Elyse Myers Ungkap Perjuangan Histerektomi di Usia Muda

Lifestyle Anindya Kirana Putri 28 Mei 2026 05:12 WIB 2
Elyse Myers Ungkap Perjuangan Histerektomi di Usia Muda

Elyse Myers, kreator konten dan ibu dua anak, mengungkap pengalaman hidup dengan nyeri kronis yang sangat mengganggu aktivitas sehari-harinya. Dalam sebuah potongan podcast yang kembali ramai pada 3 Mei, ia menceritakan bahwa kondisi rahimnya terasa seperti menyerang tubuhnya sendiri. Pernyataan itu memicu simpati luas, termasuk dari pembawa acara sekaligus atlet rugby Olimpiade, Ilona Maher. Video tersebut kemudian memantik diskusi besar di media sosial mengenai kesehatan reproduksi perempuan.

Dalam percakapan itu, Myers menjelaskan bahwa ia mengalami pendarahan hampir sepanjang tahun sebelum akhirnya menjalani operasi. Ia juga mengatakan pernah pingsan saat mengantre pemeriksaan di bandara dan sempat turun berat badan karena mual berkepanjangan. Setelah bertemu dokter yang benar-benar mendengarkan keluhannya, ia mendapat saran untuk menjalani histerektomi. Pengalaman itu, menurutnya, menjadi titik balik setelah bertahun-tahun merasa tidak dipercaya.

Kesehatan Reproduksi Myers

Myers mengaku hidupnya berubah berat sebelum operasi dilakukan. Ia menyebut mengalami pendarahan sekitar 300 hari dalam setahun, sehingga tubuhnya terus berada dalam kondisi lemah. Keluhan itu tidak hanya mengganggu rutinitas, tetapi juga memengaruhi nafsu makan dan kesehariannya. Ia mengatakan pernah kehilangan banyak tenaga karena mual yang datang hampir tanpa henti.

Selain pendarahan, Myers juga menyampaikan bahwa ia pernah pingsan saat mengantre pemeriksaan TSA di bandara. Ia menuturkan kondisi tersebut membuatnya tidak mampu menjalani aktivitas normal seperti biasanya. Menurut pengakuannya, berat badan ikut turun drastis karena ia sulit makan. Situasi itu menggambarkan betapa seriusnya dampak gangguan kesehatan reproduksi terhadap tubuhnya.

Myers menilai pengalaman terburuknya adalah ketika keluhan yang ia rasakan tidak segera divalidasi oleh tenaga medis. Ia sempat datang ke dokter berulang kali, namun merasa tidak dipercaya. Setelah akhirnya mendapatkan dokter yang mau mendengarkan, ia merasa keluhannya diakui. Bagi Myers, pengakuan itu sama pentingnya dengan tindakan medis yang kemudian dijalani.

Keputusan Histerektomi

Di usia yang masih relatif muda, Myers mengaku tidak menyangka akan mendapat saran untuk menjalani histerektomi. Namun, ia juga merasa lega karena akhirnya menemukan penanganan yang sesuai dengan kondisinya. Sebelum operasi, ia dan suaminya telah sepakat untuk tidak menambah anak lagi. Keputusan itu membuat langkah medis yang diambil terasa lebih matang bagi keluarganya.

Myers menyoroti masih banyak perempuan muda yang menghadapi penolakan ketika meminta tindakan medis terkait reproduksi. Ia mengatakan sejumlah dokter enggan melakukan prosedur tertentu hanya karena pasien dinilai terlalu muda. Menurutnya, kondisi tersebut membuat perempuan kehilangan kendali atas tubuh mereka sendiri. Ia menilai keputusan medis seharusnya mempertimbangkan kebutuhan pasien, bukan semata-mata usia.

Pandangan Myers kemudian memantik respons dari banyak perempuan yang membagikan pengalaman serupa di kolom komentar. Mereka menuliskan cerita tentang rasa sakit yang tidak dianggap serius dan proses pemeriksaan yang panjang. Bagi sebagian perempuan, pengalaman tersebut terasa akrab dan menyakitkan. Percakapan publik itu menunjukkan bahwa isu akses layanan kesehatan reproduksi masih menjadi persoalan yang belum selesai.

Respons Publik Menguat

Potongan video podcast yang diunggah ulang pada 3 Mei menjadi viral di media sosial. Banyak warganet menilai cerita Myers mewakili pengalaman perempuan yang kerap mengalami gejala berat namun sulit mendapat penanganan. Respons itu memperlihatkan besarnya kebutuhan ruang aman untuk membicarakan kesehatan reproduksi. Diskusi publik pun berkembang dari sekadar curhatan pribadi menjadi isu kesehatan yang lebih luas.

Ilona Maher, yang menjadi pembawa acara, merespons cerita Myers dengan empati. Ucapan singkatnya tentang rahim yang kadang menyulitkan perempuan langsung disambut hangat oleh audiens. Nada percakapan yang jujur membuat banyak penonton merasa dekat dengan pengalaman yang dibagikan. Hal itu juga memperkuat pesan bahwa keluhan perempuan tidak seharusnya diremehkan.

Kolom komentar kemudian dipenuhi testimoni perempuan yang mengaku pernah mengalami pendarahan, nyeri kronis, dan kesulitan mendapatkan diagnosis yang tepat. Mereka menilai cerita Myers membuka ruang diskusi yang selama ini jarang mendapat perhatian. Banyak yang berharap tenaga medis lebih peka terhadap tanda-tanda gangguan kesehatan reproduksi. Percakapan tersebut menjadi pengingat bahwa pengalaman pasien layak didengar sejak awal.

Pemulihan Setelah Operasi

Beberapa minggu setelah menjalani operasi, Myers mengatakan tubuhnya mulai menunjukkan perubahan positif. Ia menyebut jerawat yang semula mengganggu perlahan menghilang. Kualitas tidurnya juga membaik dibandingkan sebelumnya. Kondisi itu membuatnya merasa lebih ringan menjalani aktivitas harian.

Perubahan lain yang ia rasakan adalah rambutnya tidak lagi rontok seperti sebelumnya. Menurutnya, perbaikan tersebut datang setelah masa panjang hidup dengan kondisi tubuh yang tidak stabil. Ia menilai pemulihan itu sebagai bukti bahwa tubuhnya memang membutuhkan penanganan yang tepat. Pengalaman tersebut memberi harapan baru setelah sekian lama bergulat dengan rasa sakit.

Meski prosesnya tidak singkat, Myers kini merasa lebih nyaman dengan kondisi tubuhnya. Ia berharap kisahnya dapat membantu perempuan lain untuk lebih berani mencari bantuan medis. Menurutnya, rasa sakit yang terus-menerus tidak boleh dianggap normal. Cerita itu sekaligus menjadi pengingat bahwa kesehatan reproduksi perlu mendapat perhatian serius sejak dini.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!