Ferry Maryadi merayakan Idul Adha bersama keluarga dengan cara yang sederhana dan penuh makna. Ia bersama istri dan anak-anaknya melaksanakan salat Id, lalu menyembelih hewan kurban di rumah. Momen tersebut menjadi kesempatan bagi keluarga untuk kembali menguatkan nilai kebersamaan dan kepedulian.
Di Studio Arisan Trans 7, Warung Buncit, Jakarta Selatan, Jumat, Ferry menjelaskan bahwa perayaan Idul Adha dijalani seperti kebanyakan masyarakat pada umumnya. Ia menilai suasana hari raya tersebut tetap hangat meski tanpa kemeriahan berlebihan. Bagi dirinya, yang terpenting adalah menjalankan ibadah bersama keluarga.
Ferry Maryadi dan kurban
Ferry mengaku keluarga kecilnya menjalani rangkaian Idul Adha dengan tenang dan tertib. Mereka memulai hari dengan salat Id berjamaah, kemudian melanjutkan dengan penyembelihan hewan kurban. Menurutnya, kebiasaan itu membuat momen hari raya terasa lebih bermakna.
Ia menyampaikan bahwa perayaan tahun ini tidak jauh berbeda dari tahun sebelumnya. Ferry menekankan bahwa keluarganya hanya ingin bersyukur atas rezeki yang diterima. Baginya, semangat Idul Adha terletak pada keikhlasan untuk berbagi.
Suami Deswita Maharani itu juga menilai Idul Adha sebagai ajang mempererat hubungan antaranggota keluarga. Aktivitas bersama pada pagi hari membuat suasana rumah menjadi lebih hangat. Dari pengalaman itu, Ferry merasa nilai kebersamaan menjadi pelajaran penting bagi anak-anaknya.
Abay belajar berkurban
Ferry turut menceritakan perkembangan putra bungsunya, Abay, yang mulai belajar memahami makna kurban. Tahun ini, Abay disebut ikut membeli seekor kambing dengan uang tabungannya sendiri. Langkah tersebut dinilai Ferry sebagai proses belajar yang baik bagi anaknya.
Menurut Ferry, uang yang digunakan Abay berasal dari hadiah Lebaran hingga uang khitan yang disimpan. Ia mengatakan sang anak menabung dari uang jajannya sendiri secara bertahap. Hal itu membuat Abay merasa lebih bertanggung jawab terhadap keinginannya.
Ferry menambahkan bahwa dirinya sengaja mengarahkan Abay untuk memulai dari kambing terlebih dahulu. Ia ingin anaknya memahami proses berkurban secara bertahap. Dengan cara itu, Ferry berharap Abay tidak hanya tahu bentuk ibadahnya, tetapi juga makna di baliknya.
Pertanyaan anak soal kurban
Meski sudah diajak belajar, Abay disebut masih banyak bertanya tentang konsep kurban. Ferry mengatakan anaknya yang berusia 11 tahun itu belum sepenuhnya memahami aturan dan tata cara penyembelihan. Kondisi tersebut menurutnya wajar karena Abay masih berada pada usia anak-anak.
Ia menuturkan, pertanyaan Abay muncul dari rasa ingin tahu yang besar. Anak itu disebut mempertanyakan alasan hewan kurban harus dibagi, serta mengapa dirinya belum boleh ikut memotong sendiri. Ferry memandang pertanyaan itu sebagai bagian dari proses belajar yang sehat.
Ferry menilai rasa penasaran Abay justru menjadi tanda bahwa anaknya mulai memahami nilai ibadah kurban. Dengan penjelasan yang bertahap, ia berharap sang anak dapat mengerti makna berbagi kepada sesama. Proses itu disebutnya lebih penting daripada sekadar mengikuti tradisi.
Rezeki keluarga untuk sapi
Tak hanya Abay, Ferry dan Deswita juga ikut berkurban pada tahun ini. Keduanya bersyukur karena keluarga kembali diberi rezeki untuk menyembelih hewan kurban. Tahun ini, mereka bisa berkurban sapi sebagai bentuk syukur atas nikmat yang diterima.
Ferry menyebut pencapaian itu sebagai anugerah yang patut disyukuri. Ia merasa keberhasilan keluarga dalam berkurban tidak lepas dari rezeki yang terus mengalir. Karena itu, momen Idul Adha dipandang sebagai waktu untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan.
Ia menutup ceritanya dengan rasa syukur atas kesempatan menjalankan ibadah kurban bersama keluarga. Menurut Ferry, tradisi itu bukan hanya ritual tahunan, melainkan juga sarana pendidikan bagi anak-anak. Dari rumah, nilai berbagi dan kepedulian diharapkan terus tumbuh.
