Ferry Maryadi Ungkap Alasan Suka Thrift di Jepang

Lifestyle Nadia Safira Putri 30 Mei 2026 21:04 WIB 2
Ferry Maryadi Ungkap Alasan Suka Thrift di Jepang

Ferry Maryadi mengaku cukup sering membeli barang bekas atau thrift, terutama saat berkunjung ke Jepang. Kebiasaan itu ia lakukan karena menilai pilihan barang di sana cukup beragam dan masih layak pakai. Dalam kesempatan di Studio Trans 7, Mampang, Jakarta Selatan, ia menjelaskan bahwa belanja thrift di Jepang memberi pengalaman berbeda. Selain soal harga, Ferry juga menyoroti rasa aman saat membeli barang bekas di negara tersebut.

Ia menyebut, ketika liburan bersama keluarga ke Jepang tahun lalu, belanja thrift menjadi salah satu aktivitas yang menarik perhatian. Barang yang dibeli umumnya berupa pakaian untuk kerja dan kebutuhan berkendara motor. Ferry menilai produk thrift di Jepang kerap memiliki kualitas baik dengan harga yang masih bisa dinegosiasikan. Menurutnya, pengalaman itu membuat belanja barang bekas terasa lebih menguntungkan.

Thrift Jepang Jadi Pilihan Ferry

Ferry mengatakan dirinya tidak asing dengan barang thrift, sebab ia kerap membelinya saat berada di Jepang. Menurutnya, kebiasaan itu sudah berlangsung cukup lama dan menjadi bagian dari aktivitas belanja ketika liburan. Ia lebih sering memilih pakaian yang memiliki fungsi praktis untuk kebutuhan sehari-hari. Pilihan tersebut membuat barang yang dibeli terasa lebih berguna setelah dibawa pulang.

Ia menyebut, saat berkunjung ke Jepang, anak-anaknya juga ikut berbelanja di sana. Ferry menilai pusat perbelanjaan yang menyediakan barang thrift memberi banyak opsi bagi pembeli. Karena itu, ia tidak hanya mencari barang berdasarkan merek, tetapi juga kegunaan. Bagi Ferry, belanja thrift di Jepang menjadi pengalaman yang menyenangkan dan efisien.

Ferry menegaskan bahwa dirinya tidak semata mencari barang murah, melainkan barang yang sesuai kebutuhan. Ia lebih senang memilih item yang bisa dipakai dalam kegiatan kerja maupun berkendara. Menurutnya, barang thrift yang tepat dapat memberi nilai guna lebih besar dibanding pembelian impulsif. Pertimbangan itu membuat dirinya tetap nyaman berbelanja di pasar barang bekas.

Harga Thrift di Jepang

Soal harga, Ferry menilai produk thrift di Jepang tergolong menarik jika dibandingkan dengan kondisi di Indonesia. Ia menyebut harga awal barang memang sudah ditetapkan sesuai nilai jual di sana. Namun, pembeli masih bisa mendapatkan harga yang lebih rendah apabila pandai melakukan tawar-menawar. Hal itu membuat transaksi terasa lebih fleksibel bagi pembeli.

Ferry mencontohkan, barang yang semula dibanderol Rp 100 ribu dapat turun menjadi Rp 40 ribu atau Rp 30 ribu jika pembeli pintar menawar. Menurutnya, peluang seperti itu menjadi salah satu daya tarik belanja thrift di Jepang. Ia menilai pembeli yang teliti bisa memperoleh barang bagus dengan harga lebih hemat. Kondisi tersebut menjadi nilai tambah yang sulit diabaikan.

Ia juga melihat bahwa harga pas di Jepang sebenarnya masih masuk akal untuk kualitas yang didapatkan. Karena itu, Ferry tidak keberatan membeli barang bekas selama kondisinya masih layak pakai. Ia menilai harga yang terjangkau dan kualitas yang baik dapat berjalan beriringan. Bagi dirinya, kombinasi itu menjadi alasan kuat untuk terus berburu thrift saat ke luar negeri.

Keamanan Barang Asli

Salah satu alasan utama Ferry menyukai belanja thrift di Jepang adalah aturan yang ketat terhadap barang palsu. Ia merasa lebih tenang karena produk tiruan dilarang beredar secara bebas di sana. Menurutnya, hal itu membuat konsumen lebih yakin saat membeli barang bekas. Kepercayaan terhadap keaslian produk menjadi faktor penting dalam keputusannya berbelanja.

Ferry menjelaskan, di Jepang barang palsu memang tidak mudah ditemukan karena pengawasannya sangat ketat. Ia menilai situasi tersebut berbeda dengan sejumlah tempat lain yang masih rawan peredaran barang tiruan. Karena itu, pembeli bisa lebih fokus pada kualitas dan fungsi barang. Ia menyebut rasa aman ini menjadi keuntungan besar dalam transaksi thrift.

Menurut Ferry, barang asli di Jepang memang cenderung mahal, tetapi kepastian kualitasnya membuat harga tersebut sepadan. Ia percaya, konsumen akan lebih nyaman ketika tahu barang yang dibeli bukan tiruan. Hal ini juga membuatnya tidak ragu memilih produk bekas di negara tersebut. Bagi Ferry, keyakinan terhadap keaslian barang adalah hal yang sangat penting.

Fungsi Thrift untuk Motoran

Ferry mengatakan barang yang ia beli umumnya memiliki fungsi khusus, terutama untuk kebutuhan berkendara motor. Salah satu item favoritnya adalah celana dari merek tertentu yang dinilai lebih nyaman dipakai saat motoran. Ia menyebut celana tersebut berbeda dari jeans biasa dalam hal bobot dan kenyamanan. Pertimbangan fungsional menjadi alasan utama ia memilih produk itu.

Ia menjelaskan, celana jeans biasa cenderung terasa berat ketika terkena hujan. Sebaliknya, celana dari merek yang ia pilih tidak terlalu memberatkan saat basah. Kondisi itu membuat aktivitas berkendara menjadi lebih nyaman dan praktis. Ferry menilai kebutuhan seperti ini penting untuk mendukung mobilitas sehari-hari.

Ferry menambahkan, kenyamanan saat dipakai menjadi faktor yang lebih penting dibanding sekadar tampilan. Ia lebih suka barang thrift yang dapat menunjang aktivitas tanpa mengorbankan fungsi. Karena itu, ia cermat memilih produk yang sesuai dengan kebutuhan pribadinya. Bagi Ferry, thrift bukan hanya soal belanja murah, tetapi juga soal ketepatan pilihan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!