Ferry Maryadi Ungkap Pengalaman Jatuh Akibat Vertigo

Lifestyle Nadia Safira Putri 02 Juni 2026 10:44 WIB 2
Ferry Maryadi Ungkap Pengalaman Jatuh Akibat Vertigo

Aktor sekaligus presenter Ferry Maryadi mengungkap pengalaman kurang menyenangkan saat berjuang melawan vertigo. Kondisi itu sempat membuatnya terjatuh dan harus mendapat penanganan di unit gawat darurat. Pengalaman tersebut terjadi beberapa tahun lalu, ketika gejala yang dialami terasa cukup parah. Ferry menceritakan kisah itu saat hadir di Studio Trans7, Warung Buncit, Jakarta Selatan, pada Jumat, 29 Mei 2026.

Suami Deswita Maharani itu menjelaskan, serangan vertigo yang ia alami datang pada sekitar dua atau tiga tahun lalu. Ia mengaku sempat kaget karena tubuhnya kehilangan keseimbangan secara mendadak. Dari penjelasan dokter yang diterimanya, vertigo dapat dipicu oleh gangguan pada telinga maupun otak. Dalam kasus Ferry, sumber gangguan disebut berasal dari bagian telinga.

Vertigo Ferry Maryadi

Ferry mengingat kembali momen ketika kondisinya memburuk hingga harus dibawa ke UGD. Ia menuturkan bahwa saat itu tubuhnya terasa sangat tidak stabil. Jatuh yang dialaminya menjadi tanda bahwa gangguan tersebut tidak bisa dianggap ringan. Pengalaman itu membuatnya lebih memahami risiko vertigo.

Menurut Ferry, informasi yang ia terima dari dokter menjelaskan bahwa vertigo berkaitan dengan masalah keseimbangan. Ia menyebut ada dua sumber umum, yaitu telinga dan otak. Penjelasan tersebut membuatnya lebih waspada terhadap gejala yang muncul. Ia juga menyadari pentingnya pemeriksaan medis yang tepat.

Dalam penuturannya, Ferry tidak menutupi rasa tidak nyaman yang muncul saat serangan terjadi. Gejala yang berat membuat aktivitas hariannya terganggu. Situasi itu mendorongnya mencari penanganan secepat mungkin. Ia menilai pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga bagi dirinya.

Ferry menambahkan bahwa kondisi itu terjadi setelah dirinya mengalami gangguan yang cukup serius. Ia sempat merasakan tubuh oleng dan sulit menjaga keseimbangan. Karena situasi itulah, penanganan darurat menjadi pilihan yang paling aman. Ia berharap masyarakat lebih peka terhadap gejala serupa.

Larangan Dokter Berkendara

Setelah mengetahui kondisi Ferry, dokter memberikan peringatan khusus mengenai aktivitas berkendara. Ia disebut tidak disarankan untuk melakukan perjalanan jauh. Saran itu diberikan demi mencegah risiko kambuh saat berada di jalan. Ferry mengaku memahami alasan medis di balik imbauan tersebut.

Ia mengatakan dokter menilai perjalanan jarak jauh berpotensi berbahaya jika vertigo kembali muncul. Situasi di jalan membutuhkan fokus dan keseimbangan yang stabil. Ketika gangguan itu datang, pengendara bisa kehilangan kontrol. Karena itu, Ferry diminta lebih berhati-hati dalam beraktivitas.

Meski menerima larangan tersebut, Ferry mengaku tidak mudah meninggalkan kebiasaan berkendara. Ia dikenal memiliki hobi touring dengan motor besar. Kecintaannya pada perjalanan jauh membuatnya tetap mencari cara agar bisa berkendara dengan aman. Namun, ia mengaku kini lebih memperhatikan kondisi tubuh sebelum berangkat.

Ferry juga menegaskan bahwa dirinya berusaha menyesuaikan saran dokter dengan kebutuhan pribadi. Ia tidak ingin memaksakan diri bila kondisi kesehatan belum mendukung. Baginya, keselamatan tetap menjadi prioritas utama. Sikap itu menjadi bagian dari upayanya menjaga keseimbangan antara hobi dan kesehatan.

Upaya Tetap Aktif

Untuk tetap bisa melakukan perjalanan, Ferry memilih menyiapkan obat-obatan yang diperlukan. Ia menyebut langkah itu sebagai antisipasi bila gejala muncul di tengah perjalanan. Cara tersebut membuatnya merasa lebih tenang saat bepergian. Meski begitu, ia tetap tidak mengabaikan anjuran medis.

Ferry mengakui bahwa dirinya masih ingin menikmati aktivitas luar ruang. Namun, ia kini lebih realistis dalam mengatur rencana perjalanan. Ia menimbang jarak tempuh, kondisi tubuh, serta potensi risiko yang mungkin terjadi. Dengan begitu, ia bisa tetap aktif tanpa mengesampingkan keselamatan.

Keputusan membawa obat dinilai sebagai bentuk kewaspadaan pribadi. Ferry tidak ingin kejadian serupa terulang saat berada jauh dari bantuan medis. Ia memahami bahwa vertigo bisa datang tanpa peringatan jelas. Karena itu, persiapan menjadi hal yang tidak bisa diabaikan.

Pengalamannya menunjukkan bahwa gangguan kesehatan dapat memengaruhi aktivitas yang selama ini disukai. Ferry berupaya tetap menjalani hidup dengan lebih disiplin dan terukur. Ia memilih mendengarkan tubuh sambil mengikuti saran dokter. Langkah itu menjadi kunci agar ia tetap bisa beraktivitas dengan aman.

Dukungan Deswita Maharani

Di sisi lain, istri Ferry, Deswita Maharani, sempat melarang suaminya melakukan aktivitas berkendara setelah mengetahui kondisinya. Larangan itu muncul sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan Ferry. Ia khawatir perjalanan jauh dapat memicu masalah yang lebih serius. Namun, seiring waktu, sikap itu mulai melunak.

Ferry menyebut larangan sang istri awalnya cukup tegas. Deswita ingin memastikan suaminya benar-benar pulih sebelum kembali touring. Kekhawatiran tersebut dianggap wajar mengingat vertigo bisa kambuh sewaktu-waktu. Dalam keluarga, perhatian itu menjadi bagian dari dukungan yang penting.

Seiring berjalannya waktu, Ferry mengatakan situasinya menjadi lebih santai. Deswita perlahan memberi ruang bagi suaminya untuk tetap menikmati hobi. Meski demikian, kehati-hatian tetap dijaga dalam setiap keputusan. Kesehatan dan kenyamanan keluarga menjadi pertimbangan utama.

Ferry menutup ceritanya dengan nada ringan ketika menyebut sang istri akhirnya lebih mengalah. Ia mengaku ingin tetap happy selama masih bisa beraktivitas dengan aman. Pengalaman vertigo membuatnya lebih sadar bahwa tubuh perlu dijaga. Dari situ, ia belajar menempatkan keselamatan di atas kebiasaan semata.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!