan tubuhnya.

Refleksi dan penerimaan

Bagi Happy, perimenopause bukan fase yang perlu ditakuti. Ia justru memandangnya sebagai momen untuk lebih mengenal diri sendiri. Sikap itu membuatnya melihat usia matang sebagai kesempatan untuk hidup lebih sadar.

Ia menilai fase ini dapat menjadi ruang refleksi yang memperkaya kualitas hidup. Dalam pandangannya, perempuan dapat belajar lebih menghargai diri sendiri dan kehidupan yang dijalani. Proses tersebut juga mendorong kedekatan spiritual yang lebih kuat.

Happy menggambarkan fase ini sebagai kesempatan kedua untuk glowing dari dalam. Menurutnya, banyak perempuan justru bisa merasa lebih bahagia ketika lebih memahami diri. Hal itu terjadi karena mereka lebih banyak berdialog, merenungi, dan menerima perubahan dengan bijak.

Memahami dan mencari bantuan

Happy menekankan bahwa pemahaman adalah kunci utama dalam menghadapi perimenopause. Ia kini lebih banyak mencari informasi agar tidak salah menafsirkan perubahan yang terjadi pada tubuhnya. Langkah itu membantunya mengambil keputusan yang lebih tepat terkait kesehatan.

Ia juga mencoba terapi regulasi stres seperti Mindlift by Exomind sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan diri. Menurutnya, pengelolaan stres sangat penting ketika tubuh mulai mengalami perubahan hormon. Dengan cara itu, perempuan dapat tetap menjalani aktivitas dengan lebih nyaman.

Pengalaman Happy menunjukkan bahwa perimenopause memerlukan perhatian yang serius, namun tetap dapat dijalani dengan tenang. Dukungan informasi, kesadaran diri, dan pendampingan yang tepat menjadi faktor penting dalam proses ini. Dengan pemahaman yang baik, fase transisi menuju menopause dapat menjadi perjalanan yang lebih sehat dan bermakna.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!