Aktor sekaligus presenter Ferry Maryadi mengungkap pengalaman buruk saat berjuang melawan vertigo yang sempat membuatnya terjatuh. Kondisi itu bahkan menyeretnya ke unit gawat darurat setelah serangan yang ia sebut cukup parah terjadi beberapa tahun lalu.
Dalam keterangannya di Studio Trans7, Warung Buncit, Jakarta Selatan, Ferry menjelaskan bahwa vertigo yang dialaminya diduga berkaitan dengan gangguan pada telinga. Ia juga mengaku dokter sempat memberi peringatan agar dirinya berhati-hati saat berkendara, terutama untuk perjalanan jauh.
Vertigo Pernah Bikin Ferry Jatuh
Ferry Maryadi mengingat kembali momen ketika vertigo menyerangnya dengan cukup hebat. Saat itu, ia mengaku tiba-tiba kehilangan keseimbangan hingga terjatuh. Kondisi tersebut membuatnya harus mendapat penanganan medis segera.
Ia menyebut peristiwa itu terjadi sekitar dua hingga tiga tahun lalu. Pengalaman tersebut masih diingat jelas karena efeknya cukup berat. Ferry bahkan tidak menutupi bahwa dirinya sempat masuk ke UGD akibat kondisi itu.
Menurut Ferry, serangan vertigo yang dialaminya datang tanpa banyak tanda. Tubuhnya mendadak limbung dan membuat aktivitas sehari-hari terganggu. Situasi itu menjadi pengalaman yang ia sebut tidak menyenangkan.
Pengalaman tersebut menjadi pengingat bagi Ferry bahwa vertigo bukan keluhan biasa. Ia menilai gangguan ini dapat berdampak besar pada keamanan aktivitas harian. Karena itu, ia kini lebih waspada saat merasakan gejala awal.
Penyebab Vertigo Menurut Dokter
Ferry menjelaskan bahwa informasi yang ia terima dari dokter menyebut vertigo bisa dipicu oleh gangguan pada telinga atau otak. Dalam kasusnya, dokter menilai sumber masalah berasal dari bagian telinga. Penjelasan itu membuatnya lebih memahami kondisi yang dialami.
Ia mengatakan bahwa gangguan keseimbangan menjadi salah satu ciri utama yang ia rasakan. Saat serangan datang, tubuhnya terasa tidak stabil dan sulit dikendalikan. Hal itu membuat aktivitasnya harus berhenti seketika.
Ferry mengaku lebih banyak mendapat penjelasan medis agar dirinya bisa mengenali risiko yang mungkin muncul. Informasi itu menjadi penting karena vertigo dapat kambuh sewaktu-waktu. Dengan begitu, ia bisa lebih cepat mengambil langkah saat gejala muncul.
Meski bukan dokter, Ferry berusaha memahami kondisi kesehatannya dari arahan tenaga medis. Ia menyadari bahwa penanganan yang tepat sangat diperlukan. Sebab, vertigo yang dibiarkan dapat berpengaruh pada keselamatan diri.
Larangan Berkendara Jarak Jauh
Setelah mengetahui kondisinya, dokter disebut tidak menyarankan Ferry untuk berkendara jauh. Peringatan itu terutama berlaku saat ia hendak melakukan perjalanan panjang. Menurut dokter, risiko kehilangan keseimbangan bisa membahayakan dirinya di jalan.
Ferry mengaku nasihat itu cukup berat diterima karena dirinya dikenal gemar touring menggunakan motor besar. Namun, ia memahami alasan medis di balik larangan tersebut. Baginya, keselamatan tetap menjadi hal yang paling utama.
Meski dilarang, Ferry tetap memikirkan cara agar masih bisa bepergian jarak jauh dengan aman. Salah satu yang ia lakukan adalah selalu membawa obat-obatan yang dibutuhkan. Langkah itu menjadi upaya pribadi untuk mengurangi risiko jika gejala kambuh.
Ia menegaskan bahwa aktivitas berkendara kini harus dilakukan dengan pertimbangan yang lebih matang. Ferry memilih lebih berhati-hati agar tidak mengulangi kejadian yang sama. Sikap itu menunjukkan bahwa pengalaman buruknya memberi pelajaran penting soal kesehatan.
Dukungan Istri Membuatnya Tenang
Selain arahan dokter, Ferry juga sempat mendapat larangan dari istrinya, Deswita Maharani. Larangan itu muncul setelah keluarganya mengetahui kondisi vertigo yang pernah membuatnya terjatuh. Deswita khawatir aktivitas berkendara justru memperburuk keadaan.
Seiring waktu, larangan tersebut mulai melunak. Ferry menyebut sang istri pada akhirnya memilih lebih tenang menghadapi kebiasaannya. Situasi itu membuatnya merasa lebih nyaman menjalani aktivitas sehari-hari.
Ia menuturkan bahwa keluarga menjadi bagian penting dalam proses penyesuaian diri terhadap kondisi kesehatan. Dukungan dari orang terdekat membuatnya tidak merasa sendiri. Hal itu juga membantunya menjaga semangat untuk tetap beraktivitas.
Bagi Ferry, pengalaman ini menjadi pengingat bahwa kesehatan tidak boleh diabaikan. Meski masih mencintai perjalanan dan touring, ia kini lebih mengutamakan keselamatan. Ia pun berusaha menjalani hidup dengan lebih seimbang dan penuh kehati-hatian.
